Minggu, 29 Mei 2011

Universal Precautions

Universal Precautions
(Kewaspadaan Umum / Standar / Universal)

A. Pengertian
Kewaspadaan Universal atau Kewaspadaan Umum (KU) atau Universal Precautions  (UP) adalah suatu cara untuk mencegah penularan penyakit dari cairan tubuh, baik dari pasien ke petugas kesehatan dan sebaliknya juga dari pasien ke pasien lainnya. Menurut Prof. Dr. Sulianti Saroso (2006) Kewaspadaan Universal adalah suatu cara penanganan baru untuk meminimalkan pajanan darah dan cairan tubuh dari semua pasien, tanpa memperdulikan status infeksi.
Kewaspadaan Universal hendaknya dipatuhi oleh tenaga kesehatan karena ia merupakan panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.
Penerapan Kewaspadaan Standar diharapkan dapat menurunkan risiko penularan patogen melalui darah dan cairan tubuh lain dari sumber yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Penerapan  ini merupakan pencegahan dan pengendalian infeksi yang harus rutin dilaksanakan terhadap semua pasien dan di semua fasilitas pelayanan kesehatan (FPK).
Komponen-komponen kewaspadaan umum, terdiri dari:
1.    Kebersihan tangan (cuci tangan)
2.    Alat Pelindung Diri (APD), yang terdiri dari:
a.    Penggunaan sarung tangan
b.    Pelindung wajah (masker, kacamata,)
c.    Gaun pelindung
d.    Penutup kepala
e.    Sepatu pelindung
3.    Pencegahan luka tusukan jarum dan benda tajam lainnya
4.    Kebersihan pernapasan dan etika batuk
5.    Kebersihan lingkungan
6.    Linen
7.    Pembuangan limbah
8.    Peralatan perawatan pasien

B. Pelaksanaan Kewaspadaan Universal
Penerapan Kewaspadaan Universal merupakan bagian dari upaya pengendalian infeksi di sarana pelayanan kesehatan yang tidak terlepas dari peran masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya yaitu pimpinan termasuk staf administrasi, staf pelaksana pelayanan termasuk staf penunjangnya dan juga pengguna yaitu pasien dan pengunjung sarana kesehatan tersebut. Penerapan Kewaspadaan Umum didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan.
Penerapan Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) didasarkan pada keyakinan bahwa darah dan cairan tubuh sangat potensial menularkan penyakit, baik yang berasal dari pasien maupun petugas kesehatan. Prosedur Kewaspadaan Universal ini juga dapat dianggap sebagai pendukung progran K3 bagi petugas kesehatan
Adapun prinsip utama prosedur Kewaspadaan Universal dalam pelayanan kesehatan adalah menjaga higiene sanitasi individu, higiene sanitasi ruangan dan sterilisasi peralatan. Ketiga prinsip tersebut dijabarkan menjadi 5 kegiatan pokok yaitu :
1.    Cuci tangan guna mencegah infeksi silang.
2.    Pemakaian alat pelindung diantaranya pemakaian sarung tangan guna mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.
3.    Pengelolaan alat kesehatan bekas pakai.
4.    Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
5.    Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
Perawat  harus memiliki buku pedoman dalam menerapkan Kewaspadaan Universal dalam upayanya untuk mencegah terjadinya infeksi silang. Buku pedoman penerapan Kewaspadaan Universal dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan untuk membantu petugas kesehatan dalam mengurangi resiko infeksi pada diri sendiri, pasien dan masyarakat. Perawat membantu administrator dan manajer rumah sakit untuk membuat kebijakan pengendalian infeksi berdasarkan bukti dalam dan panduan pelayanan yang seragam. Memperluas penggunaan praktik dan prosedur yang dianjurkan serta mampu melaksanakan, walaupun di lingkungan dengan sumber daya yang sangat terbatas, memberikan landasan ilmiah untuk memperkuat prasarana pencegahan infeksi yang telah ada.
Adapun prosedur dari Kewaspadaan Universal meliputi :
1.    Cuci tangan atau permukaan kulit segera secara rata untuk mencegah kontaminasi kuman pada tangan.
2.    Pemakaian sarung tangan bila akan menjamah darah atau cairan tubuh lain (cairan amnion, cairan peritoneal, cairan pleura, sekret sinovial, cairan pericardial, cairan ketuban, dan cairan tubuh yang mengandung darah secara kasat mata); bila menyentuh selaput mukosa dan kulit yang luka setiap pasien; untuk menangani benda-benda atau permukaan yang dikotori oleh darah atau cairan tubuh; atau untuk melaksanakan tindakan yang melibatkan pembuluh darah atau tindakan invasif. Sarung tangan diganti untuk setiap pasien dan cuci tangan segera setelah melepas sarung tangan.
3.    Perlu ada perhatian khusus untuk mencegah kecelakaan tusuk jarum, skalpel, dan alat tajam lainnya selama melaksanakan tindakan medis, pada saat membawa, membersihkan atau membuang, untuk membengkokkannya, mematahkan dengan tangan melepaskan dari semprit bekas dengan tangan. Setelah dipakai maka benda tajam seperti jarum suntik dan semprit, skalpel, pisau dan lain-lain, harus ditempatkan pada wadah yang tahan tusukan dan letakkan di tempat yang mudah di jangkau. Jarum dan alat tajam yang dipakai ulang ditaruh di dalam wadah yang tahan tusukan untuk dibawa ketempat proses selanjutnya.
4.    Masker dan pelindung mata, atau pelindung wajah dipakai untuk mencegah pajanan pada mukosa mulut, hidung dan mata pada tindakan yang dapat menimbulkan tetesan darah atau cairan tubuh lain yang mengharuskan Kewaspadaan Universal.
5.    Jubah atau celemek dipakai pada tindakan yang dapat menimbulkan percikan atau tumpahan darah atau cairan tubuh yang mengharuskan penerapan Kewaspadaan Universal.
6.    Mouthpiece, resusitation bags, atau alat bantu nafas tersedia dan siap digunakan sewaktu-waktu sebagai pengganti resusitasi mulut ke mulut di tempat dimana resusitasi sering dilakukan.
7.    Petugas kesehatan yang mempunyai luka basah atau luka mengucurkan darah atau cairan harus menjauhi tugas perawatan langsung kepada pasien atau menangani alat perawatan pasien sampai sembuh. Hal tersebut ditekankan kembali untuk melindungi kedua belah pihak baik pasien ataupun petugas itu sendiri.
8.    Cara membawa linen dan bahan-bahan yang dikotori darah atau cairan tubuh harus ditempatkan dalam kantong anti bocor.
9.    Pengelolaan limbah medis dari lingkungan yang sesuai standar.

C. Komponen dan Pelaksanaan Kewaspadaan Umum
Komponen-komponen dari Kewaspaaan Universal yaitu :
1. Cuci Tangan
Mencuci tangan adalah prosedur kesehatan yang paling penting yang dapat dilakukan oleh semua orang untuk mencegah penyebaran kuman. Mencuci tangan adalah tindakan aktif, singkat dengan menggosok bersamaan semua permukaan tangan yang bersabun, yang kemudian diikuti dengan membasuhnya dibawah air hangat yang mengalir. Tujuannya adalah untuk membuang kotoran dan organisme yang menempel dari tangan dan untuk mengurangi jumlah mikroba pada saat itu.
Cuci tangan harus selalu dilakukan dengan benar sebelum dan sesudah melakukan tindakan perawatan walaupun memakai sarung tangan atau alat pelindung lain untuk menghilangkan atau mengurangi mikroorganisme yang ada ditangan sehingga penyebaran penyakit dapat dikurangi dan lingkungan terjaga dari infeksi. Tangan harus dicuci sebelum dan sesudah memakai sarung tangan. Cuci tangan tidak dapat digantikan oleh pemakaian sarung tangan.
Aspek terpenting dari mencuci tangan adalah pergesekan yang ditimbulkan dengan menggosok tangan bersamaan mencuci tangan dengan sabun, dengan air mengalir dan pergesekan yang dilakukan secara rutin.
Mikroorganisme pada kulit manusia dapat diklasifikasikan dalam dua kelompok, yaitu flora risiden dan flora transien. Flora risiden adalah mikroorganisme yang secara konsisten dapat diisolasi dari tangan manusia, tidak mudah dihilangkan dengan gesekan mekanis yang telah beradaptasi pada kehidupan tangan manusia. Flora transien yang disebut juga flora transit atau flora kontaminasi, jenisnya tergantung dari lingkungan tempat bekerja. Mikroorganisme ini dengan mudah dapat dihilangkan dari permukaan dengan gesekan mekanis dan pencucian dengan sabun atau deterjen. Oleh karena itu cuci tangan adalah cara pencegahan infeksi yang paling penting.
Tiga cara cuci tangan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan yaitu :
a.    Cuci tangan higienik / rutin – mengurangi kotoran dan flora yang ada di tangan dengan menggunakan sabun atau detergen.
b.    Cuci tangan aseptik – sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan anti septik.
c.    Cuci tangan bedah (surgical handscrub) – sebelum dilakukan tindakan bedah cara aseptik dengan antiseptik dan sikap steril.
Pencucian tangan sangat penting dalam setiap lingkungan perawatan kesehatan karena organisme transion dapat dengan mudah dihilangkan sebelum pindah ke pasien lain. Pencucian tangan yang efektif adalah 10-15 detik, tetapi akan dibutuhkan lebih banyak waktu jika tangan tersebut terlihat kotor.
Cuci tangan harus dilakukan pada saat yang diantisipasi akan terjadi perpindahan kuman melalui tangan, yaitu sebelum melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi pencemaran, seperti:
a.    Sebelum melakukan tindakan
Misalnya memulai pekerjaan (baru tiba di kantor/RS), saat akan memeriksa (kontak langsung dengan pasien), saat akan memakai sarung tangan steril atau sarung tangan yang telah didesinfeksi tingkat tinggi (DTT) untuk melakukan suatu tindakan, saat akan memakai peralatan yang telah di-DTT, saat akan melakukan injeksi, dan saat hendak pulang ke rumah.
b.    Setelah melakukan tindakan yang dimungkinkan terjadi pencemaran
Misalnya setelah memeriksa pasien, setelah memegang alat-alat bekas pakai dan bahan-bahan lain yang berisiko terkontaminasi, setelah menyentuh selaput mukosa, darah, atau cairan tubuh lainnya, setelah membuka sarung tangan, setelah dari toilet/ kamar kecil, setelah bersin atau batuk. Cuci tangan sesudah membuka sarung tangan perlu dilakukan karena ada kemungkinan sarung tangan berlubang atau robek.
Sarana Cuci Tangan
a.    Air Mengalir
Sarana utama untuk cuci tangan adalah ketersediaan air mengalir dengan saluran pembuangan atau bak penampung yang memadai. Dengan guyuran air mengalir tersebut maka mikroorganisme yang terlepas karena gesekan mekanis atau kimiawi saat cuci tangan akan terhalau dan tidak menempel lagi di permukaan kulit. Air mengalir tersebut dapat berupa kran atau dengan cara mengguyur dengan gayung. Namun cara mengguyur dengan gayung memiliki risiko cukup besar untuk terjadinya pencemaran, baik melalui gagang gayung ataupun percikan air bekas cucian kembali ke bak penampungan air bersih. Air kran bukan berarti harus dari PAM, namun dapat diupayakan secara sederhana degan tangki berkran di ruang pelayanan atau perawatan kesehatan agar mudah dijangkau oleh para petugas kesehatan yang memerlukannya.
b.    Sabun dan Deterjen
Bahan ini tidak membunuh mikroorganisme tetapi menghambat dan mengurangi jumlah mikroorganisme dengan jalan mengurangi tegangan permukaan sehingga mikroorganisme terlepas dari permukaan kulit dan mudah terhalau oleh air. Jumlah mikroorganisme semakin berkurang dengan meningkatnya frekuensi cuci tangan. Namun dilain pihak, dengan seringnya menggunakan sabun atau deterjen maka lapisan lemak akan hilanh dan membuat kulit menjadi kering dan pecah-pecah. Hilangnya lapisan lemak akan memberi peluang untuk tumbuhnya kembali mikroorganisme.
c.    Larutan Antiseptik
Larutan antiseptik atau disebut juga antimikroba topikal yang dipakai pada kulit atau jaringan hidup lainnya untuk menghambat aktivitas atau membunuh mikroorganisme pada kulit. Antiseptik memiliki bahan kimia yang memungkinkan untuk digunakan pada kulit dan selaput mukosa. Antiseptik memiliki keragaman dalam hal efektivitas, aktivitas, akibat dan rasa pada kulit setelah dipakai sesuai dengan keragaman jenis antiseptik tersebut dan reaksi kulit masing-masing individu.
Kulit manusia tidak dapat disterilkan. Tujuan yang ingin dicapai adalah penurunan jumlah mikroorganisme pada kulit secara maksimal terutama kuman transien. Kriteria memilih antiseptik adalah:
·       Memiliki efek yang luas, menghambat atau merusak mikroorganisme secara luas (gram positif dan gram negatif, virus lipofilik, basilus dan tuberkulosis, fungi, endospora)
·       Efektifitas
·       Kecepatan aktifitas awal
·       Efek residu, aksi yang lama setelah pemakaian untuk meredam pertumbuhan
·       Tidak mengakibatkan iritasi kulit
·       Tidak menyebabkan alergi
·       Efektif sekali pakai, tidak perlu diulang-ulang
·       Dapat diterima secara visual maupun estetik
Beberapa jenis larutan antiseptik yang sering digunakan diantaranya adalah Alkohol (etil/isopropil), Chlorhexedin (HibitaneR, HibiscrubR), Hexachlorophen (pHisoHexR), Yodium/Yod + Alkohol, dan Yodophor (BetadineR).
Hal-hal yang harus diperhatikan pada penggunaan antiseptik antara lain:
·       Semua antiseptik dapat tercemar
·       Siapkan wadah yang lebih kecil untuk kebutuhan sehari-hari
·       Jangan merendam kasa atau lainnya di dalamnya
·       Botol yang sudah dibuka harus habis dalam 1 minggu
·       Simpan dalam tempat dingin dan gelap
·       Cuci wadah setiap kali mengganti dan keringkan terlebih dahulu
·       Beri label dan catat tanggal penggantian
·       Pemakaiannya dengan cara menuang dan bukan dengan mencelupkan kasa
Cuci Tangan Higienis/Rutin
Persiapan:
a.    Sarana cuci tangan disiapkan di setiap ruang penderita dan tempat lain misalnya ruang bedah, koridor
b.    Air bersih yang mengalir (dari kran, ceret atau sumber lain)
c.    Sabun sebaiknya dalam bentuk sabun cair
d.    Lap kertas atau kain yang kering
e.    Kuku dijaga selalu pendek
f.     Cincin dan gelang perhiasan harus dilepas dari tanga
Prosedur:
·         Basahi tangan setinggi pertengahan lengan bawah dengan air mengalir.
·         Taruh sabun di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa percikan.
·         Gerakan cuci tangan terdiri dari gosokan kedua telapak tangan, gosokan telapak tangan kanan di atas punggung tangan kiri dan sebaliknya, gosok kedua telapak tangan dengan jari saling mengait, gosok kedua ibu jari dengan cara menggenggam dan memutar, gosok telapak tangan.
·         Proses berlangsung selama 10-15 detik.
·         Bilas kembali dengan air sampai bersih.
·         Keringkan tangan dengan handuk atau kertas yang bersih atau tisu atau handuk katun kain sekali pakai.
·         Matikan kran dengan kertas atau tisu.
·         Pada cuci tangan aseptik/ bedah diikuti larangan menyentuh permukaan yang tidak steril.
Cuci Tangan Aseptik
Cuci tangan aseptik biasanya dilakukan saat akan melakukan tindakan aseptik pada pasien atau saat akan kontak dengan penderita pada keadaan tertentu misalnya penderita dengan imunitas rendah. Persiapan dan prosedur pada cuci tangan aseptik sama dengan persiapan dan prosedur pada cuci tangan higienis hanya saja bahan deterjen atau sabun diganti dengan antiseptik dan setelah mencuci tangan tidak boleh menyentuh bahan yang tidak steril.
Cuci Tangan Bedah
Persiapan:
a.    Air mengalir
b.    Sikat dan spons steril
c.    Sabun antiseptik
d.    Lap kain atau handuk steril
e.    Kuku dijaga selalu pendek dan bersihkan dengan alat berupa batang kayu kecil yang lunak
f.     Lepaskan semua perhiasan tangan.
Prosedur:
a.    Nyalakan kran.
b.    Basahi tangan dan lengan bawah dengan air.
c.    Taruh sabun antiseptik di bagian telapak tangan yang telah basah. Buat busa secukupnya tanpa percikan.
d.    Sikat bagian bawah kuku dengan sikat yang lembut.
e.    Buat gerakan mencuci tangan seperti cuci tangan biasa dengan waktu lebih lama. Gosok tangan dan lengan satu per satu secara bergantian dengan gerakan melingkar.
f.     Sikat lembut hanya digunakan untuk membersihkan kuku saja bukan untuk menyikat kulit yang lain oleh karena dapat melukainya. Untuk menggosok kulit dapat digunakan spon steril sekali pakai.
g.    Proses cuci tangan bedah berlangsung selama 3 hingga 5 menit dengan prinsip sependek mungkin tapi cukup memadai untuk mengurangi jumlah bakteri yang menempel di tangan.
h.    Selama cuci tangan jaga agar letak tangan lebih tinggi dari siku agar air mengalir dari arah tangan ke wastafel.
i.      Jangan sentuh wastafel, kran atau gaun pelindung.
j.      Keringkan tangan dengan lap steril.
k.    Gosok dengan alkohol 70 % atau campuran alkohol 70 % dan klorheksidin 0,5% selama 5 menit dan keringkan kembali.
l.      Kenakan gaun pelindung dan sarung tangan steril setelah tangan betul-betul kering.
Cuci tangan alternatif
Cuci tangan alternatif merupakan cara lain yang biasanya dilakukan oleh masyarakat, berbeda dengan cuci tangan higienis ataupun aseptik yang menggunakan sabun atau antiseptik, cuci tangan alternatif bisa menggunakan bahan cuci tangan yang berbeda. Cuci tangan dengan menggunakan sabun dan air, suatu cara yang sudah diketahui sejak lama, ternyata merupakan cara terbaik dalam membebaskan tangan dari kuman penyakit. Walaupun saat ini telah bermunculan berbagai produk untuk membersihkan tangan seperti gel anti bakteri dan tisu basah. Studi di delapan provinsi mendapati warga memandang praktik cuci tangan hanya dengan air sebagai praktik yang mudah dilakukan. Bagi warga, mencuci tangan dapat dilakukan di berbagai tempat, seperti kamar mandi, sumur, kran air, tempat wudhu, ladang, sawah, sampai air diam di ember atau baskom asalkan air tersedia. Bahkan, ada warga di pedesaan memiliki alternatif lain selain sabun yang dipercayai dapat membuat tangan mereka bersih setelah kotor akibat bekerja.
2. Alat Pelindung Diri (APD)
Alat pelindung tubuh digunakan untuk melindungi kulit dan selaput lendir petugas dari resiko pajanan darah, semua cairan tubuh, sekret, ekskreta, kulit yang tidak utuh dan selaput lendir pasien. Jenis tindakan yang dianggap beresiko dan memerlukan penggunaan alat pelindung diri mencakup tindakan rutin, tindakan bedah tulang, otopsi atau perawatan gigi yang menggunakan bor dengan kecepatan putar yang tinggi.
Jenis-jenis alat pelindung yaitu :
a.    Sarung tangan
b.    Pelindung wajah / masker / kaca mata
c.    Penutup kepala
d.    Gaun pelindung ( baju kerja / celemek )
e.    Sepatu pelindung
Untuk lebih jelasnya alat pelindung diri (APD) akan dipaparkan sebagai berikut:
a.    Sarung Tangan
Berikut beberapa alasan mengenakan sarung tangan sebagai alat pelindung diri adalah :
·       Mengurangi kemungkinan pekerja kontak dengan organisme infeksi yang menginfeksi klien.
·       Mengurangi kemungkinan pekerja memindahkan flora endogen mereka sendiri ke klien.
·       Mengurangi kemungkinan pekerja menjadi tempat kolonisasi sementara mikroorganisme yang dapat dipindahkan pada klien lain.
Penggunaan sarung tangan harus segera dipakai bilamana :
Ø Akan terjadi kontak tangan pemeriksa dengan darah, cairan tubuh, selaput lendir, atau kulit yang terluka.
Ø Akan melakukan tindakan medik invasif (pemasangan alat-alat vaskular seperti intravena perifer).
Ø Akan membersihkan sampah terkontaminasi atau memegang permukaan yang terkontaminasi.
Sarung tangan mencegah penularan kuman patogen melalui cara kontak langsung maupun tidak langsung. Ada 3 jenis sarung tangan, yaitu :
·         Sarung tangan bedah, dipakai sewaktu melakukan tindakan invasif atau pembedahan.
·         Sarung tangan pemeriksaan, dipakai untuk melindungi petugas kesehatan sewaktu melakukan pemeriksaan atau pekerjaan rutin.
·         Sarung tangan rumah tangga, dipakai sewaktu memproses peralatan menangani bahan-bahan terkontaminasi dan sewaktu membersihkan permukaan yang terkontaminasi.
Hal-hal yang perlu dilakukan dan tidak boleh dilakukan dalam pemakaian sarung  tangan :
Ø Pakailah ukuran yang sesuai.
Ø Gantilah sarung tangan secara berkala pada tindakan yang memerlukan waktu lama.
Ø Potonglah kuku cukup pendek untuk mengurangi risiko robek atau berlubang.
Ø Tariklah sarung tangan sampai meliputi tangan baju (jika pakai baju operasi).
Ø Pakailah cairan pelembab untuk mencegah kulit dari kekeringan atau berkerut.
Ø Jangan pakai cairan atau krim berbasis minyak, karena akan merusak sarung tangan.
Ø Jangan pakai cairan pelembab yang terlalu wangi karena dapat merangsang kulit dan menyebabkan iritasi.
Ø Jangan simpan sarung tangan di tempat dengan suhu terlalu panas atau terlalu dingin.
Langkah-langkah atau prosedur dalam penggunaan sarung tangan :
·       Siapkan kemasan sarung tangan steril yang sesuai.
·       Lakukan cuci tangan dengan seksama.
·       Buka pembungkus bagian paling luar dari kemasan sarung tangan. Pisahkan dan lepaskan sisi-sisinya.
·       Pegang bagian dalam kemasan dan letakkan pada permukaan yang bersih datar tepat di atas tinggi siku. Buka kemasan, jaga supaya sarung tangan tetap di atas permukaan bagian dalam pembungkus.
·       Jika sarung tangan tidak dibedak, ambil pak bedak dan pakai tipis-tipis pada tangan diatas wastafel atau keranjang sampah.
·       Identifikasi sarung tangan kanan dan kiri. Kenakan sarung tangan dominan terlebih dahulu.
·       Dengan ibu jari dan telunjuk serta jari tengah dari tangan non dominan, pegang tepi dari manset sarung tangan untuk tangan dominan sentuh hanya permukaan bagian dalam sarung tangan.
·       Pakai sarung tangan pada tangan dominan, biarkan manset dan pastikan manset tidak bertumpuk di pergelangan tangan. Pastikan ibu dan jari lainnya berada pada tempat yang tepat.
·       Dengan tangan yang dominan yang bersarung tangan selipkan jari di dalam manset sarung tangan kedua.
·       Kenakan sarung tangan kedua pada tangan nondominan. Jangan biarkan jari tangan dan ibu jari tangan dominan yang bersarung tangan menyentuh setiap bagian tangan non dominan yang dibuka. Jaga supaya ibu jari tangan dominan terabduksi kebelakang.
·       Setelah sarung tangan kedua dikenakan tautkan kedua tangan.
Cara yang dilakukan didalam melepaskan sarung tangan yang telah dipakai :
Ø Pegang bagian luar dari satu manset dengan tangan yang bersarung tangan hindari menyentuh pergelangan tangan.
Ø Lepaskan sarung tangan, balikan menjadi bagian dalam keluar. Buang ke pembuangan.
Ø Dengan jari yang telah lepas tersebut ambil bagian dalam dari sarung tangan yang masih dikenakan lepaskan sarung tangan bagian dalam keluar. Buang di tempat pembuangan.
b.    Masker
Masker harus dikenakan bila diperkirakan ada percikan atau semprotan dari darah atau cairan tubuh ke wajah. Selain itu, masker menghindarkan perawat menghirup mikroorganisme dari saluran pernapasan klien dan mencegah penularan kuman patogen dari saluran pernapasan perawat ke klien.
Masker yang dipakai dengan tepat terpasang pas nyaman di atas mulut dan hidung sehingga kuman patogen dan cairan tubuh tidak dapat memasuki atau keluar dari sela-selanya.
Langkah-langkah penggunaan masker :
·       Ambil bagian atas masker (biasanya sepanjang tepi tersebut ada stip motal yang tipis).
·       Pegang masker pada 2 tali atau ikatan bagian atas belakang kepala dengan tali melewati atas telinga.
·       Ikatkan dua tali bagian bawah masker sampai ke bawah dagu.
·       Dengan lembut jepitkan pita motal bagian atas pada batang hidung.
c.    Gaun / baju pelindung
Gaun / baju pelindung atau jubah atau celemek, merupakan salah satu jenis pakaian kerja. Seperti diketahui bahwa pakaian kerja dapat berupa seragam kerja, gaun bedah, jas laboratorium dan celemek.
Tujuan pemakaian gaun pelindung adalah untuk melindungi petugas dari kemungkinan genangan atau percikan darah atau cairan tubuh lain yang dapat mencemari baju atau seragam.
Adapun jenis gaun pelindung tersebut ada berbagai macam bila dipandang dari berbagai macam aspeknya, seperti gaun pelindung tidak kedap air dan gaun pelindung kedap air, gaun pelindung steril dan non steril.
Gaun pelindung steril dipakai oleh ahli bedah dan para asistennya pada saat melakukan pembedahan sedang gaun pelindung non-steril dipakai di berbagai unit yang berisiko tinggi, misalnya pengunjung kamar bersalin, ruang pulih di kamar bedah, ruang rawat intensif (ICU), rawat darurat dan kamar bayi.
Gaun pelindung dapat dibuat dari bahan yang dapat dicuci dan dapat dipakai ulang (kain), tetapi dapat juga terbuat dari bahan kertas kedap air yang hanya dapat dipakai sekali saja (disposable). Gaun pelindung sekali pakai ini biasanya dipakai dalam kamar bedah, karena lebih banyak terpajan cairan tubuh yang dapat menyebabkan infeksi.
Gaun pelindung kedap air dapat pula dibuat dari bahan yang dapat dicuci melalui proses dekontaminasi dan dapat dipakai ulang. Seperti misalnya plastik. Biasanya dipakai sebagai pelapis di bagian dalam gaun pelindung steril tidak kedap air, untuk mencegah tembusnya cairan tubuh kepada pemakai atau untuk keperluan lain, seperti misalnya pada saat membersihkan luka, melakukan irigasi, melakukan tindakan drainase, menuangkan cairan terkontaminasi ke dalam lubang pembuangan WC atau toilet, mengganti pembalut, menangani pasien dengan pendarahan masif, melakukan tindakan bedah termasuk otopsi, perawatan gigi, dan sebagainya.
Sebaiknya setiap kali bertugas, tenaga kesehatan selalu memakai pakaian kerja yang bersih, termasuk gaun pelindung atau celemek. Gaun pelindung harus segera diganti bila terkena kotoran, darah atau cairan tubuh.
Tata cara penggunaan gaun pelindung :
Ø Lepaskan jam tangan anda dan letakkan di sisi yang bersih dari handuk kerja yang terbuka.
Ø Cuci tangan anda.
Ø Gaun dapat dipakai sendiri oleh pemakai atau dipakaikan oleh orang lain.
Ø Kenakan gaun pelindung dengan memasukkan kedua lengan ke dalam lengan baju.
Ø Selipkan jari-jari anda di bawah dalam tali leher baju dan tarik tali-tali tersebut ke belakang. Ikat tali leher tersebut dengan simpul yang sederhana.
Ø Raihlah bagian belakang dan tarik sisi gaun sehingga seragam anda tertutup seluruhnya. Ikat tali pinggang dengan simpul sederhana.
3.  Pencegahan luka tusukan jarum dan benda tajam lainnya
            Dalam mencegah luka tuuskan jarum dan benda tajam lainnya, maka seorang perawat harus berhati-hati dalam melakukan
a.    Memegang jarum, pisau, dan alat-alat tajam lainnya.
b.    Bersihkan alat-alat yang telah digunakan.
c.    Buang jarum dan alat-alat tajam lainya yang telah digunakan.
4. Kebersihan pernapasan dan etika batuk
Seseorang dengan gejala gangguan napas harus menerapkan langkah-langkah pengendalian sumber dengan cara tutup hidung dan mulut saat batuk/bersin dengan tisu dan masker, serta membersihkan tangan setelah kontak dengan sekret saluran napas.
Fasilitas pelayanan kesehatan harus:
a.    Menempatkan pasien dengan gejala gangguan pernapasan akut setidaknya 1 meter dari pasien lain saat berada di ruang umum jika memungkinkan.
b.    Letakkan tanda peringatan untuk melakukan kebersihan pernapasan dan etika batuk pada pintu masuk fasilitas pelayanan kesehatan.
c.    Pertimbangkan untuk meletakkan perlengkapan/ fasilitas kebersihan tangan di tempat umum dan area evaluasi pasien dengan gangguan pernapasan.
5. Kebersihan Lingkungan
Gunakan prosedur yang memadai untuk kebersihan rutin dan disinfeksi permukaan lingkungan dan benda lain yang sering disentuh.

6. Linen
Penanganan, transportasi, dan pemrosesan linen yang telah dipakai dengan cara:
a.    Cegah pajanan pada kulit dan membran mukosa serta kontaminasi pada pakaian.
b.    Cegah penyebaran patogen ke pasien lain dan lingkungan.
7. Pembuangan Limbah
a.    Pastikan pengelolaan limbah yang aman.
b.    Perlakukan limbah yang terkontaminasi darah, cairan tubuh, sekret, dan ekskresi sebagai limbah infeksius, berdasarkan peraturan setempat.
c.    Jaringan manusia dan limbah laboratorium yang secara langsung berhubungan dengan pemrosesan spesimen harus juga diperlakukan sebagai limbah infeksius.
d.    Buang alat sekali pakai dengan benar.
8. Peralatan perawatan pasien
a.    Peralatan yang ternoda oleh darah, cairan tubuh, sekret, dan ekskresi harus diperlakukan sedemikian rupa sehingga pajanan pada kulit dan membran mukosa, kontaminasi pakaian, dan penyebaran patogen ke pasien lain atau lingkungan dapat dicegah.
b.    Bersihkan, disinfeksi, dan proses kembali perlengkapan yang digunakan ulang dengan benar sebelum digunakan pada pasien lain.

D. Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah menghilangkan mikroorganisme patogen dan kotoran dari suatu benda sehingga aman untuk pengelolaan selanjutnya dan dilakukan sebagai langkah pertama bagi pengelolaan alat kesehatan habis pakai.
Dekontaminasi bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat kesehatan atau suatu permukaan benda, misalnya HIV, hepatitis dan kotoran lain yang tidak tampak, sehingga dapat melindungi petugas maupun pasien.
            Dekontaminasi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan, yaitu suatu bahan atau larutan kimia yang digunakan untuk membunuh mikroorganisme pada benda mati, dan tidak digunakan untuk kulit dan jaringan mukosa.
Dapat dijumpai berbagai macam desinfektan di pasaran dengan daya kerja masing-masing. Desinfektan yang biasa dipergunakan di negara berkembang seperti Indonesia  adalah larutan klorin 0,5% atau 0,05% sesuai dengan intensitas cemaran dan jenis alat atau permukaan yang akan didekontaminasi.
Kebanyakan alat kesehatan terkontaminasi oleh darah atau cairan tubuh yang membawa berbagai organisme penyakit. Oleh karena itu petugas kesehatan yang bekerja dengan resiko terpajan oleh darah dan cairan tubuh harus menggunakan alat pelindung yang memadai dan melaksanakan prosedur kerja yang meminimalkan resiko pajanan terhadap lapisan mukosa dan kontak parenteral melalui bahan-bahan terkontaminasi.
Sedapat mungkin pemilahan dilakukan oleh sipemakai di tempat segera setelah pemakaian selagi mereka mengenakan alat pelindung yang memadai, seperti misalnya di ruang operasi. Apabila pemilahan harus dilakukan diluar  tempat pemakai maka harus dibatasi pada pemilahan antara alat yang akan diproses lebih lanjut dan alat sekali pakai. Pemilahan meliputi pelepasan alat dari engsel dan kuncinya agar mudah dibersihkan namun harus dijaga agar alat tersebut tetap berada dalam satu bungkus untuk memudahkan pemasangan kembali kala akan digunakan nanti.

E. Sterilisasi
Sterilisasi adalah suatu proses untuk menghilangkan seluruh mikroorganisme dari alat kesehatan termasuk endospora bakteri. Sterilisasi biasanya dilaksanakan di rumah sakit baik secara fisik maupun secara kimiawi. Cara dan zat yang sering digunakan untuk sterilisasi di rumah sakit adalah uap panas bertekanan, pemanasan kering, gas etilin oksida, zat kimia cair. Istilah steril mengandung arti mutlak yang berarti semua bentuk dan jenis mikroorganisme betul-betul musnah. Bila kontak dengan bahan kimia tersebut lebih singkat maka hanya sebagian mikroorganisme saja yang mati dann proses tersebut disebut  proses desinfeksi. Jadi tidak ada istilah ”semi steril”.
Sterilisasi adalah proses pengelolaan suatu alat atau bahan dengan tujuan mematikan semua mikroorganisme termasuk endospora. Sterilisasi adalah cara yang paling aman dan paling efektif untuk pengelolaan alat kesehatan yang berhubungan langsung dengan darah atau jaringan di bawah kulit yang secara normal bersifat steril.
Sterilisasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara fisik dan kimiawi. Sterilasi secara fisik yaitu dengan pemanasan, radiasi, dan filtrasi sedangkan sterilisasi secara kimiawi adalah dengan menggunakan bahan kimia dengan cara merendam (misalnya dalam larutan glutardehid) dan menguapi dengan gas kimia (diantaranya dengan gas etilin oksida).
Pada sterilisasi fisik dengan pemanasan basah (uap panas) bertekanan tinggi (otoklaf) sterilisasi terjadi melalui koagulasi dan denaturasi protein. Perlu diingat bahwa merebus bukan cara untuk sterilisasi melainkan cara untuk desinfeksi. Sterilisasi dengan otoklaf adalah cara yang paling efisien karena suhu yang dicapai melebihi titik didih air, yaitu setinggi 121o C dengan membutuhkan waktu sterilisasi selama 20-30 menit yang dihitung setelah suhu 121o C tercapai. Untuk mengawasi kualitas sterilisasi maka digunakan indikator spora tahan panas seperti bacillus stearothermophilus. Sterilisasi harus dikalibrasi setiap 6 bulan.
Sterilisasi fisik dengan  pemanasan kering  (dryheat) dapat dilakukan dengan menggunakan oven, membakar dan sinar ultraviolet. Sterilisasi terjadi melalui oksidasi dan denaturasi protein. Pada pemanasan dengan oven dibutuhkan panas setinggi 150-170o C dengan waktu yang lebih lama dari otoklaf. Sebagai gambaran untuk mematikan spora dibutuhkan waktu 2 jam dengan suhu 180o C.
Sterilisasi fisik radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar gamma. Namun cara ini tidak sesuai untuk sterilisasi skala kecil seperti rumas sakit. Cara ini hanya cocok digunakan untuk industri besar seperti jarum suntik, semprit sekali pakai, dan alat infus.
Sterilsasi fisik filtrasi dilakukan untuk mensterilkan cairan yang tidak tahan terhadap panas seperti serum, plsama atau vaksin. Sterilisasi ini menggunakan saringan atau filter yang terbuat dari selulosa berpori. Ukuran penyaring untuk sterilisasi adalah 0,22 μm, yang berarti lebih kecil dari bakteri.

F. Tujuan Kewaspadaan Umum / Standar / Universal
Tujuan Kewaspadaan Universal ini adalah mencegah penularan dan penyebaran infeksi dari :
a.    Pasien ke petugas kesehatan
b.    Petugas kesehatan ke pasien
c.    Pasien ke pasien lainnya
d.    Pasien ke keluarga dan pengunjung sarana kesehatan lainnya.







DAFTAR PUSTAKA
Budiarto, E. And Anggraeni, D. 2003. Pengantar Epidemiologi Edisi 2, Jakarta: EGC.
Bustan, M.N. ,2006. Pengantar Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Lapau,B. 2007. Prinsip dan Metode Epidemiologi. Jakarta: Uhamka Press.
Murti,B. 1995. Pengantar dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Noor, Nur Nasry. 2008. Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Notoatmodjo, S. 2007. Kesehatan Masyarakat, Ilmu dan Seni, Jakarta , Rineka Cipta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar