Jumat, 27 Mei 2011

ASKEP : Scabies

BAB I

PENDAHULUAN


I.1   Latar Belakang
            Kulit yang menutupi tubuh adalah salah satu organ yang terbesar, sekitar 16 % dari berat badan. Kulit memiliki beberapa fungsi penting yaitu; merupakan sawar yang melindungi organisme terhadap trauma dan pengikisan, organ sensoris taktilnya menerima rangsangan dari lingkungan, dan berperan penting dalam pengaturan suhu dan keseimbangan air. Kulit terdiri dari dua lapisan utama  yaitu, epitel permukaan yang disebut epitel epidermis dan lapisan ikat dibawahnya, dermis atau corium.
            Scabies merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh Tungau Sarcoptes Scabie tipe humanus yang merupakan sejenis family Anthropoda yang benyak menyerang pada orang-orang yang hidup dengan kondisi  hygiene dibawah standard dan orang-orang yang seksual aktif atau  hubungan seksual yang sifatnya promiskuitas ( dengan siapa saja, tidak memilih – milih ), sosial ekonomi rendah, kesalahan diagnosis, dan perkembangan demografik serta ekologik. Sarcoptes Scabiei menginvasi kulit pada bagian epidermis tepatnya pada Scratum Corneum. Dimana lapisan ini merupakan lapisan sel  yang  sangat gepeng penuh keratin tanpa inti tanpa organel sitoplasma. Pada sel-sel lapisan Scratum Corneum saling melekat erat dengan dermosom yang telah dimodifikasi. Pada lapis-lapis luar Scratum Corneum yang telah mengalami kereatinisasi sempurna, sel-selnya akan mati, melonggar dan akhirnya akan dilepaskan.Sarcoptes Scabie masuk kedalam Scratum Corneum membentuk kanali kulit  atau terowongan yang lurus atau berkelok-kelok sepanjang 0,6-1,2 cm, sehingga penyakit ini menimbulkan rasa gatal dan eksema yang disebabkan oleh garutan.
            Scabies atau Kudis dapat menyerang  dan paling banyak ditemukan pada anak-anak terutama dibawah usia 15 tahun. Scabies ini juga sering menjangkit dikomunitas yang padat, pusat asuhan-asuhan, asrama dan panti-panti.
            Tempat – tempat predileksinya yaitu ; sela – sela jari tangan, pergelangan tangan bagian dalam, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae ( wanita ), pusat, bokong, alat kelamin luar ( pria ) dan perut bagian bawah.  Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
I.2   Rumusan Masalah
            Berdasarkan latar belakang diatas untuk mengetahui lebih lanjut tentang penyakit Scabie, maka kami menyusun rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Menjelaskan tentang pengertian penyakit Scabie.
  2. Menjelaskan tentang penyebab dan gejala penyakit Scabies.
  3. Menjelaskan tentang patofisiologi penyakit dan komplikasinya.
  4. Menyusun askep pada klien dengan masalah Scabies.






BAB II
PEMBAHASAN

II.1   Pengertian
            Scabies adalah penyakit kulit yang mudah menular yang disebabkan oleh infestasi tungau (kutu) yang berada dalam Stratum Corneum kulit terutama pada tempat predileksinya.
II.2   Etiologi
            Timbulnya Scabies di dahului oleh infestasi kutu Sarcoptes Scabie Var Hominis yang membuat terowongan pada Stratum Corneum.
II.3   Patofisiologi
            Kelainan kulit disebabkan oleh masuknya tungau Sarcoptes Scabie Var Hominis kedalam lapisan kulit. Tungau betina yang dewasa akan membuat terowongan pada lapisan superficial kulit dan berada di sana selama sisa hidupnya. Dengan rahang dan pinggir yang tajam dari persendian kaki depannya, tungau tersebut akan memperluas terowongan dan mengeluarkan telurnya 2-3 butir sehari selama 2 bulan. Kemudian kutu betina tersebut akan mati. Larva atau telur menetas dalam waktu 3-4 hari dan berlanjut lewat stadium larva serta nimfa menjadi bentuk tungau dewasa dalam tempo sekitar 10 hari. Sedangkan tungau jantan mati setelah kovulasi. Kelainan yang timbul di kulit tidak hanya disebabkan oleh tungau Scabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan karena merasa gatal, sehingga dapat menimbulkan infeksi sekunder. Gatal disebabkan oleh sensitisasi terhadap cairan yang dikeluarkan oleh tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papula, vesikel, urtikaria, dll. Dengan garukan dapat menimbulkan erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder.
            Cara penularan dari jenis tungau ini dapat melalui kontak langsung antara kulit dengan kulit misalnya dengan berjabat tangan, tidur bersama dan hubungan seksual dan juga kontak tak langsung (melalui benda seperti pakaian, handuk, seprei, bantal, dll).
II.4   Gejala Klinis
            Gejala yang dapat ditimbulkan pada penyakit Scabies adalah gatal pada malam hari karena aktivitas tungau yang lebih lembab dan panas. Bintik-bintik yang panas yang menonjol berwarna kemerah-merahan dan bernana jika terinfeksi. Adanya terowongan pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan,terbentuk impetigo dan purunkulosis, ditemukannya papul, vesikel, urtika. Pada daerah garukan dapat timbul erosi, ekskresi, krusta dan infeksi sekunder.
II.5   Komplikasi
            Komplikasi yang mungkin timbul pada penyakit Scabies adalah :
v  Pioderma
v  Furunkulosis
v  Impetigo
II.6   Pengkajian
            Pada penyakit Scabies dapat ditemukan hasil pengkajian sebagai berikut :
  1. Pemeriksaan fisik
1.       Bengkak / gelembung halus pada kulit
2.       Rasa gatal yang hebat dan panas pada malam hari / pruritus nocturna
3.       Kulit bintik kemerah-merahan
4.       Terbentuk terowongan berwarna putih / keabu-abuan berbentuk garis lurus pada Stratum Corneum
5.       Pustula, ekskoriasis.
  1. Pemeriksaan penunjang
Ditemukan tungau melalui biopsieksisional dengan pewarna HE.
II.7   Diagnosa Keperawatan
1)       Nyeri b/d lesi kulit, pruritus nocturnal.
2)       Kerusakan integritas kulit b/d penggarukan pruritus.
3)       Gangguan citra tubuh b/d persepsi penampilan.
4)       Gangguan istirahat tidur b/d rasa gatal pada malam hari.
5)       Kecemasan orang tua dan anak b/d kondisi  penyakit klien, reaksi hospitalisasi.
6)       Kerusakan interaksi sosial b/d isolasi dari teman sebaya.
II.8   Intervensi Keperawatan
1)       Nyeri b/d lesi kulit, pruritus nocturnal.
Kriteria hasil :
             - Klien menunjukan nyeri berkurang dan terkontrol.
             - Terlihat rileks dan dapat tidur/istirahat.
a.       Kaji tingkat nyeri dengan skala 0-10.
R/ : Memudahkan perawat dalam menentukan tingkat nyeri.
b.       Catat lokasi dan factor-faktor pencetus.
       R/ : Membantu dalam menentukan kebutuhan manajemen nyeri dan keefektifan asuhan.
c.       Gunakan terapi bermain, relaksasi sesuai usia dan kondisi.
R/ : Mengalihkan perhatian terhadap nyeri sehingga nyeri berkurang.
d.       Biarkan klien untuk mengambil posisi yang nyaman pada waktu tidur/ duduk.
R/ : Pemberian posisi yang nyaman membantu klien untuk berelaksasi.
2)       Kerusakan integritas kulit b/d penggarukan pruritus.
Kriteria hasil :
- Menunjukan regenerasi jaringan.
- Mencapai penyembuhan tepat waktu pada area luka.
a.       Lakukan program terapeutik sesuai ketentuan atau dukungan dan bantu orang tua dalam melakukan rencana pengobatan.
R/ : Untuk meningkatkan pemulihan kulit.
b.       Kaji kulit setiap hari, catat warna, turgor, sirkulasi dan sensasi gambaran lesi dan amati perubahan.
R/ : Memberikan informasi dasar tentang sirkulasi pada area graft.
c.       Jaga agar pakaian dan linen tetap bersih dan kering.
R/ : Untuk meminimalkan ekskoriasis dan infeksi kulit.
d.       Jaga agar kuku tetap pendek dan bersih.
 R/ : Untuk meminimalkan trauma dan infeksi sekunder.
e.       Berikan pakaian yang tipis, longgar dan tidak mengiritasi.
R/ : Panas yang berlebihan dapat meningkatkan rasa gatal.
f.        Anjurkan klien untuk mandi air hangat dan menggunakan sabun yang tidak mengiritasi.
R/ : Untuk meningkatkan personal hygiene, meminimalkan rasa gatal.
g.       Berikan obat topical  sesuai indikasi  dan anjurkan kepada klien untuk tidak mandi selama pengobatan (24 jam).
- Gamecsan atau benzyl benzoat
      - Vaselin, lindane
                    R/ : Obat diatas membantu untuk mengontrol lesi/gatal.
3)       Gangguan citra tubuh b/d persepsi penampilan.
Kriteria hasil :
- Klien menunjukan citra diri yang positif.
a.       Dorong anak untuk mengekspresikan perasaan tentang penampilan pribadi dan reaksi yang dirasakan dari orang lain.
R/ : Untuk memfasilitasi koping pada anak.
b.       Diskusikan bersama anak dan orang tua tentang perbaikan kondisi kulit.
R/ : Untuk memberikan harapan pada anak.
c.       Ajarkan perawatan diri yang tepat.
R/ : Untuk mendorong rasa keadekuatan.
d.       Bantu anak memperbaiki penampilan (pakaian yang bersih).
R/ : Untuk meningkatkan citra diri yang positif.
4)       Gangguan istirahat tidur b/d rasa gatal pada malam hari.
Kriteria hasil :
- Klien melaporkan perbaikan dalam pola tidur.
- Mengungkapkan peningkatan rasa sejahtera dan segar.
a.       Tentukan kebiasaan tidur dan perubahan yang terjadi.
              R/ : Mengkaji perlunya dan mengidentifikasi intervensi yang tepat.
b.       Berikan tempat tidur yang nyaman, pertahankan agar seprei tetap bersih, kering dan tidak berkerut.
             R/ : Meningkatkan kenyamanan tidur serta dukungan fisiologis/psikologis dan gatal      kulit disebabkan oleh kain lembab menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi.
c.       Intruksikan tindakan relaksasi dan kurangi kebisingan.
             R/ : Membantu menginduksi tidur, menciptakan situasi yang kondisif untuk tidur.
d.       Tingkatkan regrigmen kenyamanan waktu tidur, misalnya mandi air hangat, minum segelas susu hangat.
             R/ : Meningkatkan efek relaksasi.
5)       Kecemasan orang tua dan anak b/d kondisi penyakit klien, reaksi hospitalisasi.
Kriteria hasil :
- Orang tua dan anak menunjukan kecemasan yang minimal.
- Klien menunjukan keterampilan pemecahan masalah dan menggunakan koping yang efektif.
a.       Berikan penjelasan dengan sering dan informasi tentang prosedur perawatan.
R/ : Menurunkan ketakutan dan ansietas, memperjelas kesalahan konsep dan meningkatkan kerja sama.
b.       Anjurkan orang tua untuk selalu berada disamping anak.
R/ : Mempertahankan kontak dengan realitas keluarga, membuat rasa kedekatan dan kesinambungan hidup.
c.       Berikan permainan yang menarik kepada anak selama tidak bertentangan dengan pengobatan dan perawatan.
R/ : Dengan permainan dapat mengurangi ketakutan dan kecemasan sewaktu dilaksanakan asuhan keperawatan.
d.       Libatkan keluarga/ orang tua klien dalam setiap tindakan.
R/ : Meningkatkan partisipasi orang tua terhadap tindakan keperawatan di harapkan dapat mengurangi ansietas.
e.       Gunakan komunikasi terapeutik, kontak mata, sikap tubuh dan sentuhan.
R/ : Dapat meningkatkan rasa percaya diri pada anak dan meminimalkan ansietas.
6)       Kerusakan interaksi sosial b/d isolasi dari teman sebaya.
Kriteria hasil :
- Pasien memahami alasan isolasi
- Pasien mempunyai kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas yang tepat.
a.       Jelaskan alasan pengisolasian dan penggunaan kewaspadaan khusus.
R/ : Untuk meningkatkan pemahaman anak tentang pembatasan.
b.       Sebelum melakukan tindakan perkenalkan diri pada anak.
R/ : Menjalin hubungan kedekatann dan meningkatkan harga diri anak.

c.       Siapkan teman sebaya anak untuk perubahan penampilan fisik.
R/ : Untuk mendorong penerimaan teman sebaya.




















BAB III
PENUTUP
           
III.1   Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari makalah ini adalah :
1.           Scabie (the itch, gudik, budukan, gatal agogo) adalah penyakit yang disebabkan oleh Sarcoptes  Scabiei Var Hominis yang menyerang pada Stratum Corneum dan membuat terowongan di dalam kulit yang menimbulkan rasa gatal yang hebat dan panas terutama pada malam hari.
2.           Tempat predileksinya adalah : sela,sela jari tangan, pergelangan tangan, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola mammae, pusat, bokong, alat kelamin luar pria, perut bagian bawah, pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
3.           Cara penularannya adalah melalui kontak langsung yaitu kulit dengan kulit misalnya berjabat tangan, tidur bersama, hubungan seksual dan kontak tak langsung yaitu melalui benda misalnya pakaian, handuk, sprei, bantal, dll.
4.           Penyakit Scabies dapat di obati dengan menganjurkan klien untuk mandi air hangat dan menggunakan sabun yang tidak iritatif kemudian mengoleskan obat topical, gameksan dalam bentuk krim atau lotion. Bila tidak tersedia bisa diganti dengan benzyl benzoate 10-20 %, diberikan pakaian bersih dan dilarang mandi selama 24 jam atau selama penggunaan obat.
5.           Penyakit ini dapat diberantas dan prognosisnya baik bila pilihan obat dan cara pemakaian tepat, factor predisposisi dihilangkan (personal hygiene ditingkatkan).
III.2   Saran
            Melalui makalah ini, diharapkan dapat memberikan sumbangsih pengetahuan mengenai Scabies dan penatalaksanannya (asuhan keperawatan yang profesional ).

      
           













DAFTAR PUSTAKA

1.           Adam A. M. Dr. Sp. Kk. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Makassar. 2002.
2.           Arif Mansjoer, dkk.Kapita Selekta Kedokteran Edisi 4 Jilid 2.  Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI. Jakarta. 2000

3.           Brunner dan Suddarth. Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 .Vol. 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta. 2001.

4.           Donna L Wong, Pedoman klinis perawatan pediatric, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta, 2004.

5.           http://www.eramoslem.com/ks/ks/53/17448,1,v.html.


8.           http://spellster.com/s/scabies.
10.       http://www.iptek.net.id/ind/cakra_obat/tanamanobat.php?id=111
11.       Marilynn E. Doenges, dkk. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. EGC. Jakarta. 1999.
12.       Staf Pengajar Ilmu Keperawatan Anak FK-UI, Ilmu Kesehatana Anak. IU- Press. Jakarta.1985.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar