Selasa, 31 Januari 2012

ASKEP Pneumonia


Keperawatan Anak II
Dosen MK:     1. Ns. Fatmawati S.Kep.
Asuhan Keperawatan Anak
Pneumonia
 





Kelompok V
Kelas B & C
Syawir
Dana Warsita
Nur Azmi Maapawati
Musdalifa
Harmi
Mardiana S.

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM MAKASSAR
MAKASSAR
2011
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat dan inayah-Nyalah sehingga kami masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan tugas asuhan keperawatan mata kuliah Keperawatan Anak II yang mengenail “Pneumonia”.
Tidak lupa pula kami mengucapkan terimakasih kepada  dosen mata kuliah Keperawatan Anak II yang tiada henti-hentinya membimbing kami dan memberikan waktu untuk menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari bahwa asuhan keperawatan anak ini masih memiliki kekurangan, maka dari itu kami mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan sarannya agar kami dapat menutupi kekurangan dalam menyusun asuhan keperawatan berikutnya.
                                                                        Makassar,  Mei 2011

                                                                                    Penyusun











BAB I
PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Infeksi saluran napas bawah akut (ISNBA) menimbulkan angka kesakitan dan kematian yang tinggi serta kerugian produktivitas kerja. ISNBA dapat dijumpai dalam berbagai bentuk dan yang tersering adalah pneumonia. Pneumonia dapat terjadi secara primer atau merupakan tahap lanjutan manifestasi ISNBA lainnya.
            Dengan penggunaan antibiotik yang tepat dan adekuat, mortalitas dapat diturunkan sampai kurang dari 1%. Anak dalam keadaan malnutrisi energi protein menunjukkan mortalitas yang tinggi.

I. 2. Permasalahan
            Permasalahan yang timbul sehingga disusunnya asuuhan keperawatan  ini adalah bagaimana seharusnya tindakan asuhan keperawatan anak pada kasus Pneumonia?

I. 3. Tujuan
            Tujuan disusunnya asuhan keperawatan ini adalah:
A.    Tujuan Umum
Untuk memenuhi kegiatan belajar mengajar dari mata kuliah Keperawatan Anak II.
B.     Tujuan Khusus
1.      Memperoleh gambaran mengenai Pneumonia.
2.      Dapat memahami tentang konsep asuhan keperawatan pasien dengan Pneumonia.

I. 4. Manfaat
            Manfaat dari penyusunan asuhan keperawatan ini, yaitu:
A.    Kegunaan Ilmiah
1.      Sebagai bahan bacaan bagi mahasiswa
2.      Sebagai salah satu tugas akademik
B.     Kegunaan Praktis
Bermanfaat bagi tenaga perawat dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan Pneumonia













.







BAB II
KONSEP MEDIS
II. 1. Pengertian
Pneumonia merupakan peradangan yang mengenai parenkim paru, distal dari bronkiolus terminalis yang mencakup bronkiolus respiratorius dan alveoli, serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat, yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda asing.
Pneumonia adalah penyakit paru-paru dan sistem pernafasan dimana alveoli (kantung udara penuh mikroskopik paru-paru bertanggung jawab untuk mengambil oksigen dari lingkungan) menjadi bengkak dan dibanjiri dengan cairan.
Terjadinya pneumonia pada anak seringkali bersamaan dengan proses infeksi akut pada bronkus (biasa disebut bronchopneumonia). Gejala penyakit ini berupa napas cepat dan napas sesak, karena paru meradang secara mendadak. Batas napas cepat adalah frekuensi pernapasan sebanyak 50 kali per menit atau lebih pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, dan 40 kali permenit atau lebih pada anak usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun. Pada anak dibawah usia 2 bulan, tidak dikenal diagnosis pnemonia. Pneumonia pada anak-anak paling sering disebabkan oleh virus pernafasan, dan puncaknya terjadi pada umur 2-3 tahun. Pada usia sekolah, pneumonia paling sering disebabkan oleh bakteri Mycoplasma pneumoniae.
Pneumonia Berat ditandai dengan adanya batuk atau (juga disertai) kesukaran bernapas, napas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah ke dalam (severe chest indrawing) pada anak usia 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Pada kelompok usia ini dikenal juga Pneumonia sangat berat, dengan gejala batuk, kesukaran bernapas disertai gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum. Sementara untuk anak dibawah 2 bulan, pnemonia berat ditandai dengan frekuensi pernapasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih atau (juga disertai) penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
            Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada sejumlah penyebab noninfeksi yang kadang-kadang perlu dipertimbangkan. Penyebab noninfeksi tersebut meliputi aspirasi makanan dan/atau asam lambung, benda asing, hidrokarbon, bahan lipoid, serta akibat obat maupun radiasi.
           
II. 2. Klasifikasi
            Berdasarkan penyebabnya, pneumonia dapat dibagi menjadi:
a.       Pneumonia bakteri.
b.      Pneumonia virus.
c.       Pneumonia Jamur.
d.      Pneumonia aspirasi.
e.       Pneumonia hipostatik.
Berdasarkan letak antomi, pneumonia dapat dibagi menjadi:
a.       Pneumonia lobaris adalah radang paru-paru yang mengenai sebagian besar/seluruh lobus paru-paru.
b.      Pneumonia lobularis (bronchopneumonia) adalah radang pada paru-paru yang mengenai satu/beberapa lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrate.
c.       Pneumonia interstitialis (bronkhiolitis) adalah radang pada dinding alveoli (interstitium) dan peribronkhial dan jaringan interlobular.

II. 3. Etiologi
Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti :
  1. Bakteri: stapilokokus, streplokokus, aeruginosa, eneterobacter
  2. Virus: virus influenza, adenovirus.
  3. Micoplasma pneumonia
  4. Jamur: candida albicans
  5. Aspirasi: lambung
Etiologi pneumonia berbeda-beda pada berbagai tipe dari pneumonia, dengan cara penularan yang berbeda, dan hal ini berdampak kepada obat yang diberikan. Berdasarkan pembagian etiologisnya, pneumonia dibedakan menjadi : pneumonia bakteri, pneumonia virus, mycoplasma pneumoniae, pneumonia akibat jamur, pneumonia aspirasi, pneumonia hipostatik, dan sindrom Loeffler.
Bakteri  merupakan penyebab utama pneumonia. Pneumonia bakteri itu sendiri bisa diakibatkan Diplococcus pneumoniae, Pneumococcus, Streptococcus hemolyticus, Streptococcus aureus, Haemophilus influenzae, Bacillus Friedlander, Staphilococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, E.coli. penyebab pneumonia bakteri yang paling lazim pada anak normal adalah Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan S.pyogens.
Streptococcus pneumoniae (Pneumonia pneumokokus) penyebab paling sering dari pneumonia bakteri, baik yang didapat dari masyarakat maupun dari rumah sakit. Biasanya ditularkan melalui droplet (percikan mucus atau saliva). Staphilococcus aureus (kokus gram positif) dan basil aerobic gram negatif, termasuk Pseudomonas aeruginosa, Klebsiella pneumoniae, dan E.coli, menyebabkan sebagian besar pneumonia nosokomial, dimana pneumonia ini menyebabkan kerusakan yang luas pada parenkim paru dan sering menimbulkan komplikasi seperti emfisema dan abses paru. Pneumonia yang disebabkan oleh organisme Pseudomonas paling sering ditemukan pada pasien yang sakit berat yang dirawat di RS, atau yang mengalami supresi sistem pertahanan tubuh, dan seringkali diakibatkan kontaminasi peralatan ventilasi. Staphilococcus aureus biasanya menular melalui slang infus pada pasien rawat inap yang lemah.
Virus pernapasan merupakan penyebab pneumonia yang paling sering selama usia beberapa tahun pertama. Pneumonia virus bisa diakibatkan Respiratory syncytial virus (RSV), virus influenza, adenovirus, dan cytomegalovirus. RSV merupakan virus yang paling sering menyebabkan pneumonia, terutama selama masa bayi.
Pneumonia bisa juga disebabkan jamur, antara lain Histoplasma capsulatum, Cryptococcus neoformans, Blastomycosis dermatitides, Coccidioides immitis, Aspergillus, dan Candida albicans. Pneumonia aspirasi disebabkan oleh makanan, kerosin, cairan amnion, dan benda asing.
Penyebab pneumonia yang didapat dalam masyarakat dengan pneumonia yang didapat di RS tentunya berbeda. Infeksi nosokomial lebih sering disebabkan oleh bakteri gram negatif.

II. 4. Patofisiologi
Agen-agen mikroba yang menyebabkan pneumonia memiliki tiga bentuk transmisi primer, yaitu (1) aspirasi sekret yang berisi mikroorganisme pathogen yang telah berkolonisasi pada orofaring, (2) inhalasi aerosol yang infeksius, dan (3) penyebaran hematogen dari bagian ekstrapulmonal. Aspirasi dan inhalasi agen infeksius merupakan cara tersering yang menyebabkan pneumonia, sementara penyebaran hematogen jarang terjadi.
1. Pneumonia pneumokokus
            Pneumococcus masuk ke dalam paru melalui jalan pernapasan secara droplet (percikan). Proses radang pneumonia dapat dibagi atas 4 stadium, yaitu :
a.       Stadium kongesti (4-12 jam pertama)
Ø  Kapiler melebar dan kongesti
Ø   Eksudat jernih, bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag masuk ke dalam alveoli melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor
b.      Stadium hepatisasi merah (48 jam berikutnya)
Ø  Lobus dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak mengandung udara dan perabaan seperti hepar
Ø  Warna menjadi merah dan bergranula karena terdapat fibrin, leukosit neutrofil, eksudat dan banyak sekali eritrosit dan kuman yang mengisi alveoli
c.       stadium hepatisasi kelabu (3-8 hari)
Ø  lobus masih tetap padat dan warna merah menjadi pucat kelabu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveoli yang terserang
Ø  permukaan pleura suram karena diliputi fibrin
Ø  kapiler tidak kongestif lagi
d.      Resolusi (7-11 hari)
Ø  Eksudat mengalami lisis dan direabsorpsi oleh makrofag sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula
2. Pneumonia aspirasi
            Pneumonia aspirasi mengarah kepada konsekuensi patologis akibat sekret orofaringeal, nanah, atau isi lambung yang masuk ke saluran napas bagian bawah. Kebanyakan individu mengaspirasi sedikit sekret orofaringeal selama tidur, dan sekret tersebut akan dibersihkan secara normal tanpa gejala sisa melalui mekanisme pertahanan normal.
3. Pneumonia mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri, meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia. Tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
4. Pneumonia hipostatik
            Pneumonia yang sering timbul pada dasar paru dan disebabkan oleh napas yang dangkal, dan terus-menerus berada dalam posisi yang sama. Gaya gravitasi menyebabkan darah tertimbun pada bagian bawah paru, dan infeksi membentuk timbulnya pneumonia yang sesungguhnya.
5. Pneumonia bakteri
Pneumonia pneumokokus mungkin ditemukan pada anak yang lebih tua, tetapi jarang diamati pada bayi dan anak muda. Riwayat klasik dingin menggigil yang disertai dengan demam tinggi, batuk, dan nyeri dada. Pada stadium permulaan sukar dibuat diagnosis untuk pemeriksaan fisik, tetapi dengan adanya napas cepat dan dangkal disertai pernapasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa hari dapat ditemukan batuk yang mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
Pada  bayi, infeksi saluran pernapasan atas mendahului pneumonia, yang ditandai dengan hidung tersumbat, rewel, dan nafsu makan berkurang. Sakit ringan ini yang berakhir beberapa hari lamanya dengan mulainya mendadak demam 39 ºC atau lebih tinggi, gelisah, ketakutan, dan distress respirasi. Penderita tampak sakit dengan megap-megap sedang sampai berat dan sering sianosis. Distres pernapasan ditampakkan dengan mendengkur/grunting; pelebaran cuping hidung; retraksi daerah supraklavikuler, interkostal, dan subkostal; takipneu; takikardi.
Pada anak, tanda-tanda dan gejalanya serupa dengan orang dewasa. Sesudah infeksi pernapasan atas ringan, sering merasa dingin menggigil yang disertai dengan demam setinggi  40,5 ºC. Demam ini disertai dengan perasaan mengantuk, dengan sebentar-sebentar gelisah; pernapasan cepat; batuk kering pendek, tidak produktif; cemas;dan kadang-kadang delirium atau mengigau. Terdapat kelainan dada, termasuk retraksi, pelebaran cuping hidung, perkusi redup, hilangnya fremitus palpasi dan vokal, suara pernapasan hilang dan ronki halus serta krepitasi pada sisi yang terkena.
6. Pneumokokus virus
            Biasanya ditemukan demam, tetapi suhu biasanya lebih rendah daripada pneumonia bakteri. Takipneu, yang disertai dengan retraksi interkostal, subkostal, dan suprasternal; pelebaran cuping hidung; dan penggunaan otot tambahan sering ada. Infeksi berat dapat disertai sianosis dan kelelahan pernapasan. Auskultasi dada dapat menampakkan ronki dan mengi yang luas dengan dada hipersonor.
Pneumonia mikoplasma
Gejala yang paling sering adalah batuk berat, namun dengan sedikit lendir. Demam dan menggigil hanya muncul di awal, dan pada beberapa pasien bisa mual dan muntah. Rasa lemah baru hilang dalam waktu lama.

II. 5. Faktor Resiko
Berikut ini adalah faktor-faktor yang meningkatkan resiko berjangkitnya Pneumonia:
  • Umur dibawah 2 bulan
  • Jenis kelamin laki-laki 
  • Gizi kurang 
  • Berat badan lahir rendah 
  • Tidak mendapat ASI memadai 
  • Polusi udara 
  • Kepadatan tempat tinggal 
  • Imunisasi yang tidak memadai 
  •  Membedong bayi 
  • Defisiensi vitamin A
Faktor-faktor yang meningkatkan resiko kematian akibat Pnemonia :
  • Umur dibawah 2 bulan 
  • Tingkat sosio ekonomi rendah 
  • Gizi kurang 
  • Berat badan lahir rendah 
  • Tingkat pendidikan ibu rendah 
  • Tingkat pelayanan (jangkauan) pelayanan kesehatan rendah 
  • Kepadatan tempat tinggal 
  • Imunisasi yang tidak memadai 
  • Menderita penyakit kronis

II. 6. Manifestasi Klinik
a.       Biasanya didahului infeksi saluran pernafasan bagian atas akut selama beberapa hari. Suhu dapat naik secara mendadak (38 – 40 ºC), dapat disertai menggigil kejang (karena demam tinggi).
b.      Gejala khas :
Ø  Sianosis pada mulut dan hidung.
Ø  Sesak nafas, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung.
Ø  Gelisah, cepat lelah.
c.       Batuk,  mula-mula kering hingga produktif dengan dahak kental,terkadang dapat berwarna kuning hinggga hijau..
d.      Kadang-kadang muntah dan diare, anoreksia.
e.       Pemeriksaan laboratorium = lekositosis.
f.       Foto thorak = bercak infiltrate pada satu lobus/beberapa lobus.
g.      Ingus (nasal discharge)
h.      Suara napas lemah
i.        Retraksi intercosta
j.        Ronchii
k.      Berkeringat
l.        Lelah.
m.    Pada sebagian penderita juga ditemui gejala lain seperti nyeri perut, kurang nafsu makan, kulit lembab dan sakit kepala.

II. 7. Pemeriksaan Diagnostik
            Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan untuk menegakkan diagnosa pneumonia, yaitu:
a.       Pemeriksaan Radiologis
Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram (airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae; bronkopneumonia (segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan pneumonia interstisial (interstitial disease) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat di lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.
b.      Pemeriksaan Laboratorium
Leukositosis umumnya menandai adanya infeksi bakteri; leukosit normal/rendah dapat disebabkan oleh infeksi virus/mikoplasma atau pada infeksi yang berat sehingga tidak terjadi respons leukosit, orang tua atau lemah. Leukopenia menunjukkan depresi imunitas, misalnya neutropenia pada infeksi kuman Gram negatif atau S. aureus pada pasien dengan keganasan dan gangguan kekebalan. Faal hati mungkin terganggu
c.       Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsi. Untuk tujuan terapi empiris dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test dan Z. Nielsen.
d.      Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.

II. 8. Penatalaksanaan
PENGOBATAN
            Pengobatan terdiri atas antibiotik dan pengobatan suportif. Pemberian antibiptik pada penderita Pneumonia sebaiknya berdasarkan data mikroorganisme dan hasil uji kepekaannya, akan tetapi karena beberapa alasan yaitu:
a.       Penyakit yang berat dapat mengancam jiwa
b.      Bakteri patogen yang berhasil diisolasi belum tentu sebagai penyebab Pneumonia
c.       Hasil pebiakan bakteri memerlukan waktu
Maka pada penderita Pneumonia dapat diberikan terapi secara empiris.
Secara umum pemilihan antibiotik berdasarkan bakteri penyebab Pneumonia dapat dilihat sebagai berikut:
a.       Penisilin Sensitif Streptococcus Pneumoniae (PSSP)
Ø  Golongan Penisilin (100.000 unit/kg/24jam)
Ø  TMP-SMZ
Ø  Makrolid
b.      Penisilin Resisten Streptococcus Pneumoniae (PRSP)
Ø  Betalaktam oral dosis tinggi (untuk rawat jalan)
Ø  Sefotaksim, Seftriakson dosis tinggi
Ø  Makrolid baru dosis Tinggi
Ø  Fluorokuinolon respirasi
c.       Pseudomonas aeruginosa
Ø  Aminoglikosida
Ø  Seftazidin, Sefoperason, Sefepim
Ø  Tikarsilin, Piperasilin
Ø  Karbapenem: Meropenem, Imipenem
Ø  Siprofloksasin, Levofloksasin
d.      Methicillin Resisten Staphylococcus aureus (MRSA)
Ø  Vankomisin
Ø  Teikoplanin
Ø  Linezolid
e.       Hemophilus Influenzae
Ø  TMP-SMZ
Ø  Azitromisin
Ø  Sefalosporin generasi II atau III
Ø  Fluorokuinolon Respirasi
f.       Legionella
Ø  Makrolida
Ø  Fluorokuinolon
Ø  Rifampisin
g.      Mycoplasma Pneumoniae
Ø  Doksisiklin
Ø  Makrolida
Ø  Fluorokuinolon
h.      Chlamydia Pneumoniae
Ø  Doksisiklin
Ø  Makrolida
Ø  Fluorokuinolon
TERAPI NONMEDIKAMENTOSA
  • Pemberian oksigen harus diberikan sebelum penderita menjadi sianotik
  • Pemberian cairan secara intravena : dekstrose 10% dan NaCl 0,9% dengan perbandingan 3 : 1, ditambah KCl 10 mEq/500 ml cairan. Pemberian cairan sesuai dengan berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
  • Jika sesak napas terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip
  • Untuk pneumonia yang telah mengalami komplikasi, dilakukan drainase dengan torakosintesis jarum ataupun dengan memasukkan kateter ke dalam ruang pleura
  • Koreksi gangguan keseimbangan asam basa untuk mencegah terjadinya sianosis, karena paru merupakan salah satu bagian terpenting dalam mekanisme buffer dalam darah.

II. 9. Komplikasi
            Komplikasi yang dapat terjadi, yaitu:
a.       Otitis media akut (OMA) à terjadi bila tidak diobati, maka sputum yang berlebihan akan masuk ke dalam tuba eustachius, sehingga menghalangi masuknya udara ke telinga tengah dan mengakibatkan hampa udara, kemudian gendang telinga akan tertarik ke dalam dan timbul efusi.
b.      Efusi pleura.
c.       Emfisema.
d.      Meningitis.
e.       Abses otak.
f.       Endokarditis.
g.      Osteomielitis.
h.      Pneumotoraks.
PENGOBATAN TERHADAP KOMPLIKASI
            Penderita dengan pneumonia yang disertai dengan efusi pleura dan empiema harus dirawat inap di rumah sakit. Pemberian oksigen segera pada penderita dengan distres pernapasan sangat mengurangi kebutuhan pada sedatif dan analgesik; oksigen ini harus diberikan sebelum penderita menjadi sianosis. Efusi dianjurkan untuk melakukan drainase, meskipun hanya ada sedikit efusi atau empiema, agar mengurangi peluang terjadinya fistula bronkopleura. Thorakosintesis jarum sering cukup untuk drainase efusi, tetapi prosedur ini kadang-kadang mungkin harus diulangi. Biasanya nanah (pus) mengumpul lagi dengan cepat dan begitu kental atau terlokulasi sehingga menutup drainase, sehingga pipa dada kaliber yang paling besar mungkin diperlukan. Drainage dada tertutup mungkin diperlukan jika cairan pleura purulen ada, tetapi drainase terbuka jarang diperlukan. Jika respons inisial terhadap antibiotik baik, pengobatan oral dapat diberikan untuk menyempurnakan perjalan 10-14 hari. Peragaan roentgenografi, penyembuhan total dapat tertunda selama beberapa hari.
Munculnya pneumothoraks merupakan indikasi untuk memasukkan kateter segera ke dalam ruang pleura, sering juga menggunakan pipa dada bila terjadi lokulasi. Bila bayi mulai membaik dan paru-paru telah mengembang kembali, pipa dapat diambil, walaupun mereka masih mengalirkan sejumlah kecil nanah. Pada umunya pipa tidak harus tetap di dada lebih lama dari 5-7 hari.

















BAB III
KONSEP KEPERAWATAN

III. 1. Pengkajian
1.      Data Umum Pasien (identitas)
a.       Umur : Anak-anak cenderung mengalami infeksi virus dibanding dewasa Mycoplasma terjadi pada anak yang relatif besar.
b.      Tempat tinggal : Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar.
2.      Keluhan Utama
Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).
3.      Riwayat Kesehatan yang Lalu
Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia. Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis penderita.
4.      Pemeriksaan Fisik
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia
Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.
b.      Sirkulasi
Gejala : riwayat adanya.
Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat.
c.       Makanan/cairan
Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus.
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi).

d.      Neurosensori
Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)
Tanda : perusakan mental (bingung)
e.       Nyeri/kenyamanan
Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgia.
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)
f.       Pernafasan
Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
Tanda :           
sputum: merah muda, berkarat
perpusi: pekak datar area yang konsolidasi
premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi
Bunyi nafas menurun
Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku
g.      Keamanan
Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar
h.      Penyuluhan/pembelajaran
Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kronis
Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari
Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah.
5.      Faktor Psikososial/Perkembangan :
a.       Usia, tingkat perkembangan.
b.       Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
c.       Koping.
d.      Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
e.       Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya.
6.      Pengetahuan Keluarga, Psikososial :
a.       Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit broncho pneumonia.
b.      Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
c.       Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
d.      Koping keluarga.
e.       Tingkat kecemasan.

III. 2. Diagnosa
            Diagnosa keperawatan untuk pneumonia, yaitu:
1.      Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
2.      Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
3.      Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
5.      Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
6.      Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
7.      Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
8.      Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.

III. 3. Intervensi
1.      Dx. : Tidak efektifnya jalan nafas berhubungan dengan peradangan, penumpukan secret.
Tujuan : Jalan nafas efektif, ventilasi paru adekuat dan tidak ada penumpukan secret.
Rencana tindakan :
a.       Monitor status respiratori setiap 2 jam, kaji adanya peningkatan status pernafasan dan bunyi nafas abnormal.
b.      Lakukan perkusi, vibrasi dan postural drainage setiap 4 – 6 jam.
c.       Beri therapy oksigen sesuai program.
d.      Bantu membatukkan sekresi/pengisapan lender.
e.       Beri posisi yang nyaman yang memudahkan pasien bernafas.
f.       Ciptakan lingkungan yang nyaman sehingga pasien dapat tidur tenang.
g.      Monitor analisa gas darah untuk mengkaji status pernafasan.
h.      Beri minum yang cukup.
i.        Sediakan sputum untuk kultur/test sensitifitas.
j.        Keloborasi pemberian antibiotic dan obat lain sesuai program.
2.      Dx. : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membrane kapiler alveolus.
Tujuan : Pasien memperlihatkan perbaikan ventilasi, pertukaran gas secara optimal dan oksigenasi jaringan secara adekuat.
Rencana Tindakan :
a.       Observasi tingkat kesadaran, status pernafasan, tanda-tanda sianosis setiap 2 jam.
b.      Beri posisi fowler/semi fowler.
c.       Beri oksigen sesuai program.
d.      Monitor analisa gas darah.
e.       Ciptakan lingkungan yang tenang dan kenyamanan pasien.
f.       Cegah terjadinya kelelahan pada pasien.
3.      Dx. : Berkurangnya volume cairan berhubungan dengan intake oral tidak adekuat, demam, takipnea.
Tujuan : Pasien akan mempertahankan cairan tubuh yang normal.
Rencana Tindakan :
a.       Catat intake dan out put cairan. Anjurkan ibu untuk tetaap memberi cairan peroral dan hindari milk yang kental/minum yang dingin atau merangsang batuk.
b.      Monitor keseimbangan cairan pada membrane mukosa, turgor kulit, nadi cepat, kesadaran menurun, tanda-tyanda vital.
c.       Pertahankan keakuratan tetesan infuse sesuai program.
d.      Lakukan oral hygiene.
4.      Dx. : Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah.
Tujuan : Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kondisi.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji toleransi fisik pasien.
b.      Bantu pasien dalam aktifitas dari kegiatan sehari-hari.
c.       Sediakan permainan yang sesuai usia pasien dengan aktivitas yang tidak mengeluarkan energi banyak atau sesuaikan aktifitas dengan kondisinya.
d.      Beri O2 sesuai program.
e.       Beri pemenuhan kebutuhan energi.
5.      Dx. : Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
Tujuan : Pasien akan memperlihatkan sesak dan keluhan nyeri berkurang, dapat batuk efektif dan suhu normal.
Rencana Tindakan :
a.       Cek suhu setiap 4 jam, jika suhu naik beri kompres dingin.
b.      Kelola pemberian antipiretik dan anlgesik serta antibiotic sesuai program.
c.       Bantu pasien pada posisi yang nyaman baginya.
d.      Bantu menekan dada pakai bantal saat batuk.
e.       Usahakan pasien dapat istirahat/tidur yang cukup.
6.      Dx. : Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : Suhu tubuh dalam batas normal.
Rencana Tindakan :
a.       Observasi tanda-tanda vital setiap 2 jam.
b.      Beri kompres dingin.
c.       Kelola pemberian antipiretik dan antibiotic.
d.      Beri minum peroral secara hati-hati, monitor keakuratan tetesan infuse.
7.      Dx. : Kurangnya pengetahuan orang tua tentang perawatan anak setelah pulang dari rumah sakit.
Tujuan : Anak dapat beraktifitas secara normal dan orang tua tahu tahap-tahap yang harus diambil bila infeksi terjadi lagi.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang perawatan anak dengan bronchopneumonia.
b.      Bantu orang tua untuk mengembangkan rencana asuhan di rumah ; keseimbangan diit, istirahat dan aktifitas yang sesuai.
c.       Tekankan perlunya melindungi anak kontak dengan anak lain sampai dengan status RR kembali normal.
d.      Ajarkan pemberian antibiotic sesuai program.
e.       Ajarkan cara mendeteksi kambuhnya penyakit.
f.       Beritahu tempat yang harus dihubungi bila kambuh.
g.      Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.
8.      Dx. : Kecemasan berhubungan dengan dampak hospitalisasi.
Tujuan : Kecemasan teratasi.
Rencana Tindakan :
a.       Kaji tingkat kecemasan anak.
b.      Fasilitasi rasa aman dengan cara ibu berperan serta merawat anaknya.
c.       Dorong ibu untuk selalu mensupport anaknya dengan cara ibu selalu berada di dekat anaknya.
d.      Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang tindakan yang dilakukan à tujuan, manfaat, bagaimana dia merasakannya.
e.       Beri reinforcement untuk perilaku yang positif.

III. 4. Implementasi
Prinsip implementasi :
1.      Observasi status pernafasan seperti bunyi nafas dan frekuensi setiap 2 jam, lakukan fisioterapi dada setiap 4 – 6 jam dan lakukan pengeluaran secret melalui batuk atau pengisapan, beri O2 sesuai program.
2.      Observasi status hidrasi untuk mengetahui keseimbangan intake dan out put.
3.      Monitor suhu tubuh.
4.      Tingkatkan istirahat pasien dan aktifitas disesuaikan dengan kondisi pasien.
5.      Perlu partisipasi orang tua dalam merawat anaknya di RS.
6.      Beri pengetahuan pada orang tua tentang bagaimana merawat anaknya dengan bronchopneumonia.

III. 5. Evaluasi
Hasil evaluasi yang ingin dicaapai :
1.      Jalan napas paten dengan bunyi napas bersih, tak ada dispnea, sianosis.
2.      Analisa gas darah normal.
3.      Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan dengan GDA dalam rentang normal dan tak ada gejala distres pernapasan.
4.      Melaporkan/menunjukkan peningkatan toleransi terhadap aktivitas yang dapat diukur dengan tak adanya dispnea, kelemahan berlebihan, dan tanda vital dalam rentang normal.
5.      Menunjukkan rileks, istirahat/tidur, dan peningkatan aktivitas yang tepat.
6.      Menunjukkan peningkatan masukan makanan, mempertahankan/ meningkatkan berat badan, menyatakan perasaan sejahtera.
7.      Menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat, mis: membran mukosa lembab, turgor kulit baik, pengisian kapiler cepat, tanda vital stabil.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner dan Suddarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah Ed. 8 Vol 1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Charles, J.Reeves, dkk. 2001. Buku 1 Keperawatan Medikal Bedah Ed. I. Jakarta: Salemba Medika.

Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: Konsep klinis proses-proses penyakit Ed. 6 Vol 2. Jakarta: EGC.

Sukandar, Elin Yulinah. 2008. ISO Farmakoterapi. Jakarta: PT. ISFI Penerbitan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar