Selasa, 31 Januari 2012

ASKEP Meningitis


Keperawatan Medikal Bedah II (KMB II)
Dosen MK: Ns. Julkarnain. M.Kes.
Asuhan Keperawatan
Meningitis




Kelompok III
                                    Kelas B:   Syawir
                                        Hernawati
                                        Mardiana S.
                                        Muh. Asdar
                                        Retmawati Latuconsina
                        Kelas C:   Nuraena
                                        Indrawati
                                        Isna Majid
                                        Shufriyah S.


PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat dan inayah-Nyalah sehingga kami masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas asuhan keperawatan mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II (KMB II) yang mengenai “Meningitis”.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada  dosen mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II (KMB II) yang tiada henti-hentinya membimbing kami dan memberikan waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari bahwa asuhan keperawatan ini masih memiliki kekurangan, maka dari itu kami mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan sarannya agar kami dapat menutupi kekurangan dalam menyusun asuhan keperawatan berikutnya.

                                                                       Makassar,  Mei 2011


                                                                                    Penyusun


BAB I
PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Meningitis adalah penyakit infeksi yang terjadi pada sistem persarafan yang disebabkan oleh bakteri, virus, protozoa ataupun jamur. Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. Pada pasien yang mengalami meningitis akan rentan terhadap komplikasi-komplikasi yang sangat berbahaya bagi penderitanya, misalnya hidrosefalus yang dapat terjadi pada anak. Meningitis merupakan penyakit infeksi persarafan yang paling sering tejadi, oleh karena itu perlu adanya penanganan yang serius terhadap kasus ini.

I. 2. Permasalahan
            Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuhan keperawatan  ini adalah bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan pada kasus Meningitis?

I. 3. Tujuan
            Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah:
A.  Tujuan Umum
Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah II (KMB II).
B.  Tujuan Khusus
1.    Memperoleh gambaran mengenai Meningitis.
2.    Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan Meningitis.




I. 4. Manfaat
            Manfaat dari penyusunan asuhan keperawatan ini, yaitu:
A.  Kegunaan Ilmiah
1.    Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
2.    Sebagai salah satu tugas akademik
B.  Kegunaan Praktis
Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Meningitis


BAB II
KONSEP MEDIS

II. 1. Pengertian
            Merupakan inflamasi yang terjadi pada lapisan arachnoid dan piamatter di otak serta spinal cord. Inflamasi ini lebih sering disebabkan oleh bakteri dan virus meskipun penyebab lainnya seperti jamur dan protozoa juga terjadi.

II. 2. Klasifikasi
            Berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, meningitis dibagi menjadi dua, yaitu:
A.  Meningitis Purulenta
Meningitis purulenta adalah radang selaput otak (aracnoid dan piamater) yang menimbulkan eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan non virus. Penyakit ini lebih sering didapatkan pada anak daripada orang dewasa.
Meningitis purulenta pada umumnya sebagai akibat komplikasi penyakit lain. Kuman secara hematogen sampai keselaput otak; misalnya pada penyakit penyakit faringotonsilitis, pneumonia, bronchopneumonia, endokarditis dan lain lain. Dapat pula sebagai perluasan perkontinuitatum dari peradangan organ/jaringan didekat selaput otak, misalnya abses otak, otitis media, mastoiditis dan lain lain.
Penyebab meningitis purulenta adalah sejenis kuman pneomococcus, hemofilus influenza, stafhylococcus, streptococcus, E.coli, meningococcus, dan salmonella.
Komplikasi pada meningitis purulenta dapat terjadi sebagai akibat pengobatan yang tidak sempurna / pengobatan yang terlambat . pada permulaan gejala meningitis purulenta adalah panas, menggigil, nyeri kepala yang terus menerus, mual dan muntah, hilangnya napsu makan, kelemahan umum dan rasa nyeri pada punggung dan sendi, setelah 12 (dua belas) sampai 24 (dua puluh empat) jam timbul gambaran klinis meningitis yang lebih khas yaitu nyeri pada kuduk dan tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Bila terjadi koma yang dalam , tanda tanda selaput otak akan menghilang, penderita takut akan cahaya dan amat peka terhadap rangsangan, penderita sering gelisah, mudah terangsang dan menunjukan perubahan mental seperti bingung, hiperaktif dan halusinasi. Pada keadaan yang berat dapat terjadi herniasi otak sehingga terjadi dilatasi pupil dan koma.
B.  Meningitis Serosa (Tuberculosa)
Meningits serosa adalah radang selaput otak araknoid dan piameter yang disertai cairan otak yang jernih. Meningitis tuberculosa masih sering dijumpai di Indonesia, pada anak dan orang dewasa. Meningitis tuberculosa terjadi akibat komplikasi penyebab tuberculosis primer, biasanya dari paru paru. Meningitis bukan terjadi karena terinpeksi selaput otak langsung penyebaran hematogen, tetapi biasanya skunder melalui pembentukan tuberkel pada permukaan otak, sumsum tulang belakang atau vertebra yang kemudian pecah kedalam rongga archnoid.
Tuberkulosa ini timbul karena penyebaran mycobacterium tuberculosa. Pada meningitis tuberkulosa dapat terjadi pengobatan yang tidak sempurna atau pengobata yang terlambat. Dapat terjadi cacat neurologis berupa parase, paralysis sampai deserebrasi, hydrocephalus akibat sumbatan , reabsorbsi berkurang atau produksi berlebihan dari likour serebrospinal. Anak juga bias menjadi tuli atau buta dan kadang kadang menderita retardasi mental.
Gambaran klinik pada penyakit ini mulainya pelan. Terdapat panas yang tidak terlalu tinggi, nyeri kepala dan nyeri kuduk, terdapat rasa lemah, berat badan yang menurun, nyeri otot, nyeri punggung, kelainan jiwa seperti halusinasi. Pada pemeriksaan akan dijumpai tanda tanda rangsangan selaput otak seperti kaku kuduk dan brudzinski. Dapat terjadi hemipareses dan kerusakan saraf otak yaitu N III, N IV, N VI, N VII, N VIII sampai akhirnya kesadaran menurun.
Berdasarkan penyebabnya, meningitis dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:
A.  Meningitis Bakteri
Meningitis bakteri adalah meningitis yang disebabkan oleh bakteri, Bakteri infeksi masuk ke susunan saraf pusat melalui peredaran darah atau langsung dari luar pada fraktur atau luka terbuka. Bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis adalah hemofilus influenza, diplococcus pneumonia, streptococcus grup A, stapilococcus aurens, E.coli, klebsiela, dan pseudomonas. Tubuh akan berespon terhadap bakteri sebagai benda asing dan berespon dengan terjadinya peradangan dengan adanya neutrofil, monosit dan limfosit. Cairan eksudat yang terdiri dari bakteri, fibrin dan leukosit terbentuk diruangan subarachnoid ini akan terkumpul didalam cairan otak sehingga dapat menyebabkan lapisan yang tadinya tipis menjadi tebal. Dan pengumpulan cairan ini akan menyebabkan peningkatan intra cranial. Hal ini akan menyebabkan jaringan otak akan mengalami infark.
Faktor predisposisi dari meningitis bakteri diantaranya:
1.    Trauma kepala
2.    Infeksi sitemik/sepsis
3.    Infeksi post pembedahan
4.    Penyakit sistemik.
Ketika organisme patogen masuk ke ruang subaraknoid, maka reaksi peradangan terjadi dan mengakibatkan:
1.    Bendungan cairan serebrospinal
2.    Penumpukan eksudat
3.    Perubahan arteri pada subaraknoid, pembesaran pembuluh darah, ruptur dan trombosis
4.    Perubahan jaringan disekitarnya (edema).
Bakteri-bakteri ini banyak terdapat pada nasopharing. Manifestasi klinik pada meningitis bakteri seperti nyeri kepala, panas, mual muntah, nyeri bagian belakang, kejang umum. Pada keadaan lebih lanjut dapat mengakibatkan penurunan kesadaran sampai menjadi koma. Tekafian darah umumnya normal, namun disertai tanda-tanda uitasi meningial seperti adanya:
1.    Kaku kuduk (nuchal rigidity)
2.    Tanda Burdzinski positif
3.    Tanda Kernig positif.
Untuk memastikan meningitis, selain tanda dan gejala, maka perlu dilakukan pemeriksaan cairan serebrospinal. Pada kultur cairan didapatkan 70-80% kasus adanya mikroorganisme. Apabila ditemukan kuman H. Influenzae biasanya didapatkan:
1.    Adanya peningkatan tekanan CSF.
2.    Peningkatan kadar protein dalam CSF (lebih dari 100 mg/dl)
3.    Menurunnya glukosa CSF
4.    Meningkatnya sel darah putih.
B.  Meningitis Virus
Tipe dari meningitis ini sering disebut aseptic meningitis. Ini biasanya disebabkan oleh berbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti: measles, mumps, herpes simplek dan herpes zoster. Eksudat yang biasanya terjadi pada meningitis bakteri tidak terjadi pada meningitis virus dan tidak ditemukan organisme pada kultur cairan otak. Peradangan terjadi pada seluruh kortek serebri dan lapisan otak. Mekanisme atau respon dari jaringan otak terhadap virus bervariasi tergantung pada jenis sel yang terlibat.
Virus penyebab infeksi pada meningitis masuk melalui sistem respirasi, mulut, genitalia atau melalui gigitan binatang. Manifestasi klinik yang menyertai seperti nyeri kepala, nyeri sekitar muka dan mata, photophobia, dan adanya kaku kuduk. Adanya kelemahan, rash, dan nyeri pada ekstremitas mungkin terjadi. Demam dan tanda-tanda iritasi meningial juga dapat dijumpai seperti adanya kaku kuduk, tanda burdzinski dan kernig. Pada meningitis virus terapi yang utama adalah menghilangkkan gejala (asimtomatik), bedrest pada masa akut, mengurangi rasa nyeri kepala, kontrol demam dan menghindari kejang.

II. 3. Etiologi
A.  Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah:
1.    Haemophillus influenzae
2.    Nesseria meningitides (meningococcal)
3.    Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)
4.    Streptococcus, grup A
5.    Staphylococcus aureus
6.    Escherichia coli
7.    Klebsiella
8.    Proteus
9.    Pseudomonas
B.  Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna
C.  Jamur
D.  Protozoa
E.   Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir kehamilan.
F.   Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobulin.
G.  Kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang berhubungan dengan sistem persarafan.

II. 4. Patofisiologi
            Otak dan medula spinalis dilindungi oleh tiga lapisan meningen yaitu pada bagian paling luar adalah durameter, bagian tengah araknoid, dan bagian dalam piameter. Cairan otak dihasilkan didalam pleksus choroid ventrikel bergerak/mengalir melalui sub arachnoid dalam system ventrikuler seluruh otak dan sumsum tulang belakang, direabsorbsi melalui villi arachnoid yang berstruktur seperti jari jari didalam lapisan subarchnoid.
            Organisme (virus/bakteri) yang dapat menyebabkan meningitis, memasuki cairan otak melalui aliran darah didalam pembuluh darah otak. Cairan hidung (secret hidung) atau secret telinga yang disebabkan oleh fraktur tulang tengkorak dapat menyebabkan meningitis karena hubungan langsung antara cairan otak dengan lingkungan (dunia luar), mikroorganisme yang masuk dapat berjalan kecairan otak melalui ruangan subarachnoid. Adanya mikroorganisme yang patologis merupakan penyebab peradangan pada piamater, arachnoid, cairan otak dan ventrikel. Eksudat yang dibentuk akan menyebar, baik kecranial maupun kesaraf spinal yang dapat menyebabkan kemunduran neurologis selanjutnya, dan eksudat ini dapat menyebabkan sumbatan aliran normal cairan otak dan dapat menyebabkan hydrocephalus.

II. 5. Manifestasi Klinik
            Gejala meningitis diakibatkan dari infeksi dan peningkatan TIK :
A.  Sakit kepala dan demam (gejala awal yang sering)
B.  Perubahan pada tingkat kesadaran dapat terjadi letargik, tidak responsif, dan koma.
C.  Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda sbb :
1.    Rigiditas nukal (kaku leher). Upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya spasme otot-otot leher.
2.    Tanda kernik positip: ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadan fleksi kearah abdomen, kaki tidak dapat di ekstensikan sempurna.
3.    Tanda brudzinki : bila leher pasien di fleksikan maka dihasilkan fleksi lutut dan pinggul. Bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi maka gerakan yang sama terlihat peda sisi ektremita yang berlawanan.
D.  Mengalami foto fobia, atau sensitif yang berlebihan pada cahaya.
E.   Kejang akibat area fokal kortikal yang peka dan peningkatan TIK akibat eksudat purulen dan edema serebral dengan tanda-tanda perubahan karakteristik tanda-tanda vital(melebarnya tekanan pulsa dan bradikardi), pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah dan penurunan tingkat kesadaran.
F.   Adanya ruam merupakan ciri menyolok pada meningitis meningokokal.
G.  Infeksi fulminating dengan tanda-tanda septikimia : demam tinggi tiba-tiba muncul, lesi purpura yang menyebar, syok dan tanda koagulopati intravaskuler diseminata.
II. 6. Pemeriksaan Diagnostik
A.  Laboratorium
1.    Darah
a.    Glukosa serum : meningkat (meningitis)
b.    LDH serum : meningkat (meningitis bakteri)
c.    Sel darah putih: sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil (10.000-40.000/mm3)
d.   Elektrolit darah: Abnormal.
2.    Urine : Albumin, sel darah merah, sel adarah putih ada dalam urine.
3.    Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi.
B.  Radiografi: untuk menentukan adanya sumber infeksi, misalnya rontgen dada untuk menentukan adanya penyakit paru seperti TBC paru, pneumonia, abses paru. Scan otak untuk menentukan kelainan otak serta dapat membantu dalam melokalisasi lesi, melihat ukuran/letak ventrikel; hematom daerah serebral, hemoragik atau tumor.
C.  Analisis CSS dari fungsi lumbal (lumbal pungsi):
1.    Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap beberapa jenis bakteri.
2.    Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif, kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

II. 7. Penatalaksanaan
A.  Penatalaksanaan Umum
1.    Pasien diisolasi
2.    Pasien diistirahatkan / bad rest
3.    Kontrol hipetermia dengan kompres, pemberian antipiretik seperti parasetamol, asam salisilat. Kontrol kejang: diazepam atau fenobarbital.
4.    Kontrol peningkatan tekanan intrakranial: Manitol, kortikosteroid
5.    Pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi.
B.  Pemberian Antibiotik
Antibiotik diberikan 10-14 hari atau sedikitnya 7 hari bebas panas. Antibiotik yang umum diberikan adalah Penicillin G, Ampicillin, Gentamysin, kloromfenikol dan sefalosporin.

II. 8. Komplikasi
            Kemungkinan komplikasi yang akan timbul pada meningitis, yaitu:
A.  Peningkatan tekanan intrakranial (TIK)
B.  Hydrosephalus
C.  Infark serebral
D.  Defisit saraf kranial
E.   Ensenfalitis
F.   Syndrom of Inappropriate Secretion of Antidiuretic Hormon (SIADH)
G.  Abses otak
H.  Kerusakan visual
I.     Defisit intelektual
J.     Kejang
K.  Endokarditis
L.   Pneumonia.
M. MeningococcL Septicemia (mengingocemia)
N.  Efusi subdural
O.  Cerebral palcy





BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

III. 1. Pengkajian
A.  Data Umum dan Psikososial pasien
1.    Usia
2.    Pekerjaan
3.    Reran keluarga
4.    Penampilan sebelum sakit
5.    Mekanisme koping
6.    Tempat tinggal yang kumuh.
B.  Riwayat Kesehatan Sekarang
Faktor riwayat penyakit sangat penting diketahui karena untuk mengetahui jenis kuman penyebab. Disini harus ditanya dengan jelas tetang gejala yang timbul seperti kapan mulai serangan, sembuh atau bertambah buruk. Pada pengkajian pasien meningitis biasanya didapatkan keluhan yang berhubungan dengan akibat dari infeksi dan peningkatan TIK. Keluhan tersebut diantaranya, sakit kepala dan demam adalah gejala awal yang sering. Sakit kepala berhubungan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit.
Keluhan kejang perlu mendapat perhatian untuk dilakukan pengkajian lebih mendalam, bagaimana sifat timbulnya kejang, stimulus apa yang sering menimbulkan kejang dan tindakan apa yang telah diberikan dalam upaya menurunkan keluhan kejang tersebut.
pengkajian lainnya yang perlu ditanyakan seperti riwayat selama menjalani perawatan di RS, pernahkah mengalami tindakan invasive yang memungkinkan masuknya kuman kemeningen terutama tindakan melalui pembuluh darah.
C.  Riwayat Penyakit Dahulu
Pengkajian penyakit yang pernah dialami pasien yang memungkinkan adanya hubungan atau menjadi predisposisi keluhan sekarang meliputi pernahkah pasien mengalami infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, tindakan bedah saraf, riwayat trauma kepala dan adanya pengaruh immunologis pada masa sebelumnya.
Riwayat sakit TB paru perlu ditanyakan pada pasien terutama apabila ada keluhan batuk produktif dan pernah menjalani pengobatan obat anti TB yang sangat berguna untuk mengidentifikasi meningitis tuberculosia.
Pengkajian pemakaian obat obat yang sering digunakan pasien, seperti pemakaian obat kortikostiroid, pemakaian jenis jenis antibiotic dan reaksinya (untuk menilai resistensi pemakaian antibiotic).
D.  Pemeriksaan Fisik
1.    Aktivitas / istirahat
Gejala : perasaan tidak enak (malaise ), keterbatasan yang ditimbulkan kondisinya.
Tanda : Ataksia, masalah berjalan, kelumpuhan, gerakan involunter, kelemahan secara umum, keterbatasan dalam rentang gerak
2.    Sirkulasi
Gejala : adanya riwayat kardiologi, seperti endokarditis, beberapa penyakit jantung Conginetal ( abses otak ).
Tanda : tekanan darah meningkat, nadi menurun dan tekanan nadi berat (berhubungan dengan peningkatan TIK dan pengaruh dari pusat vasomotor). Takikardi, distritmia (pada fase akut) seperti distrimia sinus (pada meningitis)
3.    Eleminasi
Tanda : Adanya inkotinensia dan retensi.
4.    Makanan dan Cairan
Gejala : Kehilangan napsu makan, kesulitan menelan (pada periode akut)
Tanda : Anoreksia, muntah, turgor kulit jelek, membrane mukosa kering.
5.    Hygiene
Tanda : Ketergantungan terhadap semua kebutuhan perawatan diri (pada periode akut)
6.    Neurosensori
Gejala : sakit kepala (mungkin merupan gejala pertama dan biasanya berat), Pareslisia, Terasa kaku pada semua persarafan yang terkena, kehilangan sensasi (kerusakan pada saraf cranial). Hiperalgesia/ meningkatnya sensitifitas (minimitis). Timbul kejang (minimitis bakteri atau abses otak) gangguan dalam penglihatan, seperti Diplopia (fase awal dari beberapa infeksi). Fotopobia (pada minimtis). Ketulian (pada minimitis/ encephalitis) atau mungkin hipersensitifitas terhadap kebisingan, adanya hulusinasi penciuman / sentuhan.
Tanda :
a.    status mental / tingkat kesadaran ; letargi sampai kebingungan yang berat hingga koma, delusi dan halusinasi / psikosis organic (encephalitis).
b.    Kehilangan memori, sulit mengambil keputusan (dapat merupakan gejala berkembangnya hidrosephalus komunikan yang mengikuti meningitis bacterial)
c.    Afasia/ kesulitan dalam berkomunikasi.
d.   Mata (ukuran/ reaksi pupil): unisokor atau tidak berespon terhadap cahaya(peningkatan TIK), nistagmus (bola mata bergerak terus menerus).
e.    Ptosis  kelopak mata atas jatuh) . Karakteristik fasial (wajah); perubahan pada fungsi motorik da nsensorik (saraf cranial V dan VII terkena)
f.     Kejang umum atau lokal ( pada abses otak ) . Kejang lobus temporal . Otot mengalami hipotonia /flaksid paralisis ( pada fase akut meningitis). Spastik (encephalitis).
g.    Hemiparese hemiplegic (meningitis / encephalitis)
h.    Tanda brudzinski positif dan atau tanda kernig positif merupakan indikasi adanya iritasi meningeal (fase akut)
i.      Regiditas muka (iritasi meningeal)
j.      Refleks tendon dalam terganggu, brudzinski positif
k.    Refleks abdominal menurun.
7.    Nyeri / Kenyamanan
Gejala : sakit kepala ( berdenyut dengan hebat, frontal ) mungkin akan diperburuk oleh ketegangan leher /punggung kaku ,nyeri pada gerakan ocular, tenggorokan nyeri
Tanda : Tampak terus terjaga, perilaku distraksi /gelisah menangis / mengeluh.
8.    Pernapasan
Gejala : Adanya riwayat infeksi sinus atau paru
Tanda : Peningkatan kerja pernapasan (tahap awal ), perubahan mental (letargi sampai koma) dan gelisah.
9.    Keamanan
Gejala :
a.    Adanya riwayat infeksi saluran napas atas atau infeksi lain, meliputi mastoiditis telinga tengah sinus, abses gigi, abdomen atau kulit, fungsi lumbal, pembedahan, fraktur pada tengkorak / cedera kepala.
b.    Imunisasi yang baru saja berlangsung ; terpajan pada meningitis, terpajan oleh campak, herpes simplek, gigitan binatang, benda asing yang terbawa.
c.    Gangguan penglihatan atau pendengaran
Tanda:
a.    suhu badan meningkat,diaphoresis, menggigil
b.    Kelemahan secara umum ; tonus otot flaksid atau plastic
c.    Gangguan sensoris.

III. 2. Diagnosa
            Diagnosa keperawatan dari meningitis, yaitu:
1.    Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan, peningkatan tekanan intra kranial (TIK)
Ditandai dengan :
a.    Perubahan kesadaran
b.    Perubahan tanda vital
c.    Perubahan pola napas, bradikardia
d.   Nyeri kepala
e.    Mual dan muntah
f.     Kelemahan motorik
g.    Kerusakan pada Nervus kranial III, IV, VI, VII, VIII
h.    Refleks patologis
i.      Perubahan nilai ACD
j.      Hasil pemeriksaan CT scan adanya edema serebri, abses
k.    Pandangan kabur
2.    Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang, penurunan kesadaran dan status mental.
Ditandai dengan:
a.    Penurunan kesadaran
b.    Aktivitas kejang
c.    Perubahan status mental
3.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum, defisit neurologik.
Ditandai dengan:
a.    Pasien mengatakan lemah
b.    Paralisis, parese, hemiplegia, tremor
c.    Kekuatan otot kurang
d.   Kontraktur, atropi.
4.    Hipertermia berhubungan dengan infeksi
Ditandai dengan
a.    Pasien mengatakan demam dan rasa haus
b.    Suhu tubuh diatas 38o C.
c.    Perubahan tanda vital
d.   Kulit kering
e.    Peningkatan leukosit
5.    Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat, kehilangan cairan.
Ditandai dengan:
a.    Pasien mengatakan demam dan rasa haus, muntah
b.    Suhu tubuh di atas 38oC.
c.    Turgor kulit kurang
d.   Mukosa mulut kering
e.    Urine pekat
f.     Perubahan nilai elektrolit
6.    Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, kelemahan, mual dan muntah, intake yang tidak adekuat.
Ditandai dengan:
a.    Pasien mengatakan tidak nafsu makan, mual dan muntah
b.    Pasien tidak menghabiskan makanan yang telah disediakan
c.    Diet makan
d.   Penurunan BB
e.    Adanya tanda-tanda kekurangan nutrisi: anemis, cepat lelah.
f.     Hb dan Albumin kurang dari normal
g.    Tekanan darah kurang dari normal.
7.    Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala, kaku kuduk, iritasi meningeal.
Ditandai dengan:
a.    Pasien menguluh nyeri kepala, kaku pada leher dan merasa tidak nyaman
b.    Ekspresi wajah menunjukkan rasa nyeri
c.    Kaku kuduk positif
d.   Peningkatan nadi

III. 3. Intervensi
            Intervensi yang direncanakan pada klien dengan gangguan meningitis, yaitu:
1.    Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan proses peradangan, peningkatan tekanan intra kranial (TIK)
Kriteria hasil:
a.    Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi
b.    Tanda vital dalam batas normal
c.    Tidak terjadi defisit neurologi
Intervensi:
a.    Monitor status neurologi setiap 2 jam: tingkat kesadaran, pupil, refleks, kemampuan motorik, nyri kepala, kaku kuduk.
R/ : Tanda dari iritasi meningeal terjadi akibat peradangan dan mengakibatkan peningkatan TIK.
b.    Monitor tanda vital dan temperatur setiap 2 jam.
R/ : perubahan tekanan nadi dan bradikardia indikasi herniasi otak dan peningkatan TIK.
c.    Kurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK: batuk, mengedan, muntah, menahan napas.
R/ : Menhindari peningktan TIK.
d.   Berikan waktu istirahat yang cukup dan kurangi stimulus lingkungan.
R/ : mengurangi peningkatan TIK.
e.     Tinggikan posisi kepala 30-40o pertahankan kepala pada posisi neutral, hindari fleksi leher.
R/ : Memfasilitasi kelancaran aliran darah vena.
f.     Kolaborasi dalam pemberian diuretik osmotik, steroid, oksigen, antibiotik.
R/ : Mengurangi edema serebral, memenuhi kebutuhan oksigenasi, menghilangkan faktor penyebab.
2.    Resiko injuri: jatuh berhubungan dengan aktivitas kejang, penurunan kesadaran dan status mental.
Kriteria hasil:
a.    Mempertahankan tingkat kesadaran dan orientasi
b.    Kejang tidak terjadi
c.    Injuri tidak terjadi
Intervensi:
a.    Kaji status neurologi setiap 2 jam.
R/ : Menentukan keadaan pasien dan resiko kejang.
b.    Pertahankan keamanan pasien seperti penggunaan penghalangtempat tidur, kesiapan suction, spatel, oksigen.
R/ : Mengurangi resiko injuri dan mencegah obstruksi pernapasan.
c.    Catat aktivitas kejang dan tinggal bersama pasien selama kejang.
R/ : Merencanakan intervensi lebih lanjut dan mengurangi kejang.
d.   Kaji status neurologik dan tanda vital setelah kejang.
R/ : Mengetahui respon post kejang.
e.    Orientasikan pasien ke lingkungan.
R/ : Setelah kejang kemungkinan pasien disorientasi.
f.     Kolaborasi dalal pemberian obat anti kejang.
R/ : Mengurangi resiko kejang / menghentikan kejang.
3.    Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan umum, defisit neurologik.
Kriteria hasil:
a.    Pasien dapat mempertahankan mobilisasinya secara optimal.
b.    Integritas kulit utuh.
c.    Tidak terjadi atropi.
d.   Tidak terjadi kontraktur.
Intervensi:
a.    Kaji kemampuan mobilisasi.
R/ : Hemiparese mungkin dapat terjadi.
b.    Alih posisi pasien setiap 2 jam.
R/ : Menghindari kerusakan kulit.
c.    Lakukan masage bagian tubuh yang tertekan.
R/ : Melancarkan aliran darah dan mencegah dekubitus.
d.   Lakukan ROM pasive.
R/ : Menghindari kontraktur dan atropi.
e.    Monitor tromboemboli, konstipasi.
R/ : Komplikasi immobilitas.
f.     Konsul pada ahli fisioterapi jika diperlukan.
R/ : Perencanaan yang penting lebih lanjut.
4.    Hipertermia berhubungan dengan infeksi
Kriteria Hasil:
a.    Suhu tubuh normal 36,5 – 37, 5o C.
b.    Tanda vital normal.
c.    Turgor kulit baik.
d.   Pengeluaran urine tidak pekat, elektrolit dalam batas normal.
Intervensi:
a.    Monitor suhu setiap 2 jam.
R/ : Mengetahui suhu tubuh.
b.    Monitor tanda vital.
R/ : Efek dari peningkatan suhu adalah perubahan nadi, pernapasan dan tekanan darah.
c.    Monitor tanda-tanda dehidrasi.
R/ : Tubuh dapat kehilngan cairan melalui kulit dan penguapan.
d.   Berikan obat anti pireksia.
R/ : Mengurangi suhu tubuh.
e.    Berikan minum yang cukup 2000 cc/hari.
R/ : Mencegah dehidrasi.
f.     Lakukan kompres dingin dan hangat.
R/ : Mengurangi suhu tubuh melalui proses konduksi.
g.    Monitor tanda-tanda kejang.
R/ : Suhu tubuh yang panas berisiko terjadi kejang.
5.    Ketidakseimbangan cairan berhubungan dengan intake tidak adekuat, kehilangan cairan.
Kriteria Hasil :
a.    Suhu tubuh normal 36,5 – 37, 5o C.
b.    Tanda vital normal.
c.    Turgor kulit baik.
d.   Pengeluaran urine tidak pekat, elektrolit dalam batas normal.
Intervensi:
a.    Ukur tanda vital setiap 4 jam.
R/ : Ketidak seimbangan cairan dan elektrolit menimbulkan perubahan tanda vital seperti penurunan tekanan darah, dan peningkatan nadi.
b.    Monitir hasil pemeriksaan laboratorium terutama elektrolit.
R/ : Mengetahui perbaikan atau ketidak seimbangan cairan dan elektrolit.
c.    Observasi tanda-tanda dehidrasi.
R/ : Mencegah secara dini terjadinya dehidrasi.
d.   Catat intake dan output cairan.
R/ : Mengetahui keseimbangan cairan.
e.    Berikan minuman dalam porsi sedikit tetapi sering.
R/ : Mengurangi distensi gaster.
f.     Pertahankan temperatur tubuh dalam batas normal.
R/ : Peningkatan temperatur mengakibatkan pengeluaran cairan lewat kulit bertambah.
g.    Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena.
R/ : Pemenuhan kebutuhan cairan dengan IV akan mempercepat pemulihan dehidrasi.
h.    Pertahankan dan monitor tekanan vena setral.
R/ : Tekanan vena sentral untuk mengetahui keseimbangan cairan.
6.    Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, kelemahan, mual dan muntah, intake yang tidak adekuat.
Kriteria hasil:
a.    Nafsu makan pasien baik.
b.    Pasien dapat menghabiskan makanan yang telah disediakan RS.
c.    Terjadi peningkatan BB secara bertahap.
d.   Tanda-tanda kurang nutrisi tidak ada.
e.    Hb dan albumin dalam batas normal.
f.     Tanda vital normal.
Intervensi:
a.    Kaji makanan kesukaan pasien.
R/ : Meningkatkan selera makan pasien.
b.    Berikan makan dalam porsi kecil tapi sering.
R/ : Menhindari mual dan muntah.
c.    Hindari berbaring kurang 1 jam setelah makan.
R/ : Posisi berbaring saat makanan dalam lambung penuh dapat mengakibatkan refluks dan tidak nyaman.
d.   Timbang BB 3 hari sekali secara periodik.
R/ : Penuruna BB berarti kebutuhan makanan kurang.
e.    Berikan antiemetik 1 jam sebelum makan.
R/ : Menekan rasa mual dan muntah.
f.     Kurangi minum sebelum makan.
R/ : Minum yang banyak sebelum makan mengurangi intake makanan.
g.    Hindari keadaan yang dapat menggangu selera makan: lingkungan kotor, bau, kebersihan tempat makan, suara gaduh.
R/ : Meningkatkan selera makan.
h.    Sajikan makanan dalam keadaan hangat dan hygiene, menarik.
R/ : Meningkatkan selera makan.
i.      Lakukan perawatan mulut.
R/ : Meningkatkan nafsu makan.
j.      Monitor kadar Hb dan albumin.
R/ : Mengetahui status nutrisi.
7.    Nyeri berhubungan dengan nyeri kepala, kaku kuduk, iritasi meningeal.
Kriteria hasil:
a.    Nyeri berkurang atau tidak terjadi
b.    Ekspresi wajah tidak menunjukkan rasa nyeri
c.    Tanda vital dalam batas normal.
Intervensi
a.    Kaji tingkat nyeri pasien.
R/ : Mengetahui derajat nyeri pasien.
b.    Kaji faktor yang dapat meringankan dan memperberat nyeri.
R/ : Mengetahui penanganan yang efektif.
c.    Lakukan perubahan posisi.
R/ : Meningkatkan rasa nyaman.
d.   Jaga lingkungan untuk tetap nyaman: mengurangi cahaya, keadaan bising.
R/ : Meningkatkan rasa nyaman.
e.    Lakukan massage pada daerah yang nyeri secara lembut, kompres hangat.
R/ : Meningkatkan relaksasi.
f.     Berikan obat analgetik sesuai program.
R/ : Mengurangi nyeri.

III. 4. Implementasi
            Tindakan yang dilakukan pada klien meningitis, yaitu:
1.        Memonitor tanda vital
2.        Memonitor status neurologi
3.        Mengkaji kemampuan mobilisasi
4.        Memonitor suhu
5.        Mengkaji tingkat nyeri
6.        Menkaji aktivitas kejang
7.        Mengurangi aktivitas yang dapat menimbulkan peningkatan TIK
8.        Memberikan waktu istirahat yang cukup
9.        Mempertahankan keamanan pasien
10.    Kolaborasi dalam pemberian obat diuretik, antibiotik, antikejang, analgetik, antipireksia.
11.    Mengorientasi pasien ke lingkungan
12.    Memberikan kompres dingin atau hangat
13.    Memberikan minuman dan makanan dalam jumlah sedikit tapi sering
14.    Menjaga lingkungan agar tetap nyaman.

III. 5. Evaluasi
            Hasil yang diharapkan adalah:
1.    Mencapai masa penyembuhan tepat waktu, tanpa bukti penyebaran infeksi endogen atau keterlibatan orang lain.
2.    Mempertahankan tingkat kesadaran biasanya/membaik dan fungsi motorik/sensorik, mendemonstrasikan tanda-tanda vital stabil.
3.    Tidak mengalami kejang/penyerta atau cedera lain.
4.    Melaporkan nyeri hilang/terkontrol dan menunjukkan postur rileks dan mampu tidur/istirahat dengan tepat.
5.    Mencapai kembali atau mempertahankan posisi fungsional optimal dan kekuatan.
6.    Meningkatkan tingkat kesadaran biasanya dan fungsi persepsi.
7.    Tampak rileks dan melaporkan ansietas berkurang dan mengungkapkan keakuratan pengetahuan tentang situasi.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar