Sabtu, 02 April 2011

Askep Anak : Atrial Septal Defect (ASD)


BAB I
PENDAHULUAN
I. 1. Latar Belakang
Atrium Septal Defect (ASD) adalah penyakit jantung bawaan berupa lubang (defek) pada septum interatrial (sekat antar serambi) yang terjadi karena kegagalan fungsi septum interatrial semasa janin. Penyakit jantung bawaan ini menempati urutan kedua penyakit jantung bawaan pada anak setelah Ventrikel Septal Defect (VSD). Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat.
I. 2. Permasalahan
            Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuuhan keperawatan  ini adalah bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan pada kasus Atrial Septal Defect (ASD)?
I. 3. Tujuan
            Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah:
A.    Tujuan Umum
Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Keperawatan Anak I.
B.     Tujuan Khusus
1.      Memperoleh gambaran mengenai Atrial Septal Defect (ASD).
2.      Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan Atrium Septal Defect (ASD).

I. 4. Manfaat
            Manfaat dari penyusunan asuhan keperawatan ini, yaitu:
A.    Kegunaan Ilmiah
1.      Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
2.      Sebagai salah satu tugas akademik
B.     Kegunaan Praktis
Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Atrium Septal Defect (ASD).
BAB II
KONSEP MEDIS
II. 1. Pengertian
http://1.bp.blogspot.com/_qhZffv8gqnI/SeXxb0qiO_I/AAAAAAAAASk/6AxsqFKHvfM/s320/Atrial+Septal+Defect+ASD.jpg            Atrial Septal Defect adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan atrium kanan dan atrium kiri. Kelainan jantung bawaan yang memerlukan pembedahan jantung terbuka adalah defek sekat atrium. Defek sekat atrium adalah hubungan langsung antara serambi jantung kanan dan kiri melalui sekatnya karena kegagalan pembentukan sekat.






Dibedakan dalam 3 bentuk anatomis, yaitu:
a.       Defek Sinus Venosus Defek ini terletak di bagian superior dan posterior sekat, sangat dekat dengan vena kava superior. Juga dekat dengan salah satu muara vena pulmonalis.
b.      Defek Sekat Sekundum  Defek ini terletak di tengah sekat atrium. Defek ini juga terletak pada foramen ovale.
c.       Defek Sekat Primum  Defek ini terletak dibagian bawah sekat primum, dibagian bawah hanya di batasi oleh sekat ventrikel, dan terjadi karena gagal pertumbuhan sekat primum. Defek sekat primum dikenal dengan ASD I,  Defek sinus Venosus dan defek sekat sekundum dikenal dengan ASD II.
II. 2. Etiologi
Penyebabnya belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian ASD.
Faktor-faktor tersebut diantaranya :
a.       Faktor Prenatal
1)      Ibu menderita infeksi Rubella
2)      Ibu alkoholisme
3)      Umur ibu lebih dari 40 tahun
4)      Ibu menderita IDDM
5)      Ibu meminum obat-obatan penenang atau jamu
b.      Faktor genetic
1)      Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
2)      Ayah atau ibu menderita PJB
3)      Kelainan kromosom misalnya Sindroma Down
4)      Lahir dengan kelainan bawaan lain.
II. 3. Patofisiologi
            Pada kasus Atrial Septal Defect yang tidak ada komplikasi, darah yang mengandung oksigen dari Atrium Kiri mengalir ke Atrium Kanan tetapi tidak sebaliknya. Aliran yang melalui defek tersebut merupakan suatu proses akibat ukuran dan complain dari atrium tersebut. Normalnya setelah bayi lahir complain ventrikel kanan menjadi lebih besar daripada ventrikel kiri yang menyebabkan ketebalan dinding ventrikel kanan berkurang. Hal ini juga berakibatvolume serta ukuran atrium kanan dan ventrikel kanan meningkat. Jika complain ventrikel kanan terus menurun akibat beban yang terus meningkat shunt dari kiri kekanan bisa berkurang. Pada suatu saat sindroma Eisenmenger bisa terjadi akibat penyakit vaskuler paru yang terus bertambah berat. Arah shunt pun bisa berubah menjadi dari kanan kekiri sehingga sirkulasi darah sistemik banyak mengandung darah yang rendah oksigen akibatnya terjadi hipoksemi dan sianosis.
            Darah artenal dari atrium kiri dapat masuk ke atrium kanan melalui defek sekat ini. Aliran ini tidak deras karena perbedaan tekanan pada atrium kiri dan kanan tidak begitu besar (tekanan pada atrium kiri 6 mmHg sedang pada atrium kanan 5 mmHg).
Adanya aliran darah menyebabkan penambahan beben pada ventrikel kanan, arteri pulmonalis, kapiler paru-paru dan atrium kiri. Bila shunt besar, maka volume darah yang melalui arteri pulmonalis dapat 3-5 kali dari darah yang melalui aorta.
Dengan bertambahnya volume aliran darah pada ventrikel kanan dan arteri pulmonalis. Maka tekanan pada alat–alat tersebut naik., dengan adanya kenaikan tekanan, maka tahanan katup arteri pulmonalis naik, sehingga adanya perbedaan tekanan sekitar 15 -25 mmHg. Akibat adanya perbedaan tekanan ini, timbul suatu bising sistolik ( jadi bising sistolik pada ASD merupakan bising dari stenosis relative katup pulmonal ).
Juga pada valvula trikuspidalis ada perbedaan tekanan, sehingga disini juga terjadistenosis relative katup trikuspidalis sehingga terdengar bising diastolic.
Karena adanya penambahan beban yang terus menerus pada arteri pulmonalis, maka lama kelamaan akan terjadi kenaikan tahanan pada arteri pulmunalis dan akibatnya akan terjadi kenaikan tekanan ventrikel kanan yang permanen. Tapi kejadian ini pada ASD terjadinya sangat lambat ASD I sebagian sama dengan ASD II. Hanya bila ada defek pada katup mitral atau katup trikuspidal, sehingga darah dari ventrikel kiri atau ventrikel kanan mengalir kembali ke atrium kiri dan atrium kanan pada waktu systole. Keadaan ini tidak pernah terjadi pada ASD II.

II. 4. Manifestasi Klinik
Sebagian besar penderita ASD tidak menampakkan gejala (asimptomatik) pada masa kecilnya, kecuali pada ASD besar yang dapat menyebabkan kondisi gagal jantung di tahun pertama kehidupan pada sekitar 5% penderita. Kejadian gagal jantung meningkat pada dekade ke-4 dan ke-5, dengan disertai adanya gangguan aktivitas listrik jantung (aritmia).
Gejala yang muncul pada masa bayi dan kanak-kanak adalah adanya infeksi saluran nafas bagian bawah berulang, yang ditandai dengan keluhan batuk dan panas hilang timbul (tanpa pilek). Selain itu gejala gagal jantung (pada ASD besar) dapat berupa sesak napas, kesulitan menyusu, gagal tumbuh kembang pada bayi atau cepat capai saat aktivitas fisik pada anak yang lebih besar. Selanjutnya dengan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang seperti elektro-kardiografi (EKG), rontgent dada dan echo-cardiografi, diagnosis ASD dapat ditegakkan.
Gejalanya bisa berupa:
1)      Sering mengalami infeksi saluran pernafasan
2)      Dispneu (kesulitan dalam bernafas)
3)      Sesak nafas ketika melakukan aktivitas
4)      Jantung berdebar-debar (palpitasi)
5)      Pada kelainan yang sifatnya ringan sampai sedang, mungkin sama sekali tidak ditemukan gejala atau gejalanya baru timbul pada usia pertengahan
6)      Aritmia.
II. 5. Pemeriksaan Diagnostik
  1. Foto Ronsen Dada  
Pada defek kecil gambaran foto dada masih dalam batas normal. Bila defek bermakna mungkin tampak kardiomegali akibat pembesaran jantung kanan. Pembesaran ventrikel ini lebih nyata terlihat pada foto lateral.
  1. Elektrokardiografi  
Pada ASD I, gambaran EKG sangat karakterstik dan patognomis, yaitu sumbu jantung frontal selalu kekiri. Sedangkan pada ASD II jarang sekali dengan sumbu Frontal kekiri.
  1. Katerisasi Jantung  
Katerisasi jantung dilakukan defek intra pad ekodiograf tidak jelas terlihat atau bila terdapat hipertensi pulmonal pada katerisasi jantung terdapat peningkatan saturasi O2 di atrium kanan dengan peningkatan ringan tekanan ventrikel kanan dan kiri bil terjadi penyakit vaskuler paru tekanan arteri pulmonalis, sangat meningkat sehingga perlu dilakukan tes dengan pemberian O2 100% untuk menilai resensibilitas vasakuler paru pada Syndrome ersen menger saturasi O2 di atrium kiri menurun.
  1. Eko kardiogram  
Ekokardiogram memperlihatkan dilatasi ventrikel kanan dan septum interventrikular yang bergerak paradoks. Ekokardiogrfi dua dimensi dapat memperlihatkan lokasi dan besarnya defect interatrial pandangan subsifoid yang paling terpercaya prolaps katup netral dan regurgitasi sering tampak pada defect septum atrium yang besar.
  1. Radiologi
Tanda – tanda penting pad foto radiologi thoraks ialah:
Ø  Corak pembuluh darah bertambah
Ø  Ventrikel kanan dan atrium kanan membesar
Ø  Batang arteri pulmonalis membesar sehingga pada hilus tampak denyutan ( pada fluoroskopi) dan disebut sebagai hilam dance.

II. 6. Penetalaksanaan
            Operasi harus segera dilakukan bila:
  • Jantung sangat membesar
  • Dyspnoe d’effort yang berat atau sering ada serangan bronchitis.
  • Kenaikan tekanan pada arteri pulmonalis.
Bila pada anak masih dapat dikelola dengan digitalis, biasanya operasi ditunggu sampai anak mencapai umur sekitar 3 tahun.
  • Opersi pada ASD I tanpa masalah katup mitral atau trikuspidal mortalitasnya rendah, operasi dilakukan pada masa bayi.
  • ASD I disertai celah katup mitral dan trikuspidal operasi paling baik dilakukan umur antara 3-4 tahun.
  • Apabila ditemukan tanda – tanda hipertensi pulmonal, operasi dapat dilakukan pada masa bayi untuk mencgah terjadinya penyakit vaskuler pulmonal.
  • Terapi dengan digoksin, furosemid dengan atau tanpa sipironolakton dengan pemantauan elektrolit berkala masih merupakan terapi standar gagal jantung pada bayi dan anak.
PENGOBATAN
Menutup ASD pada masa kanak-kanak bisa mencegah terjadinya kelainan yang serius di kemudian hari. Jika gejalanya ringan atau tidak ada gejala, tidak perlu dilakukan pengobatan. Jika lubangnya besar atau terdapat gejala, dilakukan pembedahan untuk menutup ASD.
Pengobatan pencegahan dengan antibiotik sebaiknya diberikan setiap kali sebelum penderita menjalani tindakan pencabutan gigi untuk mengurangi resiko terjadinya endokarditis infektif.

TERAPI
Seluruh penderita dengan ASD harus menjalani tindakan penutupan pada defek tersebut, karena ASD tidak dapat menutup secara spontan, dan bila tidak ditutup akan menimbulkan berbagai penyulit di masa dewasa. Namun kapan terapi dan tindakan perlu dilakukan sangat tergantung pada besar kecilnya aliran darah (pirau) dan ada tidaknya gagal jantung kongestif, peningkatan tekanan pembuluh darah paru (hipertensi pulmonal) serta penyulit lain.
TERAPI INTERVENSI NON BEDAH
ASO adalah alat khusus yang dibuat untuk menutup ASD tipe sekundum secara non bedah yang dipasang melalui kateter secara perkutaneus lewat pembuluh darah di lipat paha (arteri femoralis). Alat ini terdiri dari 2 buah cakram yang dihubungkan dengan pinggang pendek dan terbuat dari anyaman kawat Nitinol yang dapat teregang menyesuaikan diri dengan ukuran ASD. Di dalamnya ada patch dan benang polyester yang dapat merangsang trombosis sehingga lubang/komunikasi antara atrium kiri dan kanan akan tertutup sempurna.
Kriteria penderita ASD yang akan dilakukan pemasangan ASO:
a.       ASD sekundum
b.      Diameter kurang atau sama dengan 34 mm
c.       Flow ratio lebih atau sama dengan 1,5 atau terdapat tanda-tanda beban volume pada ventrikel kanan
d.      Mempunyai rim minimal 5 mm dari sinus koronarius, katup atrio-ventrikular, katup aorta dan vena pulmonalis kanan
e.       Defek tunggal dan tanpa kelainan jantung lainnya yang memerlukan intervensi bedah
f.       Muara vena pulmonalis normal ke atrium kiri
g.      Hipertensi pulmonal dengan resistensi vaskuler paru (Pulmonary Artery Resistance Index = PARi) kurang dari 7 - 8 U.m2
h.      Bila ada gagal jantung, fungsi ventrikel (EF) harus lebih dari 30%.
II. 7. Komplikasi
            Komplikasi yang sering timbul pada pasien dengan atrial septal defect, yaitu:
a.       Gagal Jantung
b.      Penyakit pembuluh darah paru
c.       Endokarditis
d.      Aritmia.
BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
III. 1. Pengkajian
a.       Lakukan pemeriksaan fisik dengan pemeriksaan yang mendetail terhadap jantung.
b.      Lakukan pengukuran tanda-tanda vital.
c.       Kaji tampilan umum, perilaku, dan fungsi:
- Inspeksi :
1)      Status nutrisi – Gagal tumbuh atau penambahan berat badan yang buruk berhubungan dengan penyakit jantung.
2)      Warna – Sianosis adalah gambaran umum dari penyakit jantung kongenital, sedangkan pucat berhubungan dengan anemia, yang sering menyertai penyakit jantung.
3)      Deformitas dada – Pembesaran jantung terkadang mengubah konfigurasi dada.
4)      Pulsasi tidak umum – Terkadang terjadi pulsasi yang dapat dilihat.
5)      Ekskursi pernapasan – Pernapasan mudah atau sulit (mis; takipnea, dispnea, adanya dengkur ekspirasi).
6)      Jari tabuh – Berhubungan dengan beberapa type penyakit jantung kongenital.
7)      Perilaku – Memilih posisi lutut dada atau berjongkok merupakan ciri khas dari beberapa jenis penyakit jantung.
- Palpasi dan perkusi :
1)      Dada – Membantu melihat perbedaan antara ukuran jantung dan karakteristik lain (seperti thrill-vibrilasi yang dirasakan pemeriksa saat mampalpasi).
2)      Abdomen – Hepatomegali dan/atau splenomegali mungkin terlihat.
3)      Nadi perifer – Frekwensi, keteraturan, dan amplitudo (kekuatan) dapat menunjukkan ketidaksesuaian.
- Auskultasi
1)      Jantung – Mendeteksi adanya murmur jantung.
2)      Frekwensi dan irama jantung – Menunjukkan deviasi bunyi dan intensitas jantung yang membantu melokalisasi defek jantung.
3)      Paru-paru – Menunjukkan ronki kering kasar, mengi.
4)      Tekanan darah – Penyimpangan terjadi dibeberapa kondisi jantung (mis; ketidaksesuaian antara ekstremitas atas dan bawah)
5)      Bantu dengan prosedur diagnostik dan pengujian – mis; ekg, radiografi, ekokardiografi, fluoroskopi, ultrasonografi, angiografi, analisis darah (jumlah darah, haemoglobin, volume sel darah, gas darah), kateterisasi jantung.
a. Bayi:
1)      Sianosis umum, khususnya membrane mukosa, bibir dan lidah, konjungtiva, area vaskularisasi tinggi.
2)      Dispnea, khususnya setelah kerja pfisik seperti makan, menangis, mengejan.
3)      Keletihan
4)      Pertumbuhan dan perkembangan buruk (gagal tumbuh)
5)      Serimg mengalami infeksi saluran pernafasan
6)      Kesulitan makan
7)      Hipotania
8)      Keringat berlebihan
9)      Serangan sinkop seperti Hiperpnea Paroksismal. Serangan anoksia.
b. Anak yang lebih besar
1)      Kerusakan pertumbuhan
2)      Pembangunan tubuh lemah , sulit
3)      Keletihan
4)      Dispnea pad aktivitas
5)       Ortopnea
6)      Jari tubuh
7)      Berjongkok untuk menghilangkan diispnea.
8)      Sakit kepala
9)      Epistaksis
10)  Keletihan kaki.
III. 2. Diagnosa
            Diagnosa keperawatan dari atrial septal defect (ASD), yaitu:
a.       Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen.
c.       Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan serta isolasi sosial.
d.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
e.       Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi.
f.       Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD).
III. 3. Intervensi
a.       Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
Tujuan:            Klien akan menunjukkan perbaikan curah jantung.
Intervensi:
1)      Beri digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.
2)      Beri obat penurun afterload sesuai program.
3)      Beri diuretik sesuai program.

b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen.
Tujuan:            Klien mempertahankan tingkat energi yang adekuat tanpa stress tambahan.
Intervensi:
1)      Berikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.
2)      Anjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.
3)      Bantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
4)      Hindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.
5)      Implementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.
6)      Berespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.

c.       Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan serta isolasi sosial.
Tujuan:            Pasien mengikuti kurva pertumbuhan berat badan dan tinggi badan.
Anak mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang sesuai dengan usia.
            Intervensi:
1)      Beri diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
2)      Pantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.
3)      Dapat memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.
4)      Dorong aktivitas yang sesuai usia.
5)      Tekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.
6)      Izinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.


d.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
Tujuan:            Klien tidak menunjukkan bukti-bukti infeksi.
Intervensi:
1)      Hindari kontak dengan individu yang terinfeksi.
2)      Beri istirahat yang adekuat.
3)      Beri nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.

e.       Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi.
Tujuan:            Klien/keluarga mengenali tanda-tanda komplikasi secara dini.
Intervensi:
1)      Ajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi :
Ø  Gagal jantung kongestif :
·         Takikardi, khususnya selama istirahat dan aktivitas ringan.
·         Takipnea
·         Keringat banyak di kulit kepala, khususnya pada bayi.
·         Keletihan
·         Penambahan berat badan yang tiba-tiba.
·         Distress pernapasan
Ø  Toksisitas digoksin
·         Muntah (tanda paling dini)
·         Mual
·         Anoreksia
·          Bradikardi.
Ø  Disritmia
Ø  Peningkatan upaya pernapasan – retraksi, mengorok, batuk, sianosis.
Ø  Hipoksemia – sianosis, gelisah.
Ø  Kolaps kardiovaskular – pucat, sianosis, hipotonia.
2)      Ajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik.
Ø  Tempatkan anak pada posisi lutut-dada dengan kepala dan dada ditinggikan.
Ø  Tetap tenang.
Ø  Beri oksigen 100% dengan masker wajah bila ada.
Ø  Hubungi praktisi
3)      Jelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.
4)      Siapkan anak dan orang tua untuk prosedur.
5)      Bantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.
6)      Gali perasaan mengenai pilihan pembedahan.

f.       Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD).
Tujuan:              Klien/keluarga mengalami penurunan rasa takut dan ansietas.
Klien menunjukkan perilaku koping yang positif.
            Intervensi:
1)      Diskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
2)      Dorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
3)      Dorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
4)      Bantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.
III. 4. Implementasi
a.       Risiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan defek struktur.
Implementasi:
1)      Memberi digoksin sesuai program, dengan menggunakan kewaspadaan yang dibuat untuk mencegah toxisitas.
2)      Memberi obat penurun afterload sesuai program.
3)      Memberi diuretik sesuai program.
b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan gangguan sistem transport oksigen.
Implementasi:
1)      Memberikan periode istirahat yang sering dan periode tidur tanpa gangguan.
2)      Menganjurkan permainan dan aktivitas yang tenang.
3)      Membantu anak memilih aktivitas yang sesuai dengan usia, kondisi, dan kemampuan.
4)      Menghindari suhu lingkungan yang ekstrem karena hipertermia atau hipotermia meningkatkan kebutuhan oksigen.
5)      Mengimplementasikan tindakan untuk menurunkan ansietas.
6)      Merespons dengan segera terhadap tangisan atau ekspresi lain dari distress.
c.       Perubahan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ketidakadekuatan oksigen dan nutrien pada jaringan serta isolasi sosial.
            Implementasi:
1)      Memberi diet tinggi nutrisi yang seimbang untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
2)      Memantau tinggi dan berat badan; gambarkan pada grafik pertumbuhan untuk menentukan kecenderungan pertumbuhan.
3)      Memberikan suplemen besi untuk mengatasi anemia, bila dianjurkan.
4)      Mendorong aktivitas yang sesuai usia.
5)      Menekankan bahwa anak mempunyai kebutuhan yang sama terhadap sosialisasi seperti anak yang lain.
6)      Mengizinkan anak untuk menata ruangnya sendiri dan batasan aktivitas karena anak akan beristirahat bila lelah.
d.      Risiko tinggi infeksi berhubungan dengan status fisik yang lemah.
Implementasi:
1)      Menghindari kontak dengan individu yang terinfeksi.
2)      Memberi istirahat yang adekuat.
3)      Memberi nutrisi optimal untuk mendukung pertahanan tubuh alami.
e.       Risiko tinggi cedera (komplikasi) berhubungan dengan kondisi jantung dan terapi.
Implementasi:
1)      Mengajari keluarga untuk mengenali tanda-tanda komplikasi.
2)      Mengajari keluarga untuk melakukan intervensi selama serangan hipersianotik.
3)      Menjelaskan atau klarifikasi informasi yang diberikan oleh praktisi dan ahli bedah pada keluarga.
4)      Menyiapkan anak dan orang tua untuk prosedur.
5)      membantu membuat keputusan keluarga berkaitan dengan pembedahan.
6)      Menggali perasaan mengenai pilihan pembedahan.
f.       Perubahan proses keluarga berhubungan dengan mempunyai anak dengan penyakit jantung (ASD).
            Implementasi:
1)      Mengdiskusikan dengan orang tua dan anak (bila tepat) tentang ketakutan mereka dan masalah defek jantung dan gejala fisiknya pada anak karena hal ini sering menyebabkan ansietas/rasa takut.
2)      Mendorong keluarga untuk berpartisipasi dalam perawatan anak selama hospitalisasi untuk memudahkan koping yang lebih baik di rumah.
3)      Mendorong keluarga untuk memasukkan orang lain dalam perawatan anak untuk mencegah kelelahan pada diri mereka sendiri.
4)      Membantu keluarga dalam menentukan aktivitas fisik dan metode disiplin yang tepat untuk anak.
III. 5. Evaluasi
Proses : langsung setalah setiap tindakan
Hasil : tujuan yang diharapkan
1.      Tanda-tanda vital anak berada dalam batas normal sesuai dengan usia.
2.      Anak berpartisipasi dalam aktivitas fisik yang sesuai dengan usia.
3.      Anak bebas dari komplikasi pascabedah
V
DAFTAR PUSTAKA
Betz, Cecily Lynn and Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri. EGC: Jakarta.
Hidayat, Aziz Alimul. 2006. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak Buku 2. Salemba Medika: Jakarta
Ngastiyah, 2005. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. EGC: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar