Kamis, 23 Desember 2010

Fisiologi : Spirometri


BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
            Sering kali kita melihat orang yang memilki kecepatan pernapasan dan kedalaman pernapaan berbeda dari orang yang normal atau yang paling sering kita temukan adalah penyakit asma. Penyakit-penyakit ini merupakan penyakit yang disebabkan gangguan ventilasi sehingga bagian dari paru-paru akan melakukan adaptasi seperti penyempitan jalan napas dan inflamasi yang mengakibatkan seseorang menjadi sesak napas atau batuk.
            Penyakit-penyakit seperti ini dapat dideteksi melalui suatu tes (Peak Flow Rate) dengan menggunakan alat yang sederhana, yaitu Peak Flow Meter. Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin.
            Olehnya itu, sebagai seorang yang berkecimpung di dunia kesehatan seharusnya kita mengetahui cara-cara pemeriksaan dengan alat ini yang bertujuan untuk menegtahui ada tidaknya masalah pada sistem pernapasan seseorang yang akan dipelajari dalam praktikum ini.

I.2. Tujuan Percobaan
            Tujuan yang ingin dicapai dalam percobaan ini, yaitu:
1. Mengukur volume dan kapasitas paru-paru dengan spirometer.
2. Menentukan Peak Flow Rate

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

             Spirometry ( Maksud/Arti mengukur nafas) adalah [yang] yang paling umum untuk Test Fungsi Yang berkenaan dengan paru-paru ( PFTS), mengukur fungsi paru-paru/tempat terbuka, [yang] secara rinci pengukuran jumlah ( volume) dan/atau kecepatan ( arus) tentang udara yang dapat dihirup/dihisap dan dihembuskan. Spirometry adalah suatu alat penting menggunakan untuk membangitkan pneumotachographs yang adalah sangat menolong menaksir kondisi-kondisi seperti sakit asma, berkenaan dengan paru-paru fibrosis, cystic fibrosis, dan COPD (http://en.wikipedia.org/, 2009).
Spirometer adalah suatu piranti untuk mengukur volume udara yang diilhami dan yang berakhir oleh paru-paru [itu]. [Ini] merupakan suatu ketepatan tekanan diferensial transducer untuk pengukuran laju alir pernapasan. Spirometer arsip jumlah udara dan tingkat udara yang ditiupkan keluar masuk (di) atas suatu waktu ditetapkan. Spirometer dan arus yang dipasang memimpin fungsi bersama-sama sebagai pneumotachometer, dengan suatu isyarat keluaran yang sebanding ke airflow. [Itu] telah ditemukan oleh Yohanes Hutchinson di (dalam) 1846 (http://en.wikipedia.org/, 2009).
            Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin (www.id.wikipedia.org, 2009).
            Peak Flow Meter adalah alat ukur kecil, dpat digenggam, digunakan untuk memonitor kemampuan untuk menggerakkan udara, dengan menghitung aliran udara bronki dan sekarang digunakan untuk mengetahui adanya obtruksi jalan napas (www.id.wikipedia.org, 2008).
            Peak Flow Meter (PFM) mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas. Peak Flow Rate (PFR) adalah kecepatan (laju) aliran udara ketika seseorang menarik napas penuh, dan mengeluarkannya secepat mungkin. Agar uji (tes) ini menjadi bermakna, orang yang melakukan uji ini harus mampu mengulangnya dalam kelajuan yang sama, minimal sebanyak tiga kali (www.id.wikipedia.org, 2008).
            Volume paru-paru
            Sebagian daripada volume statis daripada paru-paru ini dapat diukur dengan spirometer yaitu: (1) tidal volume dan (2) kapasitas vital (vital capacity). Tidal volume adalah volume pernapasan normal yaitu dengan menghembuskan udara ekspirasi biasa ke dalam spirometer setelah inspirasi biasa. Kapasitas vital adalah volume ekspirasi maksimal setelah inspirasi maksimal (Siregar, 2002).
            Walaupun ekspirasi sudah maksimal, tetapi masih tetap ada udara yang tersisa dalam paru-paru disebut volume residu (residual volume). Volume udara dalam paru-paru setelah ekspirasi normal disebut kapasitas residu fungsional (Functional Residual capacity). Kedua volume paru-paru yang terakhir ini tidak dapat diukur dengan spirometer. Volume ini dapat diukur dengan menggunakan tekhnik pengenceran gas (gas dilution) atau dengan Pletismograf. Kapasitas paru-paru  (Total Lung Capacity) adalah kapasitas vital + volume residu (Siregar, 2002).
            Ventilasi
            Ventilasi adalah proses dimana udara respirasi masuk sampai ke alveoli. Branchi yang membentuk jalan udara pernapasan konduktif digambarkan sebagai suatu tabung yang dinamakan ruang rugi anatomis (anatomic dead space). Tabung ini masuk ke dalam daerah pertukaran gas pada paru-paru (alveoli) yang dibatasi oleh barier gas darah (blood gas barier) dan daerah kapiler. Setiap inspirasi kira-kira 500 ml udara memasuki paru-paru (tidal volume) (Siregar, 2002).
           
Ventilasi dapat mengalami gangguan secara patologi :
Ventilasi obstruktif
            Respirasi abnormal ini mempunyai karekteristik yaitu kekuatan kecepatan ekspirasi yang lambat (FEV1/FVC lambat). Ini terjadi pada orang yang asma atatu empisemia, peningkatan voume residu dan residu fungsional kapasitas dan penurunan kapasitas vital adalah hal yang paling mudaj dilihat. Pada seseorang yang mengalami penyakit ini volume parunya sama dengan orang normal. Contohnya: asma, bronchitis, dan emfisema (Odhemila, 2008).
Ventilasi restriktif
Penyakit restriktif ditandai dengan kondisi lebih nyata oleh reduksi pada kapasitas total paru. Ventilasi restriktif mungkin disebabkan kerusakan pulmonary, fibrosi pulmo (kaku abnormal, non komplikasi paru), atau karena nonpulmo deficit, mencakup kelemahan otot pernapasan, kelumpuhan, dan kelainan bentuk atau kekakuan dari dinding dada (Odhemila,2008).
Pada tes pulmonari, individu yang mengalami ventilasi restriktif memiliki penurunankapasitas total paru, penurunan residu fungsional, dan penurunan residu pulmonal. Ketika kekuatan kapasitas vital (FVC) mungkin sangat turun, kekuatan volume ekspirasinya pada waktu satu detik dibagi dengan kekuatan kapasitas vital (FEV1/FVC) biasanya normal atau meningkat dari normal yang seharusnya mengalami penurunan karena tekanan keelastisan paru menurun (Odhemila,2008).
                 Karena tekanan pleura drop memaksa paru menjadii nflamasi, kedalaman pernapasan pada orang yang mengalami restriktif berbda dibandingkan pada orang yang normal, dan meraka mengakhiri pernapasan dengan pernapasan dangkal dan cepat (Odhemila,2008).

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN

III.1. Alat dan Bahan
a. Alat
            Alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu Mini Wright Peak Flow Meter.
b. Bahan
            Bahan yang digunakan dalam percobaan ini, yaitu alkohol dan tissue.

III.2. Cara Kerja
            Dalam percobaan ini hanya dilakukan pengukuran Peak Flow Rate (PFR) dengan cara, sebagai berikut:
            Orang coba diminta memegang Peak Flow Meter dan masukkan pipa tiup ke dalam mulutnya. Setelah inspirasi maksimal, orang coba diminta meniup sekuat-kuatnya sampai maksimal dalm Flowmeter. Bacalah nilai yang dicapai pada flowmeter (liter/menit).

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1. Hasil
            Hasil dari percobaan ini, sebagai berikut:
Nama orang coba        :           Dedi
Jenis kelamin               :           Laki-laki
Umur                           :           19 Tahun
Peak Flow Meter (PFR) yang didapat, yaitu:
Perlakuan 1     : 410 L/menit
Perlakuan 2     : 450 L/menit
Perlakuan 3     : 400 L/menit
PFR rata-rata   = PFR1 + PFR2 + PFR3   /  3
                                =  410 + 450 + 400 / 3
                        = 1260 / 3
                        = 420 L/menit
IV.2. Pembahasan
            Nilai PFR rata-rata yang didapat dari percobaan adalah 420 L/menit. Ini menandakan bahwa PFR orang coba pada percobaan ini adalah  normal karena PFR normal pada manusia berkisar 350-500 L/menit.
            PFR setiap orang berbeda-beda dan banyak faktor yang mempengarugi, misalnya: umur, jenis kelamin, postur tubuh, posisi selama pengukuran, ataupun karena standar tersebut hanya diperuntukkan untuk orang-orang yang berbeda ras dengan orang Indonesia pada umumnya.
            Usia berpengaruh terhadap PFR dimana saat lahir terjadi perubahan respirasi yang besar yaitu paru-paru yang sebelumnya berisi cairan menjadi berisi udara dan luas paru-paru masih terlalu kecil. Perkembangan paru pada masa bayi belum terl;alu baik sehingga PFRnya lebih rendah dibandingkan orang dewasa. Demikian halnya pada usia lanjut, PFR akan menurun akibat otot-otot pernapasan tidak seelastis dengan orang yang lebih muda.
            Posisi juga berpengaruh terhadap nilai PFR. Nilai PFR pada posisi berbaring terlentang lebih besar dibandingkan pada saat duduk karena ketika duduk diafragma akan mendorong rongga dada keatasa sehingga ketoka menghirup udara, udara akan lebih sedikit masuk ke paru-parudibandingkan ketika berbaring dimana diafragma tidak mendorong rongga dada sehingga udara yang masuk lebih banyak dan yang akan diekspirasika juga lebih banyak.
Selain usia dan posisi, tinggi badan atau ukuran tubuh setiap orang juga berpengaruh terhadap nilai PFR dimana tubuh yang lebih besar akan memiliki PFR lebih besar karena orang ini membutuhkan lebih banyak oksigen dari udara untuk memenuhi kebutuhan jaringan di dalam tubuhnya. Selain itu. Orang yang memiliki ukuran tubuh lebih besar juga memilki kekuatan menghirup udara lebih banyak.PFR pada laki-laki juga lebih besar dibandingkan perempuan karena kekuatan otot-otot pernapasan laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan sehingga udara yang dihirup dan dihembuskan lebih banyak dibandingkan perempuan.






BAB V
PENUTUP

V.1. Kesimpulan
            Kesimpulan yang dapat ditarik dalam percobaan ini, yaitu:
Volume dan kapasitas paru dapat diukur dengan menggunakan alat yang disebut spirometer. Peak Flow Meter (PFM) adalah alat untuk mengukur jumlah aliran udara dalam jalan napas (PFR). Nilai PFR dapat dipengaruhi beberapa faktor misalnya posisi tubuh, usia, kekuatan otot pernapasan, tinggi badan dan jenis kelamin.

V.2. saran
            Untuk asisten
            Dalam memberikan penjelasan kepada praktikan lebih ditingkatkan, agar praktikan lebih mudah memahamimateri yang dijelaskan.
            Untuk laboratorium
Sebaiknya bagian laboratorium melengkapi alat-alat di laboratorium yang akan digunakan sehingga pratikum dapat berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Spirometry. http://en.wikipedia.org/.  (23 Juni 2009)
Anonim. 2009. Spirometer. http://id.wikipedia.org/. (23 Juni 2009)
Odhemila. 2008. Laporan Tekanan Darah Arteri. http://odhemila.blogspot.com/. (23 Juni 2009)
Siregar Dkk. 2002. Fisiologi respirasi edisi Revisi. Bagian ilmu Faal Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Makassar.

1 komentar:

  1. hmm.. gimana cara mengukur PFR dengan spirometer?? yg anda paparkan di atas pengukuran PFR dgn peak flow meter. apa carax sama sja dgn menggunakan spirometer?? apa yg membedakan??

    BalasHapus