Jumat, 27 Mei 2011

ASKEP : Glaukoma



Ø  Pengertian
Glaukoma adalah penyebab utama kebutaan di masyarakat barat. Bila glukoma didiagnosa lebih awal dan ditangani secara benar, maka kebutaan hampir selalu dapat dicegah. Namun pada banyak kasus glaukoma tidak bergejala, sampai sudah terjadi kerusakan ekstensif dan ireversible. Olehnya pemeriksaan rutin dan skrining mempunyai peran penting dalam mendeteksi penyakit ini.
Glaukoma mengenai hampir semua usia namun lebih banyak sesuai bertambahnya usia, mengenai hampir sekitar 2 % orang berusia di atas 35 tahun. Resiko lain adalah diabetes, riwayat glaukoma, riwayat trauma atau pembedahan mata atau kortikosteroid jangka panjang. Istilah glaukoma merujuk pada kelompok penyakit yang berbeda dalam hal patologis, presentase klinis dan penangananya. Biasanya ditandai dengan pengurangan lapang pandang akibat kerusakan saraf optikus. Semakin tinggi tekanan maka semakin cepat tekanan saraf optikus tersebut berlangsung. Peningkatan tekanan saraf optikus akibat perubahan patologis yang menghambat peredaran normal humor aquous.

Ø  Klasifikasi Glukoma
Glaukoma diklasifikasikan dalam dua kelompok: sudut terbuka dan penutupan sudut. Secara umum glaukoma dikelompokan menjadi:
1.   Glaukoma sudut terbuka, humor aqucueus mempunyai akses bebas ke jaring-jaring trabekula dan ukuran sudut normal.
-          Primer; ditandai dengan atrofi saraf optikus dan kafitasi mangkuk fisiologis dan defek lapang pandang yang khas. Tekanan saraf optikus dalam batas normal.
-          Tegangan normal;  TIO dalam batas normal tanpa kerusakan saraf, dimana kaput saraf optikus merupakan tahanan terhadap tekanan yang lebih tinggi dari normal.
-          Sekunder; peningkatan TIO disebabkan oleh peningkatan aliran keluar humor aqueus melalui jaring-jaring trabekuler, kanalis schlenin dan sistem vena episklera. Pori-poritrabekula dapat tersumbatoleh setiap jenis debis, darah, pus atau bahan lainnya. Peningkatan tekanan tersebut dapat diakibatkan oleh kortikosteroid jangka lama, tumor intraokuler dan infeksi virus  ( herpes simles, herpes zoster)
2.  Glaukoma penutupan sudut; iris menutup jaringan trabeula dan membatasi jaringan humor aqueus keluar lamera anterior
a)    Primer: akibat defek anatomis yang menyebabkan pendangkalan  kamera anterior, sehingga menyebabkan penyempitan sudut pengaliran pada perifer iris dan tuberkulum.


·         Dengan sumbatan pupil
-          Akut; kegawatan medis yanmg cukup jarang yang dapat mengakibatkan kehilangan penglihatan bermakna.
-          Sub akut
-          Kronik
·         Tanpa sumbatan pupil
b)    Sekunder; peningkatan tahanan aliran humor aqueus disebabkan penyumbatan jaring-jaring tuberkula oleh iris perifer.
·         Dengan sumbatan pupil
·         Tanpa sumbatan pupil
3.     Glaukoma dengan mekanisme kombinasi; sudut terbuka yang mengalami glaukoma penutupan sudut
4.     Glaukoma pertumbuhan/kongenital

Ø  Pemeriksaan diagnostik
a)    Pemeriksaan mata dengan oftalmoskop (saraf optikus)
b)    Tonometri (mengukur TIO)
c)    Perimetri (luas lapang pandang)

Ø  Penatalaksanaan
a)    Farmakoterapi
·         Antagonis beta adrenergik (timolol, levobunolol, metipronol)
·         Bahan kolinergik (pilokarpin hidroklorida, asetil kolin klorida)
·         Agonis adrenergik (epinefrin, fenilhidroklorida)
·         Inhibitor anhidrase (asetazolamid)
·         Diuretik osmotik (manitol)
b)    Pembedahan meliputi;
·         Iredoktonik perifer
·         Trabekuloplasti
·         Gonloplasti
·         Pupiloplasti
·         Sinkolisis
·         Opingterotomi
·         Siklofotokoagulasi
·         Goniofdotikoagulasi

Konsep Keperawatan
1.   Pengkajian
·         Aktivitas/istirahat
Gejala : perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan ganguan pengelihatan
·         Makanan/cairan
Gejala : mual/muntah
·         Neurosensori
Gejala : Ganguan pengelihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang mangakibatkan silau dengan kehilangan bertahap pengelihatan perifer, kesulitan memfokus kerja dengan dekat atau merasa di ruang gelap (katarak).
Pengelihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya atau pelangi sekitar sinar, kehilangan pengelihatan perifer, fotofobia (glaukoma akut).
Perubahan kacamata/pub tidak memperbaiki pengelihatan.
Tanda :         Tampak kecoklatan putih susu pada pupil (katarak). Pupil menyempit dan merah/mata keras dengan kornea berawan peningkatan air mata.
·         Nyeri/kenyamanan
Gejala :        Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis). Nyeri tiba-tiba/berat menetap pada dan di sekitar mata, sakit kepala.
·         Penyuluhan/pembelajaran
Gejala :        riwayat keluarga glaukoma, diabetes, ganguan sistem vaskuler, riwayat stres, alergi, ketidakseimbangan endokrin, steroid/toksisitasfenolisin.

2.     Diagnosa Keperawatan
·         Ganguan sensori persepsi, pengelihatan berhubungan dengan ganguan penerimaan sensori sama dengan ganguan status organ indra.
·         Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
·         Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi/keadaan.

3.     Intervensi Keperawatan
·         Gangguan sensori persepsi : pengelihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan sensori : gangguan status panca indra.
Tujuan : Klien tidak mengalami gangguan pengelihatan dengan kriteria hasil klien dapat mempertahankan lapang ketajaman pengelihatan tanpa kehilangan lebih lanjut.

Intervensi :
-          Kaji derajat/tipe kehilangan pengelihatan
Rasional : menentukan pilihan intervensi selanjutnya
-          Dorong klien untuk mengekspresikan perasaan tentang kehilangan/kemungkinan kehilangan pengelihatan.
Rasional :    Meskipun kehilangan pengelihatan yang telah terjadi tidak dapat diobati akan tetapi kehilangan lebih lanjut dapat dicegah.
-          Ajarkan klien untuk pemberian tetes mata (jumlah tetesan, jadwal, dosis).
Rasional : Mengontrol TIO dan mencegah kehilangan pengelihatan lanjut.
-          Lakukan tindakan untuk membantu pasien mengenai keterbatasan pengelihatan seperti mengurangi kekacauan, atur perabot, ingat-ingat, memutar kepala kesubyek yang terlihat, perbaiki sinar suram dari masalah pengelihatan malam.
Rasional :    Menurunkan bahya keamanan sehubungan dengan perubahan lapang pandangatau kehilangan pengelihatan dan akomodasi pupil terhadap sinar lingkungan.
-          Kolaborasi untuk memberikan obat sesuai indikasi.
Rasional :    Membantu mempercepat proses pengelihatan dan mencegah kehilangan pengelihatan lanjutan.
·         Ancietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Tujuan : Klien tidak mengalami kecemasan dengan kriteria hasil : klien melaporkan ancietas menurun sampai tingkat dapat diatasi, klien menunjukan keterampilan pemecahan masalah.
Interfensi :
-          Kaji tingkat ancietas, derajat pengalaman infeksi/timbulnya gejala tiba-tiba dan pengetahuan kondisi saat ini.
Rasional :    Fungsi ini mempengaruhi persepsi pada pasien terhadap ancaman diri, potensial siklus ancietas dan dapat mempengaruhi upaya medik untuk mengontrol TIO.
-          Berikan informasi yang akurat dan jujur, diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan dapat mencegah kehilangan pengelihatan tambahan.
Rasional :    Menurunkan ancietas sehubungan dengan ketidak tahuan/harapan yang akan datang dan memberikan dasar fakta untuk membuat pilihan informasi tentang POB.
-          Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan.
Rasional :    Memberikan kesempatan untuk pasien menerima situasi nyata, mengklarifikasi salah konsepsi dan pemecahan masalah
-          Identifikasi sumber yang menolong
Rasional :    Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendirian dalam menghadapi masalah.

·         Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang kondisi/keadaannya.
Tujuan :      Klien dapat memahami keadaannya dengan kriteria hasil :
-      Klien menyatakan pemahaman tentang kondisi, prognosis dan POB.
-      Klien dapat mengidentifikasi hubungan tanda/gejala dengan proses penyakit.
Rasional :
-      Tunjukan teknik yang benar untuk pemberian tetes mata, minta pasien untuk mengulangi tindakan.
Rasional :    Meningkatkan keefektifan POB, memberikan kesempatan untuk pasien menunjukan kompetensi dan menanyakan pertanyaan.
-      Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh : tetes mata. Diskusikan obat-obatan tang harus dihindari
Rasional :    Mempertahankan konsistensi program obat adalah hal yang penting. Beberapa obat dapat menyebabkan dilatasi pupil, peningkatan TIO dan potensial kehilangan pengelihatan tambahan.
-      Identifikasi efek samping yang merugikan dari penggunaan obat.
Rasional :    Efek samping obat yang merugikan mempengaruhi rentang dari ketidaknyamanan sampai ancaman kesehatan berat.
-      Dorong pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup.
Rasional :    Pola hidup terang menurunkan respon emosi terhadap stres, menjadi perubahan okuler yang mendorong iris kedepan sehingga dapat memutuskan serangan akut.
-      Dorong pasien untuk menghindari aktivitas yang berlebihan.
Rasional :    Aktivitas berlebihan dapat mencetuskan serangan akut dengan meningkatnya TIO
-      Diskusikan pertimbankan diet seperti cairan dengan makanan berserat.
Rasional :    Konsentrasi pasien harus dipertahankan pasien untuk menghindari konstipasi/mengejan selama defekasi.
-      Anjur untuk memeriksa secara rutin.
Rasional :    Mengawasi kemajuan/pemeliharaan penyakit untuk memungkinkan intervensi dini.










DAFTAR PUSTAKA



1.        Brumer dan sudarth, 2001, Keperawatan Medikal Bedah, Vol. III, EGC, Jakarta.
2.       Corwin, Elizabeth, 2001, Pathofisiologi, EGC, Jakarta.
3.       Doeges, dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar