Sabtu, 02 April 2011

Askep: Hernia Inguinalis


ASUHAN KEPERAWATAN HERNIA INGUINALIS

A. Konsep Medis

1. Pengertian
Hernia adalah protrusi atau penonjolan isi suatu rongga melalui defek/bagian yang lemah dari dinding rongga. Hernia inguinalis adalah terjadinya penonjolan isi rongga abdomen melalui annulus inguinalis interna mengikuti apermatid cordi di kanale inguinalis kemudian keluar melalui annulus inguinalis eksterna sehingga terdapat benjolan di daerah inguinalis. Pada hernia inguinalis, visera menonjol ke dalam kanal inguinal pada titik dimana tali spermatik muncul pada pria, dan disekitar ligamen pada wanita. Melalui lubang ini, hernia inguinal yang tidak langsung melebar menuruni kanal inguinal bahkan ke dalam skrotum atau labia. Hernia inguinalis langsung menonjol melalui dinding inguinal posterior.
Klasifikasi Hernia inguinalis:
a.    Hernia inguinalis lateralis
Disebut juga Hernia inguinalis indirek, karena menonjol melalui annulus dan kanalis inguinalis. Kantong hernia berada di dalam muskulus kremaster dan letaknya anteromedial terhadap vas deferens dan struktur lain dalam funikulus spermatikus.
b.    Hernia inguinalis medialis
Disebut  juga sebagai Hernia inguinalis direk, karena menonjol langsung melalui trigonum Hesselbach, tanpa melalui kanalis inguinalis.

2. Etiologi
a. Kongenital
Terjadi akibat prosesus vaginalis peritonium disertai dengan annulus inguinalis yang cukup lebar, terutama ditemukan pada bayi.
b. Akuisita
Akuisita ditemukan adanya faktor kausa yang berperan untuk timbulnya hernia yaitu :
1). Prosesus vaginalis yang terbuka, yang disebabkan oleh;
Ø  Pekerjaan mengangkat barang-barang berat.
Ø  Batuk kronik, bronchitis kronik, TBC.
Ø  Hipertropi prostat dan konstipasi.
2). Kelemahan otot dinding perut, yang disebabkan oleh;
Ø  Usia tua, sering melahirkan.
Ø  Kerusakan moninguinalis dan iliofermalis setelah apendiktomi.

3. Patofisiologi
Hernia kebanyakan diderita oleh orang-orang yang berusia lanjut karena pada usia rentan tersebut dinding otot yang telah melemah dan mengendur untuk menjaga agar organ tubuh tetap pada tempatnya sehingga mempercepat proses terjadinya hernia. Kegiatan fisik yang berlebihan juga diduga dapat menyebabkan hernia cepat berkembang seperti mengangkat barang-barang yang terlalu berat. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan terjadinya hernia yaitu batuk kronik, penyakit paru kronik, obesitas dan bawaan lahir (congenital). Hernia terjadi jika bagian dari organ perut (biasanya usus) menonjol melalui suatu titik yang lemah atau robekan pada dinding otot yang tipis, yang menahan organ perut pada tempatnya.
Defek pada dinding otot mungkin kongenital karena kelemahan jaringan atau ruas paling dalam lumen inguinalis atau dapat disebabkan karena trauma tekanan intra atau kegemukan. Mengangkat beban yang berat juga menyebabkan meningkatnya tekanan intra abdominal, seperti batuk dan cedera traumatik karena tekanan tumpul. Kedua faktor ini terjadi bersamaan dengan kelelahan otot, individu akan mengalami hernia dan bila isi kantong hernia dapat dipindahkan kekantong abdomen yang termanipulasi.
Bila tekanan dari cincin hernia (cincin dari jaringan otot yang dilalui oleh protusi usus) memotong suplai darah kesegmen hernia dari usus menjadi terstragulasi. Situasi ini adalaah kedaruratan bedah karena usus terlepas. Usus ini cepat menjadi gangren karena kekurangan suplai darah. Henia ini terjadi melalui cincin inguinalis dan dapat menjadi sangat berat dan sering turun ke skrotum.
Hernia inguinalis dapat terjadi karena anomali congenital atau karena sebab yang didapat, dan bisa terjadi akibat penutupan tuba (prosesus vaginalias) yang tidak lengkap antara abdomen dan skrotum (atau uterus pada anak perempuan), menyebabkan penurunan bagian intestine. Inkarserata terjadi ketika bagian desenden terperangkap kuat di dalam kantung hernia yang mengganggu aliran darah. Tonjolan tersebut akan membesar bila ada tekanan intra abdomen seperti pada saat hamil, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat, mengejan, menangis, dan miksi yang mengejan misalnya pada prostat hipertrofi. Isi kantong hernia biasanya dapat dikurangi dengan memberi tekanan perlahan, biasanya dilakukan pemulihan melalui pembedahan (herniorafi).
Adapun tanda dan gejala yang sering timbul pada klien dengan hernia inguinalis antara lain umumnya penderita mengatakan turun berok atau mengatakan adanya benjolan diselangkangan/kemaluan, biasanya hernia inguinalis menyebabkan pembengkakan diselangkangan dan skrotum atau daerah inguinalis tanpa rasa nyeri. Jika berdiri benjolan bisa membesar dan jika berbaring benjolan akan mengecil karena isinya keluar dan masuk dibawah pengaruh gaya tarik bumi, selain itu dapat pula ditemukan gejala mual dan muntah bila telah ada komplikasi.
Komplikasi yang mungkin muncul pada klien dengan hernia antara lain: terjadi perlekatan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dimasukkan kembali, terjadi penekanan terhadap cincin hernia, akibat semakin banyaknya usus yang masuk, cincin hernia menjadi sempit dan menimbulkan gangguan penyaluran isi usus, timbul edema bila terjadi obstruksi usus yang menekan pembuluh darah dan kemudian timbul nekrosis, terjadi penyumbatan dan perdarahan akan timbul perut kembung, muntah dan obstipasi. Bila inkarserata dibiarkan, maka lama kelamaan akan timbul edema sehingga terjadi penekanan pembuluh darah & terjadi nekrosis. Juga dapat terjadi bukan karena terjepit, melainkan ususnya terputar. Dan bila isi perut terjepit dapat terjadi: shock, demam, acidosis metabolik, abses.

4. Manifestasi Klinik (Tanda & Gejala)
            Tanda dan gejala yang timbul pada klien dengan hernia inguinalis, yaitu:
a.    Umumnya klien mengatakan adanya benjolan pada lipatan paha. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.Pada bayi dan anak adanya benjolan yang hilang timbul dilipatan paha, dan hal ini biasanya diketahui oleh orang tuanya.
b.    Nyeri disertai muntah timbul bila terjadi inkarserasi atau strangulasi.
Manifestasi Klinis:
a.    Pada inspeksi, diperhatikan pada keadaan osimetris pada kedua sisi lipatan paha, posisi berdiri dan berbaring. Pada saat batuk dan mengedan biasanya akan timbul benjolan.
b.    Pada palpasi, teraba isi usus, omentum (seperti karet).

5. Test Diagnostik
Tindakan diagnostik yaitu :
a. Foto thoraaks:        Menunjukan adanya massa tanpa udara jika omentum yang masuk dan massa yang berisi udara jika lambung adalah usus yang masuk.
b. Laboratorium :        Menunjukan adanya peningkatn pada hasil pemeriksaan SGOT.
c. CKG :                       Biasanya dilakukan untuk persiapan operasi.

6. Penatalaksanaan
a.    Tindakan Pembedahan
Tujuannya adalah untuk mengembalikan (reposisi) terhadap benjolan henia tersebut. Tindakan bedah pada hernia disebut herniotomi yaitu dengan memotong kantung hernia lalu mengikatnya dan herniorafi dengan perbaikan defek dengan pemasangan jaring melalui operasi terbuka (laparoskopik). Pada elektif maka kanalis dibuka isi hernia dimasukkan kantong diikat dan dilakukan bassini plasty untuk memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis. Pada bedah darurat pada prinsipnya seperti bedah elektif cincin hernia langsung dicari dan dipotong, usus dilihat apakah vital atau tidak, bila vital dikembalikan ke rongga perut dan bila tidak dilakukan reseksi usus dan anastomosis ”end to end”. Pada ireponibilis maka diusahakan agar isi hernia dapat dimasukkan kembali, penderita istirahat baring dan dipuasakan, dilakukan tekanan yang kontinue pada benjolan misalnya dengan bantal pasir baik juga dilakukan kompres es untuk mengurangi pembengkakan lakukan secara berulang sehingga isi hernia masuk untuk kemudian dilakukan bedah elektif dikemudian hari.
b.    Terapi Hernia
1)    Terapi konservatif berupa: penggunaan alat penyangga dapat dipakai sebagai pengelolaan sementara, misalnya pemakaian korset pada hernia ventralis sementara itu pada hernia inguinalis pemakaian kotidak dianjurkan
2)    Hernioplastik endoskopik: merupakan pendekatan dengan penderita berbaring dalam posisi trendelenburg 40º digunakan tiga trokar yang pertama digaris tengah dekat umbilikus dan dua linnya dilateral. Keuntungannya mobiditas ringan, penderita kurang merasa nyeri, dan keadaan umum kurang terganggu dibandingkan dengan operasi dari luar.

c.    Penatalaksanaan Keperawatan
1)    Kaji tanda-tanda strangulasi
2)    Lakukan perawatan pasca operatif: hernia inguinalis memerlukan perbaikan secara bedah
3)     Tanggung jawab perawat untuk perawatan pasca operatif antara lain:
v  Kaji luka infeksi: amati luka insisi terhadap adanya kemerahan atau drainase, pantau suhu.
v  Pertahankan status hidrasi yang baik: beri cairan IV bila diprogramkan, pantau asupan dan keluaran cairan, tingkatkan diet.
v  Tingkatkan rasa nyaman: berikan analgesik sesuai kebutuhan, pada klien yang menjalani hidrokelektomi gunakan kantung es dan penyokong untuk membantu meredakan nyeri dan pembengkakan sesuai indikasi.

7. Komplikasi
a.    Hernia Kambuhan
b.    Hernia inkarserata
c.    Atrofi Gonad


B. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian
a.    Aktivitas/Istirahat
Gejala:  riwayat pekerjaan yang perlu: mengangkat benda berat, tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Tanda:  benjolan di lipat paha yang timbul hilang. Muncul saat penderita berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat penderita berbaring.
b.    Eliminasi
      Gejala: mengalami kesulitan dalam defekasi
             Adanya inkontinensia/retensi urine
c.    Integritas Ego
      Gejala: ketakutan/ansietas masalah pekerjaan
      Tanda:  tampak cemas, depresi, menghindari dari keluarga/orang terdekat
d.    Neurosensori
Tanda: spasme otot sekitar daerah inguinale
e.    Nyeri/Kenyamanan
Gejala:          nyeri seperti tertusuk, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokkan badan, mengangkat, defekasi.
Tanda: perubahan jalan berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang.
             Nyeri pada palpasi
f.     Makanan/Cairan
Gejala:          mual, muntah, anoreksia
PENGELOMPOKAN DATA
a.    Data Subjektif:
Ø  Nyeri seperti tertusuk, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokkan badan, mengangkat, defekasi.
Ø  Adanya riwayat pasien: mengangkat benda berat.
Ø  Keluhan tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
b.    Data Objektif:
Ø  Perubahan jalan berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang.
Ø  Nyeri pada palpasi
Ø  Wajah tampak meringis
Ø  Adanya benjolan di lipat paha yang timbul hilang muncul saat berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat dan menghilang saat berbaring.

2. Diagnosa Keperawatan
            Diagnosa keperawatan dari hernia inguinalis, yaitu:
a.    Nyeri berhubungan dengan spasme otot.
Ditandai dengan:
      Data Subjektif:
Ø  Nyeri seperti tertusuk, yang akan semakin memburuk dengan adanya batuk, bersin, membengkokkan badan, mengangkat, defekasi.
Data Objektif:
Ø  Nyeri pada palpasi
Ø  Wajah tampak meringis
b.    Intoleransi aktivitas  berhubungan dengan nyeri.
Ditandai dengan:
Data Subjektif:
Ø  Keluhan tidak mampu melakukan aktivitas yang biasanya dilakukan.
Data Objektif:
Ø  Perubahan jalan berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang.
Ø  Adanya benjolan di lipat paha yang timbul hilang muncul saat berdiri, batuk, bersin, mengedan atau mengangkat barang berat
c.    Gangren berhubungan dengan strangulasi/usus terjepit.
Ditandai dengan:
            Data Subjektif:
Ø  Klien mengatakan nyeri bagian abdomen.
Data Objektif:
Ø  Nyeri tekan abdomen.
d.    Potensial gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.
Ditandai dengan:
Data Subjektif:
Ø  Keluhan dengan perasaan mual.
Data Objektif:
Ø  Klien muntah.
 
Penyimpangan KDM

                                           Kongenital dan akuisita
                                                               
    Peningkatan tekanan                                                     Kelemahan
           intra abdomen                                                                  Otot


                                      Invaginasi kanalis inguinalis
                                                              
                                              Penyumbatan usus             Spasme otot
                                                                                                       
                                          Strangulasi/usus terjepit     Strangulasi usus
                                                                                                       
Œ
                                          Passage usus tidak ada                Nyeri
                                                                                                       
                                            Vaskularasi terganggu      Aktivitas menurun
                                                                                                       

                                                        Gangren                 Intoleransi aktivitas
Ž
        Distorsi abdomen
                      
        Mual dan muntah
                      
Potensial gangguan nutrisi

   kurang dari kebutuhan





3. Intervensi
a.    Nyeri berhubungan dengan spasme otot
Tujuan:
Nyeri hilang/terkontrol dalam 1 x 24 jam setelah diberi tindakan keperawatan dengan kriteria:
Ø  Wajah tampak ceria
Ø  Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misalnya: keterampilan relaksasi, modifikasi perilaku) untuk menghilangkan nyeri.
Intervensi:
1)    Kaji adanya keluhan nyeri, catat lokasi, lamanya serangan, faktor pencetus/yang memperberat. Minta pasien untuk menetapkan pada skala 0-10
Rasional: membantu menentukan pilihan intervensi dan memberikan dasar untuk membandingkan dan evaluasi terhadap terapi.
2)    Letakkan semua kebutuhan, termasuk bel panggil dalam batas yang mudah dijangkau/diraih oleh pasien.
Rasional: menurunkan resiko peregangan saat meraih
3)    Instruksikan pasien untuk melakukan teknik relaksasi.
Rasional: memfokuskan perhatian pasien, membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan.
4)    Instruksikan untuk melakukan mekanika tubuh/gerakan yang tepat.
Rasional: menghilangkan/mengurangi stress pada otot dan mencegah trauma lebih lanjut.
5)    Berikan kesempatan untuk berbicara/ mendengarkan masalah pasien
Rasional: membantu untuk menurunkan faktor-faktor stress selama dalam keadaan sakit dan dirawat. Kesempatan untuk memberikan informasi/membetulkan informasi yang kurang tepat.
Kolaborasi
6)    Berikan obat sesuai kebutuhan
Relaksasikan otot
Rasional: merelaksasikan otot dan menurunkan nyeri
Analgesik
Rasional: untuk menghilangkan nyeri sedang sampai berat.

b.    Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri
Tujuan:
Klien dapat melakukan aktivitas dengan kriteria:
Dalam 1 x 24 jam setelah diberi tindakan klien mampu melakukan aktivitas seperti biasa.
Intervensi:
1)    Observasi aktivitas yang dilakukan oleh klien.
Rasional: membantu menetukan tindakan intervensi perawat terhadap klien, dalam hal ini tindakan aktivitas yang bisa dilakukan oleh klien.
2)    Catat respon-respon emosi/perilaku pada mobilisasi. Berikan aktivitas yang disesuaikan dengan pasien.
Rasional: immobilitas yang dipaksakan dapat memperbesar kegelisahan. Aktivitas pengalihan membantu dalam memfokuskan kembali perhatian pasien dan meningkatkan koping dengan keterbatasan tersebut.
3)    Anjurkan pasien untuk tetap ikut berperan serta dalam aktivitas sehari-hari dalam keterbatasan individu.
Rasional: partisipasi pasien akan meningkatkan kemandirian pasien dan perasaan kontrol terhadap diri.
4)    Bantu pasien dalam melakukan aktivitas ambulasi progresif
Rasional: keterbatasan aktivitas bergantung pada kondisi yang khusus tetapi biasanya berkembang dengan lambat sesuai toleransi.
5)    Berikan pengetahuan bahwa betapa pentingnya aktivitas atau ambulasi yang dilakukan oleh klien.
Rasional: Klien bisa mengetahui pentingnya aktivitas.
c.    Potensial gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan:
Pemenuhan kebutuhan nutrisi dapat terpenuhi dengan kriteria:
Muntah berkurang setelah dilakukan intervensi.
1)    Observasi frekuensi dan jumlah makanan yang dimuntahkan klien.
Rasional: Mengetahui jumlah nutrisi yang akan diberikan kepada klien.
2)    Anjurkan klien untuk dilakukan infus.
Rasional: Cairan infus dapat mengganti elektrolit yang keluar melalui muntah.
3)    Berikan makanan yang cepat dicerna oleh tubuh.
Rasional: Makanan yang cepat dicerna dapat mengganti nutrisi yang keluat lewat muntah.
4)    Berikan informasi bahwa pentingnya makanan yang diintervensikan untuk dikonsumsi klien.
Raional: Klien mau mengonsumsi makanan yang diintervensikan.
5)    Kolaborasi pemberian obat muntah.
Rasional: Untuk mengurangi jumlah dan frekuensi muntah klien.



4. Evaluasi
            Hasil yang diharapkan:
a.    Fungsi Gastrointestinal kembali normal.
b.    Nyeri hilang.
  1. Setelah instruksi, pasien mengungkapkan pengetahuan tentang tanda-tanda dan gejala komplikasi dan memenuhi tindakan yang diprogramkan untuk pencegahan.

DAFTAR PUSTAKA

Betz, Cecily Lynn and Sowden, Linda A. 2009. Buku Saku Keperawatan Pediatri Edisi 5. EGC: Jakarta.
Nettina, Sandra M. 2002. Pedoman Parktik keperawatan. EGC: Jakarta.







8 komentar: