Selasa, 31 Januari 2012

JURNAL : Kecelakaan Akibat Kerja


Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Dosen MK: Ns. Darmi Indrawaty, S.Kep. M.Kes

Jurnal Penelitian
“Kecelakaan Akibat Kerja”



 







Nama   : Syawir
NIM              : 08 071 014 036
Kelas    : B


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2011
MAKARA, KESEHATAN, VOL. 11, NO. 1, JUNI 2007: 25-31

KECELAKAAN KERJA DAN CEDERA YANG DIALAMI OLEH PEKERJA INDUSTRI DI KAWASAN INDUSTRI
PULO GADUNG JAKARTA

Woro Riyadina

Kelompok Penelitian Penyakit Tidak Menular Lainnya dan Cedera, Puslitbang Biomedis dan Farmasi, Balitbangkes, Departemen Kesehatan RI, Jakarta Pusat, Indonesia

Abstrak
Kecelakaan  kerja  khususnya  kecelakaan  di  industri  masih  tinggi  yaitu  rata-rata  17  orang  meninggal  tiap  hari  kerja. Faktor  manusia  memegang  peran  penting  timbulnya  kecelakaan  kerja.  Tujuan  penelitian  ini  adalah  menentukan  jenis kecelakaan dan cedera yang dialami oleh pekerja serta faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja di kawasan industri Pulogadung. Jenis penelitian ini adalah operasional riset (riset terapan) dengan rancangan penelitian Cross-Sectional.  Responden  adalah  950  orang  pekerja  industri  yang  berusia  15 -  55  tahun  yang  bekerja  pada  7 perusahaan di wilayah kawasan industri Pulo Gadung. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara dengankuesioner. Pekerja  industri  yang  pernah  mengalami  kecelakaan  kerja  sebanyak  29,9%  dengan  cedera sendi-pinggul-tungkaiatas  (40,2%),  kepala  (24,8%)  dan  pergelangan  tangan  (14,3%).    Luka  akibat  kerja  adalah  luka terbuka  (37,2%),  lecet  (29,6%)  dan  cedera  mata  (14,8%).  Kecelakaan  kerja  sering  terjadi  pada  jenis  industri  baja (11,2%)  yaitu  mata  kemasukan  benda  (gram)  (10%),  industri  spare  part  (8,2%)  yaitu  tertusuk  (6,1%)  dan  industri garmen (3,7%) yaitu tertusuk (43,1%). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada pekerja industri adalah  pekerja  laki-laki  dengan  OR  3,25  (95%  CI  2,29–4,62),   aktifitas  kerja  sedang    OR  2,08  (95%  CI  1,48–2,92), status distres OR 1,36 (95% CI 1,03–1,80), keluhan nyeri  OR 1,50 (95%CI 1,13–1,98), dan pemakaian APD OR 1,50 (95%  CI  1,13–1,98). Untuk  faktor  risiko  fisik  tempat  kerja  yang  berhubungan  dengan  kejadian  kecelakaan  kerja meliputi kebisingan OR 2,24 (95% CI 1,66 – 3,03), ruangan terlalu panas OR  2,19 (95%CI   1,63 – 2,93), ruang pengap OR  2,32 (95%CI 1,57–3,41), bau menyengat OR 2,01 (95%CI 1,42–2,85), ruang berdebu OR 1,87 (95%CI 1,41–2,48) dan ruang berasap OR 2,40 (95%CI   1,77–3,25).

Abstract
Occupational  Accident  and  Injury on  Industrial  Workers  in  Jakarta  Pulo Gadung  Industrial  Estate. Occupational  accidents  are  stil  high.  There  were  17 workers  death  each  workday.  Human  factor  is  main  caused  risk factor of occupational accident. The objective of study to determine type of accidents and injuries related with accident at workplace in Pulogadung Industrial Estare. The study was operational research with cross sectional design. The study conducted 950 industrial workers at seven companies in 2006. Respondents were industrial workers who were worked in Jakarta Pulogadung industrial estate. Data collected based on interview with questionnaire and analyzed with statistic analysis.  Result  showed  that  industrial  workers  have  ever  been  accident  at  workplace  29.9%  with  injury  on hinge-hip-upper  leg  (40.2%),  head  (24,8%)  and  hand  ankle  (14.3%).  Type  of  injuries  were  excoriasi    (37.2%), superficial (29.6%) and an eyes injury (14.8%). Occupational accident often occurence on steel industry (11.2%) with an  eyes  injury  (10%),    spare  part  industry  (8.2%)  with pierced (6.1%)  andi  garment  industries  (3.7%)  with  pierced (43.1%). Occupational aacident correlated with male workers OR 3.25 (95% CI 2.29–4.62), moderate level of activity OR  2.08  (95%  CI  1.48–2.92), distres  OR  1.36  (95%  CI  1.03–1.80), painful  OR  1.50  (95%CI  1.13–1.98), and  using safety tools OR 1.50 (95% CI 1.13–1.98). Physical condition correlated with occupational accident such as noisy OR 2.24 (95% CI 1.66–3.03), heat OR 2.19 (95%CI   1.63–2.93), close OR 2.32 (95%CI 1.57–3.41), extreme scent OR 2.01 (95%CI 1.42–2.85), dusty OR 1.87 (95%CI 1.41–2.48) and smoky OR 2.40 (95%CI 1.77–3.25).

Keywords: occupational, accident, injury, worker, industry

I. PENDAHULUAN
Masyarakat  pekerja  di  Indonesia  mengalami  peningkatan  terus  dari  tahun  ke  tahun.  Pada  tahun  1995 jumlah  pekerja sekitar  88,5  juta  dan  meningkat  pada  tahun  2003 pekerja  di  Indonesia  berjumlah  100.316.000 1.  Jumlah  penduduk Indonesia  tahun  2003 sebesar  216.948.400  orang,  jumlah  penduduk  usia  kerja  152.649.981 orang,  angkatan  kerja 100.316.007 orang, yang terbagi dalam beberapa lapangan usaha utama atau jenis industri utama yaitu pertanian 47,67% perdagangan 17,90% industri pengolahan 11,80%, jasa 10,98 % 2.
Kecelakaan industri adalah kejadian kecelakaan yang terjadi di tempat kerja khususnya di lingkungan industri. Menurut International  Labour  Organization  (ILO)  setiap  tahun  terjadi  1,1 juta  kematian  yang  disebabkan  oleh  penyakit  atau kecelakaan  akibat  hubungan  pekerjaan  Sekitar  300.000 kematian  terjadi  dari  250  juta  kecelakaan  dan  sisanya  adalah kematian akibat penyakit akibat hubungan pekerjaan 3. Data dari Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nasional (DK3N)  menunjukkan  bahwa  kecenderungan  kejadian  kecelakaan  kerja  meningkat  dari  tahun  ke  tahun  yaitu  82.456 kasus di tahun 1999 meningkat menjadi 98.905 kasus di tahun 2000 dan naik lagi mencapai 104.774 kasus pada tahun 2001. Dari kasus-kasus kecelakaan kerja 9,5% diantaranya (5.476 tenaga kerja) mendapat cacat permanen. Ini berarti setiap hari kerja ada 39 orang pekerja yang mendapat cacat baru atau rata-rata 17 orang meninggal karena kecelakaankerja 4.
Kecelakaan industri secara umum disebabkan oleh 2 hal pokok yaitu perilaku kerja yang  berbahay (unsafe human act) dan  kondisi  yang  berbahaya  (unsafe  condistions).  Beberapa  hasil  penelitian  menunjukkkan  bahwa  faktor  manusia memegang pernanan penting timbulnya kecelakaan kerja. Hasil penelitian menyatakan bahwa 80%-85% kecelkaan keja disebebkan oleh kelalaian atau kesalahan faktor manusia 3.
Undang-undang  Nomor  23 Tahun  1992 5  tentang  Kesehatan,  pasal  23  mengenai  kesehatan  kerja  disebutkan  bahwa upaya kesehatan kerja wajib diselenggarakan pada setiap tempat kerja, khususnya tempat kerja yang mempunyai resiko bahaya  kesehatan  yang  besar  bagi  pekerja  agar  dapat  bekerja  secara  sehat  tanpa  membahayakan  diri  sendiri  dan masyarakat  sekelilingnya,  untuk  memperoleh  produktivitas  kerja  yang  optimal,  sejalan  dengan  program  perlindungan tenaga kerja.
Tujuan penelitian ini adalah menentukan jenis kecelakaan dan cedera yang dialami oleh pekerja serta faktor risiko yang berhubungan  dengan  kejadian  kecelakaan  kerja  di  kawasan  industri  Pulogadung.  Hasil  penelitian  diharapkan  dapat membantu  memberikan  masukan  dalam  menyusun  program  faktor  risiko  kecelakaan  dan  cedera  masyarakat  pekerja, serta menentukan kebijakan kesehatan yang lebih sesuai dengan kemajuan teknologi yang ada.

II. METODE PENELITIAN
Jenis  penelitian  ini  adalah    operasional  riset  (riset  terapan)  dengan  rancangan  penelitian  Cross-Sectional.  Populasi adalah masyarakat pekerja industri dewasa laki-laki maupun perempuan yang berusia kerja (15–55 tahun) di  wilayah kawasan industri Pulo Gadung pada tahun 2006. Sampel  adalah  responden sebagai pekerja industri yang berusia 15 – 55 tahun yang  bekerja di wilayah kawasan industri Pulo Gadung. Cara  pengambilan sampel dengan Simple Random Sampling dari pekerja industri yang terpilih. Variabel yang di ukur meliputi karakteristik responden, jenis kecelakaan kerja,  jenis cedera dan kondisi lingkungan fisik  ruang pekerja. Pengumpulan data dengan metode wawancara dengan kuesioner. Analisis  data  melalui  tahapan  analisis  deskriptif  dengan  menghitung  proporsi  masing-masing  variabel  dan bivariat untuk menentukan hubungan dan menghitung besarnya risiko / OR (odd ratio).


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengumpulan  data  penelitian  telah  dilaksanakan  pada  bulan  Agustus  dan  September  2006  dan  mendapatkan  950 responden  yang  memenuhi  kriteria  responden  yang  berasal  dari  7  perusahaan  yang  masing-masing  mewakili  jenis industri di kawasan industri Pulo Gadung Jakarta Timur. Data terbagi dalam dua kelompok yaitu data hasil pemeriksaan fisik terhadap responden dan data fisik lingkungan tempat kerja.  Data responden yang terkumpul diperoleh dari hasil wawancara  berdasarkan  kuesioner.  Waktu  pengumpulan  data  dilakukan  pada  jam  kerja  dengan  sistem  bergilir  atau bergantian sehingga tidak menyebabkan gangguan produksi di masing-masing perusahaan.
Karakteristik Responden. Responden yang terpilih adalah pekerja di bagian produksi di 7 jenis industri yang secara keseluruhan  berjumlah  950  responden.    Pengambilan  sampling  responden  terpilih  untuk  masing-masing  jenis  industri dilakukan secara proporsional. Adapun perincian jumlah responden menurut jenis industri ditunjukkan dalam Tabel 1.
Berdasarkan  Tabel  1  terlihat  bahwa  industri  baja  yang  menempati  urutan  terbanyak  jumlah  respondennya  yaitu  249 orang  (26,2%)  dan  paling  sedikit  jumlah  respondennya  adalah  jenis  industri  konstruksi  yaitu  hanya  sekitar  20 orang (2,1%).  Pekerja  di  industri  konstruksi  bagian  produksi  mengalami  kesulitan  waktu  dan  tempat  dalam  praktek pengambilan datanya karena pekerja di industri tersebut mobilitasnya tinggi dan tersebar di beberapa tempat yang sulit untuk dikumpulkan untuk dilakukan pemeriksaan kesehatan.

Tabel 1. Jumlah responden dari 7 jenis industri yang ikut dalam penelitian
No.
Jenis Industri
Jumlah responden
Presentase%
1.
Garmen
132 orang
13,9
2.
Percetakan
54 orang
5,7
3.
Spare Part
206 orang
21,7
4.
Kimia
214 orang
22,5
5.
Makanan
75 orang
7,9
6.
Baja
249 orang
26,2
7.
Konstruksi
20 orang
2,1

Jumlah
950 orang
100

Tabel 2. Distribusi frekuensi karakteristik responden
Variabel N = 950
Jumlah Responden (n)
Prosentase (%)
Umur
15 – 29 tahun
30 – 39 tahun
40 – 49 tahun
≥50 tahun

2286
322
263
79

30,1
33,9
27,7
8,3
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan

647
303

68,1
29,9
Tingkat Pendidikan
Rendah (SD,SMP)
Sedang (SMU)
Tinggi (D3,PT)

273
624
53

28,7
65,7
5,6
Status Perkawinan
Belum Kawin
Kawin
Cerai

194
744
12

20,4
78,3
1,3
Suku
jawa
sunda
betawi
batak
minang
lainnya

559
143
178
19
11
36

59,1
15,1
18,8
2,0
1,2
3,7
Bekerja dengan aktivitas fisik
Ringan
Sedang

269
681

28,3
71,7

Pakai alat pelindung diri (APD)
Ya
Tidak

647
303

68,1
31,9

Responden adalah para pekerja di bagian produksi dari 7 jenis industri yang sudah bekerja minimal selama 2 tahun dan berusia kerja yaitu antar umur 15 – 55 tahun. Karakteristik responden tercantum dalam tabel 2.
Tabel 2 menunjukkan bahwa proporsi umur pekerja industri tertinggi (33,9%) berkisar antara umur 30 – 39 tahun yang diikuti oleh kelompok umur 20-29 tahun sekitar 30% dan umur 40-49 tahun sebesar 27,7%. Kelompok umur tersebut menunjukkan  usia  produktif  untuk  seluruh  jenis  industri  yang  ikut  dalam  penelitian  ini.  Pekerja  industri  mayoritas laki-laki yaitu sebanyak 647 orang (68,1%) dan tingkat pendidikan didominasi oleh pendidikan setingkat  SMU yaitu sekitar  624 (65,7%) dan status perkawinan sebagian besar sudah kawin yaitu sekitar 744 orang (78,3%).
Adapun suku dari pekerja yang diperiksa sebagian besar adalah Jawa sebanyak 559 orang (59,1%) selanjutnya diikuti oleh  suku  Betawi  178  orang  (18,8%)  dan  suku  Sunda  143 orang  (15,1%).  Sedangkan  aktifitas  fisik  selama  bekerja kebanyakan mempunyai  aktifitas fisik  sedang yaitu sekitar 71,7% dengan pembagian klasifikasi melakukan pekerjaan dengan  posisi  berdiri  selama  lebih  dari  6 jam  per  hari.  Aktifitas  fisik  selama  bekerja  merupakan  aktifitas  rutin  yang dilakukan pekerja dan dikatagorikan menjadi aktifitas ringan, sedang dan berat berdasarkan pembagian klasifikasi dari Promkes Depkes Rl.
            Adapun pekerja yang sudah patuh menggunakan APD (alat pelindung diri) saat bekerja sebanyak 68,1% sedangkan yang tidak  menggunakan  APD  ada  sebanyak  31,9%.  Sebagian  besar  alasan  tidak  memakai  APD  saat  bekerja  dikarenakan tidak  nyaman  atau  justru  merasa  mengganggu  aktifitasnya  saat  bekerja.  Hasil  penelitian  juga  menunjukkan  bahwa tingkat pengetahuan memakai APD cukup tinggi yaitu 82,3% tetapi yang mengaku selalu memakai APD hanya 41,7% 7.
Riwayat kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja adalah riwayat kecelakaan akibat kerja atau di tempat kerja yang pernah dialami oleh pekerja industri. Daerah cedera merupakan bagian tubuh yang mengalami cedera sedangkan sifat cedera adalah  jenis  luka  yang  diderita  akibat  kecelakaan.  Klasifikasi  daerah  dan  sifat  cedera  berdasarkan  ICD-10.6  Riwayat kecelakaan kerja ditunjukkan pada Tabel 3.
Pekerja industri yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 29,9%. Bagian tubuh yang mengalami cedera paling banyak adalah bagian sendi, pinggul, tungkai atas yaitu sebanyak 40,2% selanjutnya diikuti bagian kepala sekitar 24,8% dan  bagian  pergelangan  tangan  sebanyak  14,3%.  Melihat  daerah  cedera  tersebut  maka  perlu  dipertimbangkan penggunaan, kepatuhan dan ukuran menggunakan alat pelindung diri (APD) untuk   mencegah   cedera   di   bagian tubuh   tersebut.

Tabel 3. Perbedaan proporsi kecelakaan kerja menurut jenis industri

Jenis Industri

Kecelakaan kerja

p

Ya
n = 284
Tidak
n = 666
Total
N = 950
n
(%)
n
(%)
N
(%)
1. Garmen
35
3,7
97
10,2
132
13,9



0,000
2. Percetakan
13
1,4
41
4,3
54
5,7
3. Kimia Obat
22
2,3
184
19,4
206
21,7
4. Spare Part
78
8,2
136
14,3
214
22,5
5. Makanan
23
2,4
52
5,5
75
7,9
6. Baja (workshop)
106
11,2
143
15,1
249
26,2
7. Konstruksi
7
0,7
13
1,4
20
2,1


Tabel 4. Hubungan antara karakteristik pekerja industri dengan kejadian kecelakaan kerja

Karakteristik pekerja

Kecelakaan kerja

OR

95% CI

Ya
N =284
(29,9%)
Tidak
N = 666
(70,1%)
Total
N = 950
(100%)
n
(%)
n
(%)
N
(%)
Jenis Kelamin (N=950)
- Laki-laki
- Perempuan

238
46

36,81
15,2

409
257

63,2
84,8

647
303

100
100

3,25

2,29 – 4,62

Umur (N=950)
- > 40 tahun
- ≤ 40 yahun

62
222

20,43
34,4

242
424

79,6
65,6

304
646

100
100

0,46

0,33 – 0,65

Pendidikan (N=950)
- Rendah
- Tinggi

53
231

19,43
34,1

220
446

80,6
65,9

273
677

100
100

0,46

0,33 – 0,65

Pekerja dengan aktifitas fisik (N=949)
- Sedang
- Ringan


230
53


33,81
19,7


450
216


66,2
80,3


680
269


100
100


2,08


1,48 – 2,92

Status Distres (N= 950)
- Ya
- Tidak

133
151

33,72
27,2

262
404

66,3
72,8

395
555

100
100

1,36

1,03 – 1,80

Keluhan sering nyeri (N=949)
- Ya
- Tidak


170
114


33,92
25,5


332
333


66,1
74,5


502
44


100
100


1,50


1,13 – 1,98


Adapun sifat luka akibat kerja yang dialami oleh pekerja industri paling banyak adalah luka terbuka (37,2%), diikutidengan luka lecet atau superfisial (29,6%) dan cedera mata (14,8%).
Kecelakaan kerja menurut jenis industri. Adapun untuk perbedaan proporsi kejadian kecelakaan menurut jenis industri ditampilkan pada Tabel 3.
Tiga urutan terbanyak sering terjadinya kecelakaan kerja terdapat pada jenis industri baja (11,2%) industri spare part (8,2%) dan industri garmen (3,7%). Urutan jenis kecelakaan kerja terbanyak pada industri baja yaitu mata kemasukan benda (gram) (10 %) tertimpa (8%), dan terjepit (6%). Adapun untuk jenis industri spare part adalah tertusuk (6,1%), tertimpa (5,6%) dan terjepit (5,1%), sedangkan untuk jenis industri garmen yaitu tertusuk (43,1%), lainnya (9,8%) dan
terbakar dan tergores (3,9%). Melihat masing-masing jenis risiko kecelakaan di masing-masing jenis industri tersebut, maka perlu ditingkatkan kepatuhan menggunakan alat pelindung kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya dan evaluasi
terhadap APD yang sudah ada.
Hubungan antara Faktor Risiko dengan Kecelakaan Kerja. Kecelakaan terjadi disebabkan oleh tiga faktor utamayaitu manusia (host), alat (vector) dan lingkungan (environment) sesuai dengan teori Haddon (WHO, 2001) 8. Kecelakaan kerja disini adalah kecelakaan yang terjadi sebagai akibat kerja atau terjadi di tempat kerja saat bekerja di industri. Untuk lebih jelasnya tentang hubungan antara karakteristik pekerja industri dengan kejadian kecelakaan kerja ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4 memperlihatkan bahwa faktor risiko karakteristik pekerja industri yang mempunyai faktor risiko yang bermakna (p<0,05) adalah jenis kelamin dan aktifitas fisik pada saat bekerja. Pekerja laki-laki mempunyai risiko mengalami kecelakaan kerja 3,25 (CI 95%: 2,29 – 4,62) kali dibandingkan dengan pekerja perempuan. Hal ini dikarenakan pekerja laki-laki menempati mayoritas pekerja di bagian produksi di jenis industri berat atau menggunakan alat-alat yang besar dan berbahaya. Sedangkan pekerja dengan aktifitas fisik katagori sedang selama bekerja berisiko 2,08 kali (95% CI: 1,48 – 2,92) mengalami kecelakaan kerja dibandingkan pekerja dengan aktifitas ringan. Hal ini disebabkan pekerja dengan aktifitas sedang akan lebih cepat mengalami kelelahan secara fisik dibandingkan dengan aktifitas ringan sehingga bisa mengurangi stamina dan konsentrasi pekerja.
Kondisi fisik dan psikis pekerja berhubungan dengan kejadian kecelakaan. Pekerja industri yang mengalami distres mempunyai risiko mengalami kecelakaan kerja 1,36 kali (95% CI: 1,03 – 1,80) dibandingkan dengan pekerja yang sehatsecara psikis. Sedangkan pekerja yang mempunyai keluhan sering nyeri juga berisiko 1,5 kali (95% CI: 1,13 – 1,98) mengalami celaka dibandingkan dengan yang tidak mempunyai keluhan nyeri. Keadaan tersebut menjelaskan bahwa pekerja yang mempunyai kondisi baik fisik maupun psikis yang tidak sehat leboh berisiko tinggi untuk mengalami kecelakaan kerja.
Pekerja di bagian produksi di suatu jenis industri diwajibkan menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) sebagai alat untuk pelindung kerja disesuiakan dnegan jenis pekerjaannya. Hubungan pemakaian APD dengan kejadian kecelakaan kerja digambarkan pada Tabel 5.
Kecelakaan kerja pada pekerja industri ternyata justru terjadi pada pekerja yang mengunakan APD saat terjadi kecelakaan. Pekerja yang menggunakan APD berisiko 2,20 kali (95% CI: 1,59 – 3,05) mengalami kecelakaan kerja dibandingkan dengan pekerja yang tidak memakai APD. Beberapa kasus menunjukkan bahwa menggunakan sarung tangan justru membuat pekerja tidak merasa nyaman atau mengganggu aktifitas kerja sehingga justru membahayakan.
Untuk itu perlu dilakukan kajian tentang APD disesuaikan dengan jenis pekerjaan sehingga APD tersebut benar-benar bisa melindungi.
Lingkungan kerja merupakan salah satu faktor penting untuk ikut berperan dalam kejadian kecelakaan kerja. Hubungan antara kondisi lingkungan dengan kejadian kecelakaan kerja dijelaskan pada Tabel 6.
Tabel 6 menunjukkan bahwa kondisi tempat kerja berhubungan bermakna (p<0,05) dengan kejadian kecelakaan kerja. Ruang kerja yang berisiko celaka mempunyai potensi risiko 4,07 kali ( 95% CI: 2,95 – 5,63) dibandingkan dengan ruang tidak berisiko. Beberapa kondisi fisik ruang kerja yang mempunyai risiko tinggi kecelakaan kerja adalah berasap dengan risiko 2,4 (95%: 1,77 – 3,25), pengap 2,32 (95%: 1,57 – 3,41) dan bising 2,24 (95%: 1,66 – 3,03). Kondisi ruang kerja yang seperti itu dapat menyebabkan gangguan fisik atau psikis terhadap pekerja sehingga berisiko terjadi kecelakaan kerja.

Tabel 5. Hubungan antara pemakaian APD dengan kejadian kecelakaan kerja

Pemakaian APD
N = 950

Kecelakaan kerja

OR

95% CI

Ya
N =284
(29,9%)
Tidak
N = 666
(70,1%)
Total
N = 950
(100%)
n
(%)
n
(%)
N
(%)
Pakai APD
􀂷 Ya
􀂷 Tidak


225
59


34,81
9,5


422
244


65,2
80,5


647
303


100
100


1,50

1,13 – 1,98


Tabel 6. Hubungan antara kondisi tempat kerja dengan kejadian kecelakaan kerja

Karakteristik pekerja

Kecelakaan kerja

OR

95% CI

Ya
N =284
(29,9%)
Tidak
N = 666
(70,1%)
Total
N = 950
(100%)
n
(%)
n
(%)
N
(%)
Ruang kerja berisiko celaka (N=949)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak


224
60


41,3
14,7


318
347


58,7
85,3


542
407


100
100


4,07


2,95 – 5,63

Ruang Bising (N=945)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak

203
79

36,4
20,4

354
309

63,6
79,6

557
388

100
100

2,24

1,66 – 3,03

Ruang terlalu panas (N=949)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak


123
161


41,7
24,6


172
493


58,3
75,4


295
654


100
100


2,19


1,63 – 2,93

Ruang pengap (N=949 )
􀂷 Ya
􀂷 Tidak

57
227

46,7
27,4

65
600

53,3
72,6

122
827

100
100

2,32

1,57 – 3,41

Bau menyengat
(N= 949)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak


70
214


42,9
27,2


93
572


57,1
72,8


163
786


100
100


2,01


1,42 – 2,85

Ruang berdebu (N=949)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak

168
116

36,7
23,6

290
375

63,3
76,4

458
491

100
100

1,87

1,41 – 2,48

Ruang berasap (N=949)
􀂷 Ya
􀂷 Tidak

109
175

44,3
24,9

137
528

55,7
75,1

246
703

100
100

2,40

1,77 – 3,25















KESIMPULAN

Karakteristik pekerja industri adalah berumur antara 20 – 39 tahun (33,9%), laki-laki (68,1%), berpendidikan SMU (65,7%), status kawin (78,3%), suku Jawa (59,1%), aktifitas kerja sedang (71,7%) dan tidak memakai APD (31,9%).
Pekerja industri yang pernah mengalami kecelakaan kerja sebanyak 29,9% dengan cedera sendi-pinggul-tungkaiatas (40,2%), kepala (24,8%) dan pergelangan tangan (14,3%). Luka akibat kerja adalah luka terbuka (37,2%), lecet atau superfisial (29,6%) dan cedera mata (14,8). Kecelakaan kerja sering terjadi pada jenis industri baja (11,2%) yaitu mata kemasukan benda (gram) (10%), industri spare part (8,2%) yaitu tertusuk (6,1%) dan industri garmen (3,7%) yaitu tertusuk (43,1%).
Faktor-faktor yang berhubungan dengan kecelakaan kerja pada pekerja industri adalah pekerja laki-laki dengan OR 3,25 (95% CI 2,29–4,62), aktifitas kerja sedang OR 2,08 (95% CI 1,48–2,92), status distres OR 1,36 (95% CI 1,03–1,80), keluhan nyeri OR 1,50 (95%CI 1,13– 1,98), dan pemakaian APD OR 1,50 (95% CI 1,13–1,98). Untuk factor risiko fisik tempat kerja yang berhubungan dengan kejadian kecelakaan kerja meliputi kebisingan OR 2,24 (95% CI 1,66 – 3,03), ruangan terlalu panas OR 2,19 (95%CI 1,63 – 2,93), ruang pengap OR 2,32 (95%CI 1,57–3,41), bau menyengat OR 2,01 (95%CI 1,42–2,85), ruang berdebu OR 1,87 (95%CI 1,41–2,48) dan ruang berasap OR 2,40 (95%CI 1,77–3,25).
Kejadian kecelakaan dan cedera akibat kecelakaan kerja masih sering terjadi maka perlu ditingkatkan kepatuhan pemakaian APD saat bekerja dan melengkapi serta menyempurnakan APD agar nyaman dipakai. Upaya untuk menurunkan angka kejadian kecelakaan akibat kerja dengan cara pengendalikan faktor risiko melalui model intervensi yang tepat dan sesuai masing-masing jenis industri.



UCAPAN TERIMA KASIH
Penelitian ini terlaksana atas bantuan dan partisipasi dari berbagai pihak. Untuk itu pada kesempakatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada: Direktur, Manager Personalia beserta jajarannya di 7 perusahaan di kawasan industri Pulo Gadung yaitu PT. Bina Busana Internusa, PT. Metropos, PT Kimia Farma, PT Morita Tjokro Gearindo, PT. Cadbury, PT Sanggar Sarana Baja dan PT Jaya Konstruksi Manggala., Balai Teknik Kesehatan Lingkungan semua pihak yang membantu kelancaran pelaksanaan penelitian ini.























DAFTAR PUSTAKA

1.    Badan Pusat Statistik. Data Proyeksi Angkatan Kerja Indonesia. 2003.
2.    Badan Pusat Statistik. Pekerja di Indonesia berdasarkan jenis lapangan pekerjaan. 2002.
3.    Pusat Kesehatan Kerja. Kecelakaan di Industri. Puskesja, Depkes RI. 2002.
4.    Dewan Keselamatan dan Kesehatan Kerja nasional (DK3N). Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3): Jangan sampai global compact beraksi. Warta ekonomi.com. 2002.
5.    Depkes. Undang-undang Kesehatan RI pasal 23 tentang Kesehatan Kerja. Jakarta.1992.
6.    WHO. International Statistical Classification of Diseases and Health Related Problems (The) ICD-10. Second Edition. English. 2005.
7.    Trihandoyo,B. Pelaksanaan program keselamatan dan kesehatan kerja pada sektor industri dalam kaitannya dengan produktivitas kerja di kawasan industri, Kabupaten Serang. Pusat Penelitian dan Pengembangan Pelayanan Keseahatan dan Teknologi, Balitbangkes Depkes RI. 2001.
8.    Holder, Peden M, Krug E (Eds). Injury Surveillance Guidelines. World Health Organization. Geneva. 2001.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar