Minggu, 23 Januari 2011

Komunikasi Keperawatan: Komunikasi Dengan Anak

BAB I
PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
            Dalam tindakan keperawatan faktor komunikasi yang baik antara perawat dengan kliennya sangat mempengaruhi keberhasilan tindakan keperawatan. Komunikasi merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan diri kita dengan klien. Tetapi untuk mewujudkan komunikasi yang baik dengan klien tidaklah mudah, apalagi dengan klien anak.
            Melalui komunikasi akan terjalin rasa percaya, rasa kasih sayang, dan selanjutnya anak akan memiliki suatu penghargaan pada dirinya. Dalam tinjauan ilmu keperawatan anak, anak merupakan seseorang membutuhkan suatu perhatian dan kasih sayang, sebagai kebutuhan khusus anak yang dapat dipenuhi dengan cara komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal yang dapat menumbuhkan kepercayaan pada anak sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai. Tetapi, dalam mencapai tujuan komunikasi yang baik ini tidaklah mudah, misalnya saja anak yang belum bisa bercerita. Kadang kala dalam komunikasi dengan anak, seorang perawat dalam tindakan keperawatannya dapat membuat/menyebabkan anak menjadi menangis, marah, dan lain sebagainya yang bisa membuat hati dan pikiran si klie (anak) menjadi tidak enak. Maka dari itu, kami terdorong untuk membuat makalah yang membahas tentang teknik komunikasi dengan anak.

I. 2. Permasalahan
            Permasalahan yang timbul adalah bagaimana cara berkomunikasi dengan klien anak sehingga tercapai saling percaya antara perawat dengan klien (anak) ?

I. 3. Tujuan
            Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian komunikasi pada anak
2. Mengetahui komponen dalam komunikasi pada anak
3. Mengetahui sikap dalam komunikasi pada anak
4. Mengetahui sikap dalam komunikasi terapeutik pada anak
5. Mengetahui komunikasi dengan anak berdasarkan usia tumbuh kembang
6. Mengetahui cara komunikasi dengan anak
7. Mengatahui cara komunikasi dengan orang tua anak
8. Mengetahui tahapan dalam komunikasi dengan anak
9. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi dengan anak
10. Mengetahui implikasi komunikasi dalam keperawatan.

I. 4. Manfaat
            Dengan mengatahui hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana cara melakukan komunikasi yang baik dengan klien (anak), maka diharapkan kepada perawat di dalam melakukan tindakan keperawatan kepada klien (anak) dapat menjalin hubungan komunikasi yang baik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

            Komunikasi pada anak merupakan bagian penting dalam membangun kepercayaan diri kiita dengan anak. Melalui komunikasi akan terjalin rasa percaya, rasa kasih sayang, dan selanjutnya anak akan merasa memiliki suatu penghargaan pada dirinya. Banyak ahli komunikasi memberikan pengertian tentang komunikasi seperti komunikasi merupak pengiriman atau tukar menukar informasi, ide atau lainnya yang dapat memberikan suatu pengetahuan tentang ide atau informasi yang disampaikan. Melalui pengertian tersebut terdapat istilah pertukaran informasi yang berarti dalam komunikasi melibatkan lebih dari satu orang dalam menyampaikan onformasi, atau ide yang ada. Kemudian dalam praktik keperawatan istilah komunikasi sering digunakan pada aspek pemberian terapi pada klien, sehingga istilah komunikasi banyak dikaitkan dengan istilah terapeutik atau dikenal dengan nama komunikasi terapeutik yang menurut Stuart dan Sundeen tahun 1987 merupakan suatu cara untuk membina hubungan yang terapeutik yang diperlukan untuk pertukaran informasi dan perasaan, yang dapat mempengaruhi perilaku orang lain, mengingat keberhasilan tindakan keperawatan tergantung kepada proses komunikasi.
            Sedangkan secara umum komunikasi anak merupakan proses pertukaran informasi yang disampaikan oleh anak kepada orang lain dengan harapan orang yang diajak dalam pertukaran informasi tersebut mampu memenuhi kebutuhannya. Dalam tinjauan ilmu keperawatan anak, anak merupakan seseorang yang membutuhkan suatu perhatian dan kasih sayang, sebagai kebutuhan khusus anak yang dapat dipenuhi dengan cara komunikasi baik secara verbal maupun nonverbal yang dapat menumbuhkan kepercayaan pada anak sehingga tujuan komunikasi dapat tercapai.

II. 1. Komponen dalam Komunikasi
            Komunikasi dapat terjadi bila prosesnya dapat berjalan dengan baik. Proses komunikasi yang dimaksud di sini adlah pengirim pesan, penerus pesan, pesan itu sendiri, media dan umpan balik. Proses tersebut merupakan suatu komponen dalam komunikasi yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan, di antara komponen dalam komunikasi adalah sebagai berikut:
a. Pengirim Pesan
            Pengirim pesan di sini adalah dapat individu dalam hal ini adalah anak, keluarga atau kelompok yang melaksanakan komunikasi baik dengan individu (anak) ataupun kelompok lain. Pengirim pesn dapat juga tempat berasalnya sumber pesan yang dikomunikasikan. Pengirim pesan di sini adalah seseorang atau sumber pesan yang memberikan informasi atau ide yang disampaikan. Pada praktik keperawatan pengiriman pesn komunikasi dapat terjadi antara anak dengan perawat, dokter atau petugas kesehatan lainnya serta orang tua.
b. Penerima Pesan
            Penerima pesan merupakan orang yng menerima berita atau lambing dapat berupa klien (anak), keluarga tau masyarakat. Penerima pesan dalm praktik keperawatan anak adalah anak itu sendiri dan juga bisa orang tua, mengigat dalam keperawatn anak orang tua itu termasuk salah satu komponen dalam pemberian asuhan keperawatan dan terlibat secara langsung.
c. Pesan
            Pesan merupakan berita yang disampaikan oleh pengirim pesan melalui lambing pembicara, gerakan ataupun sikap. Pesan ini dapat berupa berbagai informasi tentang masalah kesehatan anak atau informasi-informasi yang membantu kepercayaan diri anak.

d. Media
            Media merupakan tempat berlakuna lambing saluran yang dapat meliputi suara dan lambangitu sendiri. Media dalam komunikasi pada anak ini sangat beragam seperti suara, atau beberapa hal yang dapat memudahkan dalam penerimaan pesan khususnya pada anak sperti berupa gambar atau permainan secara konkret dan menarik bagi anak.
e. Umpan Balik
            Umpan balik merupakan bagian prose komunikasi yang dapat digunakan sebagai alat pencapaian pesan/informasi yang telah disampaikan. Komponen ini merupakan evaluasi tercapainya informasi yang disampaikan pada anak, mengingat dalam komunikasi dengan anak sering menemukan kesulitan dalam proses umpan balik karena anak merasa ketakutan atau adanya dampak dari hospitalisasi.

II.2. Sikap dalam Komunikasi
            Sikap dalam komunikasi merupakan salah satu unsur penting dalam membangun efektivitas dari proses komunikasi, dengan sikap yang baik proses komunikasi dapat berjalan sesuai dengan sasaran dan tujuan yang ada. Menurut Egan tahun 1995 dikutip Kozier dan Erb tahun 1983 menyampaikan sikap komunikasi merupakan sesuatu apa yang harus dilakukan dalam komunikasi baik secara verbal maupun non verbal yang dapat meliputu:
a. Sikap Berhadapan
            Berhadapan merupakan bentuk sikap di mana seseorang langsung bertatap muka atau berhadapan langsung dengan anak (sesorang yang diajak komunikasi), sikap ini mempunyai arti bahwa komunikator siap untuk berkomunikasi.

b. Sikap Mempertahankan Kontak
            Mempertahankan kontak mata merupakan kegiatan yang bertujuan menghargai klien  dan mengatakan adanya keinginan untuk tetap berkomunikasi dengan cara selalu memperhatikan apa yang diinformasikan atau disampaikan dengan tidak melakukan kegiatan yang dapat mengalihkan perhatian dengan lainny .
c. Sikap Membunkuk Kearah Pasien
            Sikap ini merupakan bentuk sikap dengan memberikan posisi yang menunjukkan keinginan utuk mengatakan atau mendengar sesuatu dengan cara membungkuk sedikit kearah pasien. Cara ini dilakukan menjaga komunikasi berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
d. Sikap Terbuka
            Sikap ini merupakan bentuk sikap dengan memberikan posisi kaki tidak melipat, tangan tidak menunjukkan keterbukaan untuk berkomunikasi yang dilakukan selama dalam proses komunikasi, sehingga proses keterbukaan diri dalam komunikasi dapat dilaksanakan.
e. Sikap Tetap Relaks
            Sikap tetap relaks merupakan sikap yang menunjukkan adanya keseimbangan antara ketegangan dan relaksasi dalam member respons pada klien selama komunikasi. Sikap ini sangat diperlukan sehingga saling memberikan berbagai informasi yang diharapkan tanpa adanya sebuah paksaan.
            Selain bebrapa sikap yang ada masih ada beberapa sikap non verbal selama komunikasi yang juga masuk dalam kategori sikap, seperti: 1). Gerakan mata, gerakan mata ini digunakan dalam memberikan perhatian. Gerakan mata merupakan cara interaksi yang tepat, mengingat proses pendidikan dan sosialisasi anak dapat terwujud pada kontak mata. 2). Ekspresi muka, sikap ini termasuk bahasa nonverbal yang banyak dipengaruhi oleh budaya. Percaya atau tidak dapat dinilai keadaan ekspresi muka secara tidak disadari. 3). Sentuhan, merupakn cara interaksi yang mendasar karena dengan sentuhan dapat memperhatikan perasaan menerima dan menghargai. Ikatan kasih sayang ditentukan oleh pendengaran atau suara. Sentuhan merupakan elemen penting dalam pembentukan ego, perasaan dan kemandirian.
            Pada komunikasi dengan anak sentuhan merupakan alat yang sangat penting karena sebagai alat komunkasi dalam memperlihatkan kehangatan, kasih sayang, yang pada kemudian hari (dewasa) dapat mengembangkannnya.
  
II. 3. Sikap Komunikasi Terapeutik
            Sikap komunikasi terapeutik merupakan cara berperilaku seseorang selama dalam komunikasi yang dapat memberikan dampak terapi psikologis, sehingga masalah-masalah psikologis anak dapat teratasi. Dalam praktik keperawatan sikap komunikasi terapeutik itu terdiri dari:
a. Sikap Kesejatian
            Sikap kesejatian merupakan sikapdalam pengiriman pesan pada anak menunjukkan tentang gambaran diri kita sebenarnya, sikap yang dimaksud antara lain menghidari membuka diri yang terlalu dini sampai dengan klien (anak) menunjukkan kesiapan untuk berespons positif terhadap keterbukaan, sikap kepercayaan yang digunakan untuk menumbuhkan rasa percaya kita dengan anak dan harus lebih terbuka, sikap menghindari mebuka diri terlalu dini dalam rangka manipulasi, sikap dengan memberikan nasihat atau mempengaruhi klien (anak) untuk mendapatkan apa yang menjadi tujuan kita dalam komunikasi.
b. Sikap Empati
            Sikap empati merupakan bentuk sikap dengan cara menempatkan diri kita pada posisi anak dan orang tua. Sikap empati ini dapat ditunjukkan dengan mendengarkan apa yang disampaikan oleh komunikan dengan maksud dimengerti, mengatakan pada diri komunikan bahwa kita ingin mendengar apa darinya, menyampaikan respons empati seperti keakuratan, kehangatan, dan menunjukkan empati secara verbal.
c. Sikap Hormat
            Sikap hormat merupakan sikap yag menunjukkan adanya suatu kepedulian/perhatian, rasa suka dan menghargai klien. Sikap hormat dalam komunikasi ini dapat ditunjukkan dengan melihat kearah klien saat berkomunikasi, memberikan perhatian yang tidak terbagi dalam komunikasi, memelihara kontak mata dalam komunikasi, senyum pada saat yang tepat, bergerak kearah klien saat komunikasi, menetukan sapaan saat komunikasi, menentukan sapaan saat komunikasi, melakukan jabatan tangan atau sentuhan yang lembut dengan izin komunikan.
d. Sikap Konkret
            Sikap konkret merupakan bentuk sikap dengan menggunakan terminology yang spesifik dan bukan abstrak pada saat komunikasi dengan klien. Sikap konkret dapat ditunjukkan dengan menggunakan sesuatu yang nyata seperti menunjukkan pada hal yang nyata, melalui orang ketiga dalam hal ini adalah orang tua dan dapat menggunakan alat bantu seperti gambar, mainan, dan lain-lain.

II. 4. Komunikasi dengan Anak Berdasarkan Usia Tumbuh Kembang
a. Usia Bayi ( 0 – 1 tahun )
            Komunikasi pada bayi yang umumnya dapat dilakukan adalah dengan melalui gerakan-gerakan bayi, gerakan tersebut sebagai alat komunikasi yang efektif, di samping itu komunikasi pada bayi dapat dilakukan secara nonverbal. Perkembangan komunikasi pada bayi dapat dimulai dengan kemampuan bayi untuk melihat sesuatu yang menarik, ketika bayi digerakkan maka bayi akan berespons untuk membuat suara-suara yang dikeluarkan oleh bayi. Perkembangan komunikasi  pada bayi tersebut dapat dimulai pada usia minggu ke delapan di mana bayi sudah mampu melihat objek atau cahaya, kemudian pada minggu kedua belas bayi sudah mulai melakukan tersenyum. Pada usia minggu ke enam belas bayi sudah mulai menolehkan kepada suara yang asing bagi dirinya. Pada pertengahan tahun pertama bayi sudah mulai mengucapkan kata-kata awal seperti ba-ba, da-da, dan lain-lain dan pada bulan kedua puluh bayi sudah bereaksi terhadap panggilan terhadap namanya, mampu melihat beberapa gambar yang terdapat dalam buku, pada akhir tahun pertama sudah mampu melakukan kata-kata yang spesifik antara dua atau tiga kata.
b. Usia Todler ( 1 – 2,5 tahun ) dan Prasekolah ( 2,5 – 5 tahun )
            Perkembangan komunikasi pada usia ini dapat ditunjukkan dengan perkembangan bahasa anak dengan kemampuan anak sudah mampu memahami kurang lebih sepuluh kata, pada tahun kedua sudah mampu 200 – 300 kata dan masih terdengar kata-kata ulangan.
            Pada anak usia ini khususnya usia 3 tahun anak sudah mampu menguasai 900 kata  dan banyak kata-kata yang digunakan seperti mengapa, apa, kapan dan sebagainya. Komunikasi pada usia tersebut sifatnya sangat egosentris, rasa ingin tahunya sangat tinggi, inisiatifnya tinggi, kemampuan bahasa mulai meningkat, mudah merasa kecewa dan rasa bersalah karena tuntutan tinggi, setiap komunikasi harus berpusat pada dirinya, takut terhadap ketidak tahuan dan perlu diingat bahwa pada usia ini anak masih belum fasih dalam berbicara.
            Pada usia ini cara komunikasi yang dapat dilakukan adalah dengan memberi tahu apa yang terjadi pada dirinya, memberi kesempatan pada mereka untuk menyentuh alat pemeriksaan yang akan digunakan, menggunakan nada suara, bicara lambat, jika tidak dijawab harus diulangi lebih jelas dengan pengarahan yang sedrehana, hindarkan sikap mendesak untuk dijawab seperti kata-kata “jawab dong”, mengalihkan aktivitas saat komunikasi, memberikan mainan saat komunikasi dengan maksud anak mudah diajak komunikasi, menagtur jarak interaksi dimana kita harus menghindari konfrontasi langsung, duduk yang terlalu dekat dan berhadapan. Secara non verbal kita selalumemberi doronganak mencetakan penerimaan dan persetujuan jika diperlukan, jangan sentuh anak tanpa disetujui dari anak, salaman dengan anak merupakan cara untuk menghilangkan perasaan cemas, menggambar, menulis,  atau bercerita, dalam menggali perasaan dan fikiran anak disaat melakukan komunikasi.
c. Usia Sekolah ( 5 – 11 tahun )
            Perkembangan komunikasi pada anak usia ini dapat dimulai dengan kemampuan  anak mencetak, menggambar, membuat huruf atau tulisan yang besar dan apa yang dilaksanakan oleh anak mencerminkan pikiran anak dan kemampuan anak membaca di sini sudah dapat dimulai, pada usia kedelapan anak sudah mampu membaca dan sudah mulai berfikir terhadap kehidupan.
            Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia sekolah ini adalah tetap masih memperhatikan tingkat kemampuan bahasa anak yaitu gunakan kata sederhana yang spesifik, jelaskan sesuatu yang membuat ketidakjelasan pada anak atau sesuatu yang tidak diketahui, pada usia ini keingin tahuan pada aspek fungsional dan prosedural dari objek tertentu sangat tinggi maka jelaskan arti fungsi dan prosedurnya, maksud dan tujuan dari sesuatu yang ditanyakan secara jelas dan jangan menyakiti atau mengancam sebab ini akan membuat anak tidak mampu berkomunikasi secara efektif.
d. Usia Remaja ( 11 – 18 tahun )
            Perkembangan komunikasi pada usia remaja ini ditunjukkan dengan kemampuan berdiskusi atau berdebat dan sudah mulai berfikir secara konseptual, sudah mulai menunjukkan perasaan malu, pada anak usia ini sering kali merenung kehidupan tentang masa depan yang direfleksikan dalam komunikasi. Pada usia ini pola pikir sudah mulai menunjukkan kearah yang lebih positif, terjadi konseptualisasi mengingat masa ini adalah masa ini adalah masa peralihan anak menjadi dewasa.
            Komunikasi yang dapat dilakukan pada usia ini adalah berdiskusi atau curah pendapat pada teman sebaya, hindari beberapa pertanyaan yang dapat menimbulkan rasa malu dan jaga kerahasiaan dalam komunikasi mengingat awal terwujudnya kepercayaan anak dan merupakan masa transisi dalam bersikap dewasa.

II. 5. Cara Komunikasi dengan Anak
            komunikasi dengan anak merupakan sesuatu yang penting dalam menjaga hubungan denagan anak, melalui komunikasi ini pula perawat dapat memudahkan mengambil berbagai data yang terdapat pada diri anak yang selanjutnya digunakan dalam penentuan masalah keperawatan atau tindakan keperawatan. beberapa cara yang dapat digunakan dalam berkomunikasi dengan anak, antara lain:
1. Melalui Orang Lain atau Pihak Ketiga
            Cara berkomunikasi ini pertama dilakukan oleh anak dalam menumbuhkan kepercayaan diri anak, dengan menghindari secara langsung berkomunikasi dengan melibatkan orang tua secara langsung yang sedang berada di samping. Selain itu dapat digunakan dengan mengomentari tentang mainan, baju yang sedang dipakainya serta lainnya, dengan catatan tidak langsung pada pokok pembicaraan.
2. Bercerita
            Melalui cara ini pesan yang akan disampaikan kepada anak dapat mudah diterima, mengingat anak sangat suka sekali dengan cerita, tetapi cerita yang disampaikan hendaknya sesuai dengan pesan yang akan disampaikan, yang dapat diekspresikan melalui tulisan maupun gambar.
3. Menfasilitasi
            menfasilitasi anak adalah bagian cara berkomunikasi, melalui ini ekspresi anak atau respon anak terhadap pesan dapat diterima. Dalam menfasilitasi kita harus mampu mengekspresikan perasaan dan tidak boleh dominan, tetapi anak harus diberikan respon terhadap pesan yang disampaikan melalui mendengarkan dengan penuh perhatian dan jangan merefleksikan ungkapan negatif yang menunjukkan kesan yang jelek pada anak.
4. Biblioterapi
            Melalui pemberian buku atau majalah dapat digunakan untuk mengekspresikan perasaan, dengan menceritakan isi buku atau majalah yang sesuai dengan pesan yang akan disampaikan kepada anak.
5. Meminta untuk Menyebutkan Keinginan
            Ungkapan ini penting dalam berkomunikasi dengan anak, dengan meminta anak untuk menyebutkan keinginan dapat diketahui berbagai keluhan yang didapatkan, dan keinginan tersebut dapat menunjukkan perasaan dan pikiran saat itu.
6. Pilihan Pro dan Kontra
            Penggunaan teknik komunikasi ini sangat penting dalam menentukan atau mengetahui perasaan dan pikiran anak, dengan mengajukan pada situasi yang menunjukkan pilihan yang positif dan negatif sesuai dengan pendapat anak.
7. Penggunaan Skala
            Penggunaan skala atau peringkat ini digunakan dalam mengungkapkan perasaan sakit pada anak seperti penggunaan perasaan nyeri, cemas, sedih dan lain-lain, dengan menganjurkan anak untuk mengekspresikan perasaan sakitnya.
8. Menulis
            Melalui ini anak akan dapat mengekspresikan dirinya baik pada keadaan sedih, marah atau lainnya dan biasanya banyak dilakukan pada anak yang jengkel, marah dan diam. Cara ini dapat dilakukan apabila anak sudah memiliki kemampuan untuk menulis.

9. Menggambar
            Seperti halnya menulis, menggambarpun juga dapat digunakan untuk mengungkapkan ekspresinya, perasaan jengkel marah biasanya dapat diungkapkan melalui gambar dan anak akan mengungkapkannya apabila gambar yang ditulisnya ditanya tentang maksudnya.
10. Bermain
              Bermain alat efektif pada anak dalam membantu berkomunikasi, melalui ini hubungan interpersonal antara anak, perawat dan orang disekitarnya dapat terjalin, dan pesan-pesan dapat disampaikan.

II. 6. Cara Komunikasi dengan Orang Tua Anak
            Komunikasi dengan orang tua adalah salah satu hal yang penting dalam perawatan anak, mengingat pemberian asuhan keperawatan pada anak selalu melibatkan peran orang tua yang memiliki peranan penting dalam mempertahankan komunikasi dengan anak.
            untuk mendapatkan informasi tentang anak sering kita mengobservasi secara langsung atau berkomunikasi dengan orang tua. Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan dalam komunikasi dengan orang tua diantaranya:
a. Anjurkan Orang Tua untuk Berbicara
            Kita dalam melakukan komunikasi dengan orang tua, jangan hanya peran kita sebagai pemberi informasi saja akan tetapi bagaimana kita merspons atau mengajak agar orang tua yang kita ajak komunikasi mampu untuk memberikan suatu pesan atau informasi yang dimiliki, kemampuan inilah yang seharusnya kita kembangkan sehingga komunikasi agar berjalan terus dan efektif serta tujuan yang kita inginkan dalam komunikasi dapat tercapai.
b. Arahkan ke Fokus
            Dalam melakukan komunikasi dengan orang tua anak arahkan pokok pembicaraan kita ke fokus sambil memberi kesempatan pada orang tua untuk mengekspresikan perasaannya secara bebas sehingga tujuan komunikasi dapat mencapai sasaran. Mengarahkan ke fokus itu salah satu bagian dalam mencapai komunikasi yang efektif.
c. mendengarkan
            Mendengarkan adalah kunci untuk mencapai komunikasi yang efektif, kemampuan mendengarkan dapat ditunjukkan dengan ekspresi yang sungguh-sungguh saat berkomunikasi dengan tujuan untuk mengerti klien. Selain itu dengan mendengarkan kita akan mendapatkan seluruh informasi yang didapatkan sehingga tidak ada yang hilang atau tertinggal informasi yang akan disampaikan.
d. Diam
            Diam adalah cara yang dapat digunakan dalam komunikasi dengan diam sebentar dapat memberikan kesempatan kepada seseorang yang kita ajak komunikasi untuk memberikan kebebasan dalam mengekspresikan perasaannya dan memberikan kesempatan berpikir terhadap sesuatu yang hendak disampaikan.
e. Empati
            Cara ini dilakukan dengan mencoba merasakan apa yang dirasakn oleh orang tua anak, dengan demikian orang tua anak akan merasa aman dan diperhatikan. Cara komunikasi ini juga sangat terkait dengan sikap saat komunikasi.
f. Meyakinkan Kembali
            Meyakinkan kembali merupakan cara yang dapat diberikan agar proses dan hasil komunikasi dapat diterima pada klien hal ini adalah orang tua. Pada dasarnya semua orang tua ingin menjadi orang tua terbaik, tetapi pada saat anak sakit dapat terjadi kecemasan tentang peran dan fungsinya, maka yakinkan kembali akan peran dan fungsinya sebagai orang tua.
g. Merumuskan Kembali
            Dalam mencapai tujuan pemecahan masalah kita dan orang tua anak harus sepakat terhadap masalah yang muncul kadang-kadang pada rang tua, dengan merumuskan kembali beberapa permasalahan dan cara pemecahan bersama akan memberikan dampak dalam mengurangi kecemasan atau kekhawatiran.
h. Memberi Petunjuk Kemungkinan Apa yang Terjadi
            Melalui komunikasi beberapa petunjuk tentang kemungkinan masalah apa yang terjadi dapat diinformasikan terlebih dahulu untuk mengantisipasi tentang kemungkinan hal yang terjadi sehingga orang tua tahu dan siap bila masalah itu muncul.
i. Menghindari Hambatan dalam Komunikasi
            Menghindari hambatan dalam komunikasi seperti melakukan komunikasi secara asertif dengan orang tua merupakan salah satu cara efektif dalam komunikasi, karena hambatan selama komunikasi akan memberiakn dampak tidak berjalannya suatu proses komunikasi seperti terlalu banyak memberi saran, cepat mengambil keputusan, megubah pokok pembicaraan, membatasi pertanyaan atau terlalu banyak memberikan pertanyaan tertutup dan menyela pembicaraan sebelum pembicaraan selesai.

II. 7. Tahapan dalam Komunikasi dengan Anak
            Dalam melakukan komunikasi pada anak terdapat beberapa tahap yang harus dilakukan sebelum mengadakan komunikasi secara langsung, tahapan ini sangat meliputi tahap awal ( pra interaksi ), tahap perkenalan atau orientasi, tahap kerja dan tahap terakhir yaitu tahap terminasi.
a. Tahap Prainteraksi
            Pada tahap pra interaksi ini yang harus kita lakukan adalah mengumpulkan data tentang klien dengan mempelajari status atau bertanya kepada orang tua tentang masalah atau latar belakang yang ada, mengeksplorasi perasaan, proses ini akan mengurangi kekurangan dalam saat komunikasi dengan cara mengeksplorasikan perasaan apa yang ada pada dirinya, membuat rencana pertemuan dengan klien, proses ini ditunjukkan dengan kapan komunikasi akan dilakukan, dimana dan rencana apa yang dikomunikasikan serta target dan sasaran yang ada.
b. Tahap Perkenalan atau Orientasi
            Tahap ini yang dapat kita lakukan adalah memberikan salam dan senyum pada klien, melakukan validasi (kognitif, psikomotorik, afektif), mencari kebenaran data yang ada dengan wawancara, mengobservasi atau pemeriksaan ang lain, memperkenalkan nama kita denga tujuan agar selalu ada yang memperhatikan terhadap kebutuhannnya, menanyakan nama panggilan kesukaan klien karena akan mempermudah dalam berkomunikasi dan lebih dekat, menjelaskan tanggung jawab perawat dan klien, menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan, menjelaskan tujuan, menjelaskan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan dan menjelaskan kerahasiaan.
c. Tahap Kerja
            Pada tahap ini kegiatan yang dapat kia lakukan adalah memberi kesempatan pada klien untuk bertanya, karena akan memberitahu tentang hal-hal yang kurangdimengerti dalam komunikasi, menanyakan keluhan utama, memulai kegiatan dengan cara yang baik dan melakukan kegiatan sesuai dengan rencana.
d. Tahap Terminasi
            Pada tahap terminasi dalam komunikasi ini kegiatan yang dapat kita lakukan adalah menyimpulkan hasil wawancara meliputi evaluasi proses dan hasil, memberikan re-inforcement positif, merencanakan tindak lanjut dengan klien, melakukan kontrak (waktu, tempat, dan topik) dan mengakhiri wawancara dengan cara yang baik.

II. 8. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Komunikasi dengan Anak
            Dalam proses komunikasi kemungkinan ada hambatan selama komunikasi, karena selama proses komunikasi melibatkan beberapa komponen dalam komunikasi dan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya:
a. Pendidikan
            Pendidikan merupakan penuntun manusia untuk berbuat dan mengisi kehidupannya yang dapat digunakan untuk mendapatkan informasi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Sebagaimana umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang makin mudah menerima informasi dan makin bagus pengatahuan yang dimiliki sehingga penggunaan komunikasi dapat secara efektif akan dapat dilakukannya. Dalam komunikasi dengan anak atau orang tua juga perlu diperhatikan tingkat pendidikan khususnya orang tua karena berbagai informasi akan mudah diterima jika bahasa yang disampaikan sesuai dengan tingkat pendidikan yang dimilikinya.
b. Pengetahuan
            Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan seseorang terhadap objek tertentu untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan. Faktor pengetahuan dalam proses komunikasi dapat diperlihatkan apabila seseorang pengetahuan cukup, maka informasi yang disampaikan akannjelas dan mudah diterima oleh penerima kan tetapi apabila pengetahuan kurang maka akan menghasilkan informasi yang kurang.

c. Sikap
            Sikap dalam komunikasi dapat mempengaruhi proses kemungkinan berjalan efektif atau tidak, hal tersebut dapat ditunjukkan seseorang yang memiliki sikap kurang baik akan menyebabkan pendengar kurang percaya terhadap komunikator, demikian sebaliknya apabila dalam komunikasi menunjukkan  sikap yang baik maka dapat menunjukkan kepercayaan dari penerima pesan atau informasi. Sikap yang diharapkan dalam komunikasi tersebut seperti terbuka, percaya, empati, menghargai dan lain-lain, kesemuanya dapat mendukung berhasilnya komunikasi terapeutik.
d. Usia Tumbuh Kembang
            Faktor usia ini dapat mempengaruhi proses komunikasi, hal ini dapat ditunjukkan semakin tinggi usia perkembangan anak kemampuan dalam komunikasi semakin kompleks dan sempurna yang dapat dilihat perkembangan bahasa anak.
e. Status Kesehatan Anak
            Status kesehatan sakit dapat berpengaruh dalam komunikasi, hal ini dapat diperlihatkan ketiak anak sakit atau mengalami gangguan psikologis maka cenderung anak kurang komunikatif atau sangat pasif, dengan demikian dalam komunikasi membutuhkan kesiapan secara fisik dan psikologis untuk mencapai komunikasi yang efektif.
f. Sistem Sosial
            Sistem sosial yang dimaksud di sini adalah budaya yang ada di masyarakat, di mana setiap daerah memiliki budaya atau cara komunikasi yang berbeda. Hal  tersebut dapat juga mempengaruhi proses komunikasi seperti orang Batak engan orang Madura ketika berkomunikasi dengan bahasa komunikasi yang berbeda dan sama-sama tidak memahami bahasa daerah maka akan merasa kesulitan untuk mencapai tujuan dan komunikasi.

g. Saluran
            Saluran ini merupakan faktor luar yang berpengaruh dalam proses komunikasi seperti intonasi suara, sikap tubuh dan sebagainya semuanya akna dapat memberikan pengaruh dalam proses komunikasi, sebagai contoh apabila kita berkomunikasi dengan orang yang memiliki suara atau intonasi jelas maka sangat mudah kita menerima informasi ataupun pesan yang disampaikan. Demukian sebaliknya apabila kita berkomunikasi dengan orang yang memiliki suara  yang tidak jelas kita akan kesulitan menerimapesan atau informasi yang disampaikan.
h. Lingkungan
            Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar area, lingkungan dalam hal komunikasi yang dimaksud di sini dapat berupa situasi, ataupun lokasi yang ada. Lingkungan yang baik atau tenang akan memberikan dampak berhasilnya tujuan komunikasi sedangkan lingkungan yang kurang baik akan memberikan dampak yang kurang. Hal ini dapat kita contohkan apabila kita berkomunikasi dengan anak pada tempat yang gaduh misalnya atau tempat yang bising, maka proses komunikasi tidak akan bisa berjalan dengan baik, kemungkina sulit kita berkomunikasi secara efektif karena suara yang tidak jelas, sehingga pesan yang akan disampaikan sulit diterima oleh anak.

II. 9. Implikasi Komunikasi dalam Keperawatan
            Implikasi komunikasi dalam keperawatan sangat penting bagi perawat mengingat berbagai pengkajian atau pemeriksaan pada klien dapat dilakukan melalui komunikasi di antaranya implikasi yang dapat dilakukan adalah:
1.      Ajak berbicara lebih dahulu dengan orang tua sebelum berkomunikasi dengan anak atau mengkaji anak dengan menjalin hubungan dalam tindakan keperawatan.
2.      Lakukan kontak dengan anak dengan mengawali bercerita atau teknik lain agar anak mau berkomunikasi
3.      Berikan maianan sebelum masuk ke dalam pembicaraan inti.
4.      Berikan kesempatan pada anak untuk memilih tempat pemeriksaan yang diinginkan sambil duduk, berdiri atau tidur.
5.      Lakukan pemeriksaan dari sederhana ke kompleks, pemeriksaan yang berdampak trauma lakukan diakhir pemeriksaan.
6.      Hindari pemeriksaan yang menimbulkan ketakutan pada anak dan beri kesempatan untuk memegang alat periksa
 
BAB III
PENUTUP

III. 1. Kesimpulan
Komunikasi anak merupakan proses pertukaran informasi yang disampaikan oleh anak kepada orang lain dengan harapan orang yang diajak dalam pertukaran informasi tersebut mampu memenuhi kebutuhannya. Terjadinya komunikasi yang baik antara perawat dan klien (anak)  menentukan keberhasilan tindakan keperawatan. Komunikasi dengan anak berbeda didasarkan pada usia tumbuh kembang anak. Selain melakukan komunikasi dengan klien (anak) perawat juga harus menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua anak. Komunikasi antara perawat dengan klien (anak) tidak lepas dari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi komunikasi tersebut.

III. 2. Saran
            Kepada dosen mata kuliah Komunikasi Keperawatan diharapkan agar memberikan waktu yang cukup kepada mahsiswa/i untuk mengerjakan tugas.
 
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Pengantar Ilmu Keperawatan anak 1. Salemba Medika: Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar