Sabtu, 02 April 2011

Metodologi Riset : Desain Metodologi Observasional Analitik


DESAIN METODOLOGI OBSERVASIONAL ANALITIK
            Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam melakukan prosedur penelitian. Desain penelitian yang umumnya digunakan dibidang keperawatan adalah rancangan penelitian observasional.
            Rancangan pebnelitian observasional analitik, terdiri dari:
A.    Rancangan penelitian cross sectional
B.     Rancangan penelitian case control
C.     Rancangan penelitian kohort
A. Rancangan Penelitian Cross Sectional
            Rancangan cross sectional merupakan rancangan penelitian yang pengukuran dan pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat (sekali waktu). Rancangan penelitian ini juga biasa disebut rancangan potong silang atau lintas bagian. Cross sectional adalah studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi, maupun hubungan penyakit dengan paparan (factor penelitian) dengan cara mengamati status paparan, penyakit, atau karakteristik terkait kesehatan lainnya, secara serentak pada individu-individu dri suatu populasi pada satu saat. Desain cross sectional merupakan suatu penelitian dimana variabel-variabel yang termasuk faktor risiko dan variabel-variabel yang termasuk efek diobservasi sekaligus pada waktu yang sama. Studi cross sectional disebut sebagai studi prevalensi atau survey, merupakan studi yang sederhana yang sering dilakukan.
            Dalam sebuah desain cross-sectional, adalah sulit untuk menemukan apakah variabel paparan potensial mendahului keluaran (contohnya, perbedaan postur kerja berkonstribusi pada pengembangan sakit tulang belakang) atau apakah variabel paparan potensial eksis sebagai sebuah hasil dari keluaran (contohnya, pekerja yang berbeda dalam postur sebagai adaptasi dari sakit tulang belakang yang diderita). Oleh karena itu, studi cross-sectional sangat berguna untuk mengidentifikasi hubungan paparan-penyakit yang potensial namun tidak untuk menentukan kausalitas.
Penelitian lintas-bagian (cross sectional) relatif lebih mudah dan murah untuk dikerjakan oleh peneliti dan amat berguna bagi penemuan pemapar yang terikat erat pada karakteristik masing-masing individu. Data yang berasal dari penelitian ini bermanfaat untuk: menaksir besarnya kebutuhan di bidang pelayanan kesehatan dan populasi tersebut. instrumen yang sering digunakan untuk memperoleh data dilakukan melalui: survei, wawancara, dan isian kuesioner.
Contoh judul penelitian cross sectional adalah  “Kualitas menyusui terhadap kelancaran pengeluaran air susu ibu”. Peneliti melakukan pengukuran atau pengamatan terhadap kualitas menyusui, ketiganya diukur secara bersamaan dengan kelancaran pengeluaran ASI setelah melihat variabel yang termasuk dalam kualitas menyusui tersebut.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian cross sectional:
Contoh judul penelitian: “Hubungan Kualitas Menyusui dengan Kelancaran Pengeluaran ASI”
1.      Mengidentifikasi variabel penelitian
Berdasarkan judul tersebut, maka variabel yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
Variabel Independen  : kualitas menyusui
Variabel dependen      : kelancaran pengeluaran ASI
Variabel kendali          : usia, paritas
Kemudian ditentukan batasan parameter yang jelas tentang kualitas menyusui dan kelancaran pengeluaran ASI.
2.      Mengidentifikasi subjek penelitian
Contoh: Subjek penelitian adalah populasi ibu menyusui dengan jumlah sampel yang telah ditentukan sesuai dengan teknik sampling.
3.      Mengobservasi variabel
Contoh: Mengukur kualitas menyusui dengan parameter yang digunakan adalah cara dan frekuensinya termasuk dalam kualitas baik atau kurang. Pengukuran kelancaran pengeluaran ASI dilakukan dengan mengamati tingkat kelancaran pengeluaran ASI-nya termasuk baik atau tidak, lalu keduanya diamati dan diukur.
4.      Melakukan analisis data
Contoh: Melakukan pengujian apakah kualitas menyusui termasuk kategori baik atau kurang. Hal ini dapat memengaruhi kelancaran pengeluaran ASI termasuk kategori lancar atau tidak.
Contoh lain penelitian cross sectional:
“Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid.”
Pada kasus thypoid, dalam studi ini populasi dikelompokan lagi dengan cara random, kemudian dibagi lagi menjadi empat kelompok yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan (E+D+), jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (E+D-), tidak jajan sembarangan & tidak cuci tangan (E-D+), dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (E-D-). Maka dapat diketahui bahwa sakit thypoid ditunjukan dengan E+D+ dan E-D+. Untuk yang tidak sakit thypoid ditunjukan dengan E+D- dan E-D-.
·         prevalence kelompok terpapar (Po) dapat dicari dari = (E+D+) / (E+D+) + (E+D-)
·         Prevalence kelompok tidak terpapar (P1) dapat dicari dari = (E-D+) / (E-D+) + (E-D-)
·         Rasio Prevalence = Po / P1

Desain studi cross sectional pada kasus di atas :

Kelebihan rancangan desain penelitian cross sectional (lintas-bagian atau potong lintang) adalah:
1.      Mudah untuk dilakukan
2.      Murah
3.      Tidak memaksa subyek untuk mengalami faktor yang diperkirakan bersifat merugikan kesehatan (faktor resiko) dan tidak ada subyek yang kehilangan kesempatan untuk memperoleh terapi yang diperkirakan bermanfaat.
Kelemahan rancangan desain penelitian cross sectional (lintas-bagian atau potong lintang) adalah:
1.      Memiliki validitas inferensi yang lemah dan kurang mewakili sejumlah populasi yang akurat, oleh karena itu penelitian ini tidak tepat bila digunakan untuk menganalisis hubungan kausal paparan dan penyakit.
2.      Sulit untuk menentukan sebab dan akibat karena pengambilan data risiko dan efek dilakukan pada saat yang bersamaan
3.      Dibutuhkan jumlah subyek yang cukup banyak, terutama bila variable yang dipelajari banyak
4.      Tidak praktis untuk meneliti kasus yang sangat jarang, misalnya kanker lambung, karena pada populasi usia 45-49 tahun diperlukan paling tidak 10.000 subyek untuk mendapatkan suatu kasus

B. Rancangan Penelitian Case Control
Efek
Faktor resiko/causa/penyebab
            Penelitian ini merupakan rancangan penelitian yang membandingkan antara kelompok kasus dengan kelompok kontrol untuk mengetahui proporsi kejadian berdasarkan riwayat ada tidaknya paparan. Rancangan penelitian ini dikenal dengan sifat retrospektif, yaitu rancangan bangun dengan melihat ke belakang dari suatu kejadian yang berhubungan dengan kejadian kesakitan yang diteliti.
 

Dengan kata lain dari efek ke faktor resiko atau mencari penyebab/ causa/faktor resiko dari penelitian yang dilakukan.
            Dalam sebuah studi kasus-kontrol, orang-orang dengan penyakit (kasus) dan orang-orang tanpa penyakit (non kasus) dibandingkan, yaitu dengan melihat proporsi dalam masing-masing kelompok, dengan pertimbangan sejarah paparan sebagai perhatian keuntungan dari desain ini adalah bahwa baik kasus maupun kontrol bisa dicocokkan pada variabel pembauran potensial seperti usia. Desain ini pada khususnya berguna untuk studi penyakit yang jarang. Keterbatasan desain ini adalah kerentanan terhadap penarikan kembali (recall) serta bentuk lain dari bias informasi karena paparan harus secara khusus ditarik kembali oleh kasus dan kontrol atau harus ada dalam data penyimpanan seperti data di rumah sakit.
            Ciri penelitian ini adalah: pemilihan subyek berdasarkan status penyakitnya, untuk kemudian dilakukan amatan apakah subyek mempunyai riwayat terpapar atau tidak. Subyek yang didiagnosis menderita penyakit disebut: Kasus berupa insidensi yang muncul dan populasi, sedangkan subyek yang tidak menderita disebut Kontrol.
            Contoh penelitian case control, penelitian tentang terjadinya masalah gizi (obesitas) pada seseorang ibu yang tidak bekerja. Ada dua kelompok sampel pada penelitian ini, kelompok kasus pada ibu yang tidak bekerja dan mengalami gizi (obesitas) dan kelompok kontrol pada ibu tidak bekerja yang status gizinya normal.
Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian case control:
Contoh judul penelitian: “Hubungan antara Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dengan Kebiasaan Merokok pada Ibu Hamil.”
1.      Mengidentifikasi variabel penelitian
Variabel yang diidentifikasi adalah sebagai berikut:
Variabel independen   : kebisaan merokok
Variabel dependen      : berat badan bayi ketika dilahirkan
Variabel kendali          : usia dan paritas
Selanjutnya ditentukan batasan variabel tersebut, seperti kebiasaan merokok waktu hamil termasuk dalam kategori kelompok perokok berat, sedang, atau ringan, batasan bayi berat lahir rendah adalah kurang dari 2500 gram.
2.      Menetapkan populasi penelitian
Contoh: populasi penelitiannya adalah ibu yang melahirkan jika dilihat dari jumlah kasus yang ada, kemudian diambil sampel dengan menggunakan teknik sampling yang dikehendaki peneliti.
3.      Mengidentifikasi kasus yang akan diteliti
Contoh: kasus yang diteliti adalah kasus ibu melahirkan dengan bayi berat badan rendah pada tahun berapa?
4.      Memilih subjek kontrol
Contoh: kelompok kontrol adalah para ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal ( > 2500 gram) dengan usia atau paritas yang sama.
5.      Melakukan pengukuran secara retrospektif
Contoh: Mencari kasus ibu yang melahirkan bayi berat lahir rendah, dan sewaktu hamil memiliki kebiasaan merokok (termasuk frekuensi merokok sehari-hari).
6.      Menganalisis data
Melakukan uji statistika untuk melihat ada tidaknya hubungan antara ibu perokok dengan kejadian BBLR.
Contoh lain penelitian case control adalah:
“Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid.”
Dalam kasus diatas, kita ingin menyelidiki apakah terjadinya penyakit thypoid dipengaruhi oleh kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Untuk keperluan tersebut, kelompok kontrol dipilih dari anak-anak usia sekolah (5 – 12 tahun) yang sehat dan tanpa gejala thypoid, sedangkan kelompok studi sebaiknya dipilih dari anak-anak usia sekolah (5 – 12 tahun) yang berobat atau berkonsultasi mengenai gejala thypoid: demam tinggi, diare, nyeri seluruh tubuh, pusing, mual dan muntah. Sedangkan penentuan status infeksi Salmonella typhosa, kuman penyebab thypoid, menggunakan Widal Test yaitu pemeriksaan laboratorium yang sering dilakukan sebagai penunjang diagnosis penyakit thypoid dilihat dari gejala-gejala yang terjadi.
Widal Test adalah suatu pemeriksaan serologi yang berarti bahwa hasil uji widal positif menunjukkan adanya zat antibody terhadap kuman Salmonella. Uji widal positif menunjukkan bahwa seseorang pernah kontak/terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tetentu. Untuk hasil (+) dan gejala (+) dijadikan sampel untuk kelompok studi, dan gejala (-) dijadikan sampel untuk kelompok kontrol.
Pada populasi kasus ini dibagi menjadi 2 yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok tidak terpapar). Sedangkan untuk populasi control juga dibagi menjadi 2 yaitu yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan sebelum makan (sebagai kelompok terpapar). Riwayat paparan dalam penelitian kasus control dapat diketahui dari register medik atau berdasarkan wawancara dengan responden penelitian.
Pada Case control/”retrospektif”, efek (penyakit atau status kesehatan) diidentifikasi pada saat ini, kemudian factor resiko diidentifikasi adanya atau terjadinya pada waktu yang lalu.
Dalam kasus ini desain case control adalah sebagai berikut :

            Dalam case-control, Risk Ratio (RR) tidak bisa dihitung, karena kelompok terpapar dan tak terpapar tidak mewakili populasi. Dilakukan pendekatan dengan
mengukur ODDS-RATIO (OR).
ODDS RATIO (OR):
Bila p   = probabilitas terjadinya suatu event
q          = probabilitas tidak terjadinya suatu event
maka    : p / q disebut ODDS
Bila p sangat kecil maka         : p / q = p
Bila p1 sangat kecil maka       : OR ~ RR
Kelebihan rancangan desain penelitian case control (retrospektif) adalah:
1.      Relatif murah
2.      Mudah
3.      Data sudah ada
4.      Penggunaan waktu tidak lama
Kelemahan rancangan desain penelitian case control (retrospektif) adalah: Dalam melacak adanya faktor resiko tentunya ada kelemahannya yaitu  bias karena  individu diminta untuk mengingat tentang apa yang pernah dialaminya dalam terpapar faktor resiko di masa lampau. Bias tersebut dikenal dengan “recall bias “ peluang bias lebih besar pada kelompok “non disease” dibandingkan kelompok “disease”.



C. Rancangan Penelitian Kohort
            Penelitian kohort merupakan penelitian epidemiologis non-eksperimental yang mengkaji antara variabel independen (faktor resiko) dan variabel dependen (efek kejadian/penyakit). Pendekatan yang digunakan  pada rancangan penelitian ini adalah pendekatan waktu secara longitudinal. Oleh karena itu, penelitian kohort disebut juga sebagai penelitian prospektif. Peneliti yang menggunakan rancangan ini mengobservasi variabel independen (faktor resiko) terlebih dahulu, kemudian subjek diikuti hingga periode waktu tertentu untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen (kejadian atau penyakit yang diteliti.
Faktor resiko/causa/penyebab
Efek
 
           
            Dengan kata lain dari faktor resiko/causa/penyebab ke efek atau mencari efek dari penelitian yang dilakukan.
            Studi kelompok merujuk kepada sebuah desain studi dimana sebuah kelompok orang yang berbagai paparan umum diamati selama periode waktu tertentu. Studi kelompok dibedakan dari studi kasus-kontrol dengan dua fitur utama. Pertama, klasifikasi ke dalam kelompok perbandingan adalah berdasarkan faktor paparan bukan keluaran. Kedua, studi kelompok melihat dari paparan ke depan daripada dari penyakit ditarik ke belakang. Terdapat dua jenis utama studi kelompok : prospektif dan retrospektif. Fitur yang membedakan prospektif dengan restropektif adalah apakah keluaran yang menjadi perhatian telah muncul saat investigator memulai studi. Dalam sebuah studi kelompok prospektif, keluaran (penyakit atau non penyakit) muncul setelah paparan diukur. Dalam sebuah studi kelompok resrospektif, investigasi diinisiasi setelah baik paparan maupun keluaran telah muncul.

Berikut ini adalah langkah-langkah yang dilakukan dalam rancangan penelitian kohort:
Contoh judul penelitian: “Hubungan Komunikasi Terapeutik dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah.”
1.      Mengidentifikasi variabel penelitian
Dari contoh judul penelitian di atas maka variabel dapat diidentifikasi sebagai berikut:
Variabel independen   : komunikasi terapeutik
Variabel dependen      : tingkat kecemasan
2.      Menetapkan populasi penelitian
Populasinya adalah sejumlah anak usia prasekolah yang dirawat di ruang anak. Sampel diambil menggunakan teknik sampling yang dikehendaki peneliti.
3.      Mengidentifikasi subjek penelitian
Mengidentifikasi anak usia prasekolah dengan komunikasi terapeutik yang baik dan mengidentifikasi anak usia prasekolah yang dirawat dengan komunikasi terapeutik yang kurang baik.
4.      Mengobservasi perkembangan subjek penelitian
Mengobservasi perkembangan subjek penelitian dari komunikasi yang baik dan kurang baik, untuk kemudian dilihat efeknya terhadap tingkat kecemasannya.
5.      Analisa data
Menganalisis data secara statistika untuk mecari keterkaitan antara komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan.
Contoh lain penelitian kohort adalah:
“Hubungan Jajan Sembarangan dan Tidak Mencuci Tangan Sebelum makan dengan Kejadian Thypoid.”
Dalam kasus ini populasi non kasus dibagi menjadi 2 yaitu jajan sembarangan & tidak cuci tangan (sebagai kelompok terpapar, E+) dan tidak jajan sembarangan & cuci tangan (sebagai kelompok tidak terpapar, E-). Pengamatan cohort dilakukan secara kontinu, sehingga diikuti denga follow up. Pada periode follow up ini kelompok terpapar dibagi menjadi 2 yaitu terpapar & sakit thypoid (E+D+) dan terpapar & tidak sakit thypoid (E+D-). Untuk kelompok tidak terpapar juga dibagi menjadi 2 kelompok yaitu tidak terpapar & sakit thypoid (E-D+) dan tidak terpapar-tidak sakit thypoid (E-D-).
·         Insidence kelompok terpapar (Po) = (E+D+) / (E+D+) + (E+D-)
·         Insidence kelompok tidak terpapar (P1) = (E-D+) / (E-D+) + (E-D-)
·         Relative Risk (RR) = Po / P1
Dalam kasus ini desain cohort adalah sebagai berikut :


Yang dihitung adalah perbandingan resiko menjadi sakit antara kelompok terpapar dengan kelompok tak terpapar.
Disebut : Relative Risk atau Risk Ratio (RR)
                        Insiden dikelompok terpapar
RR       =
                        Insiden dikelompok tak terpapar
Kelebihan rancangan desain penelitian kohort (prospektif) adalah:
1.      Bebas bias seleksi dan recall bias.
2.      Outcome tidak mempengaruhi seleksi.
3.      Dapat dipelajari sejumlah efek secara serentak.
Kelemahan rancangan desain penelitian kohort (prospektif) adalah:
1.      Relatif mahal.
2.       Penggunaan waktu jangka lama.
3.      Extraneous variabel kadang sukar dikontrol.
4.      Ukuran sampel sangat besar untuk penyakit yang jarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar